
Setelah selesai membuka semua kancing kemeja milik Tita, Boy segera melepaskan dan melempar kemeja itu dengan asal, dan saat ini ia harus bersusah payah menelan salivanya saat menatap tubuh putih dengan dua gundukan yang tertutup bra milik gadis yang berada di bawahnya.
Dan tak mau berhenti sampai disitu, dengan cekatan tangannya meloloskan rok yang dikenakan Tita, hingga membuat tubuh gadis itu kini hanya berbalut bra dan benda segitiga di pusat intinya, membuat napas Boy semakin memburu karena miliknya kini sudah semakin mengeras.
"B berhenti! Kau tidak boleh melakukannya karena kau tidak mencintainya, ingat! Sekali kau menyentuh gadis itu maka selamanya kau akan terjebak bersama Tita." Batin Boy mulai mengingatkan saat menatap wajah Tita yang terlihat sudah sangat pasrah. "Oh come on B, kau tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini bukan? Kau bisa merasakan nikmatnya bercinta dan setelah itu kau bisa mencampakkannya sama seperti wanita lainnya yang pernah kau ajak bersenang-senang." Satu sudut hatinya yang lain ikut bersuara.
Layaknya seperti di sebuah film-film kini malaikat dan iblis yang berwujud Boy Arbeto, tengah bergulat hebat dengan berbisik di telinga pria itu.
"B kau kenapa?"
Tita mengerutkan keningnya saat melihat Boy hanya diam saja dengan mata yang menatap lekat kearahnya, dengan cepat Tita menutup bagian atas dan bawahnya dengan ke-dua tangannya karena merasa malu.
Boy tidak menjawab pertanyaan Tita, ia mengangkat tubuhnya menjauh dari tubuh gadis itu lalu duduk di pinggir ranjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar, ia sangat frustasi dengan situasi yang dialaminya saat ini. Di satu sisi miliknya yang begitu sangat tegang meminta untuk segera dipuaskan, namun di satu sisi yang lainnya Boy tidak ingin sampai terikat selamanya dengan Tita hanya karena menyentuh gadis itu, karena sejak awal Boy menikahi Tita sudah berencana untuk menceraikan gadis itu setelah satu tahun pernikahan mereka.
Maka dari itu Boy tidak bisa menyentuh Tita, karena selain ia tidak ingin melanggar janjinya yang hanya akan menyentuh wanita yang dicintainya, Boy juga tidak ingin hidupnya terjebak bersama dengan gadis gila itu.
Sementara itu Tita yang bingung dengan perubahan sikap Boy, yang terkesan sangat dingin langsung duduk di samping pria itu.
"Em .. B, apa kita sudah selesai bercinta?" tanya Tita dengan wajah yang memerah karena menahan malu.
"Tapi kenapa berbeda dengan yang Tita lihat di dalam video, karena mereka itu sampai—"
"Diam, Tit!" sentak Boy, menatap tajam Tita yang duduk disebelahnya.
"B kau itu kenapa sih? Aku hanya bertanya sesuatu, kenapa kau marah seperti itu." Gerutu Tita.
"Diam dan keluar dari kamarku!" Boy mendorong tubuh Tita.
"Ah ..."
Tita yang tidak sempat untuk menghindar saat di dorong, akhirnya terjatuh begitu saja dari atas tempat tidur.
"B kau jahat!" teriak Tita dengan wajah yang kesal. "Salah aku apa sampai di dorong seperti itu?" Tita berdiri lalu menatap nyalang kearah pria yang masih duduk ditepi tempat tidur. "Kau tahu? Kau sangat keterlaluan! Kau mencuri my first kissing, dan sekarang kau justru mendorongku hingga terjatuh dari atas tempat tidur." Tita menumpahkan semua kekesalan yang ada dihatinya.
Boy menghela napasnya saat sadar perbuatannya sudah sangat keterlaluan, tapi ia melakukan semua itu karena ingin Tita segera keluar dari kamarnya, sebelum kesadarannya menghilang dan menerkam gadis itu.