
Beberapa saat kemudian.
Setelah semua orang selesai menyantap makan malam yang dihidangkan oleh sang pemilik Mansion, mereka kini mengobrol dengan santai sembari menikmati minuman yang tersedia di atas meja.
Para tamu undangan pria tampak membaur jadi satu, mereka saling bertukar informasi seputar bisnis dan yang lainnya. Sedangkan para tamu wanita tampak asik bergosip seputar kehidupan sehari-hari mereka.
"Tita boleh aku bertanya sesuatu?"
Satu detik .. dua detik .. hingga berubah menjadi menit, Kejora tidak mendengar sahutan dari Tita, ia pun langsung menatap kearah wanita yang duduk di sampingnya.
Kejora melihat wanita itu sedang melamun, dengan tatapan mata yang mengarah pada Boy dan juga Eve yang sedang asik berbincang bersama dengan kerabat Mars yang lainnya.
"Tita kau mendengarku?" Kejora menepuk lengan wanita itu.
Membuat sang pemilik tangan terkejut dan langsung menatap kearah samping.
"Maaf, tadi Kak Kejora berkata apa?" tanya Tita dengan senyum kaku diwajahnya.
Ia merasa tidak enak hati karena ketahuan tidak mendengar perkataan Kejora.
"Aku tadi berkata, apa boleh aku bertanya sesuatu padamu?" Kejora mengulangi pertanyaannya.
"Oh .. tentu saja boleh, apa yang ingin kakak tanyakan?"
Deg
Kejora terdiam dengan kening yang berkerut, ia tampak mengingat-ingat apa yang tadi ingin ditanyakan olehnya.
"Em .. apa ya? Aku lupa ...." Seloroh Kejora dengan tawa dibibirnya.
Tita yang tadinya diam ikut tertawa dengan lepas, saat melihat ekspresi wajah Kejora yang hampir sama dengan dirinya saat ia juga melupakan sesuatu.
"Tujuh bulan." Kejora mengusap perutnya dengan perlahan.
"Boleh aku memegangnya?" Tita penasaran bagaimana rasanya menyentuh perut yang terlihat membulat seperti balon yang besar.
"Tentu saja." Kejora menarik tangan Tita lalu menaruh di perutnya.
"Apa ini sudah ada isinya?" Kejora balik bertanya sembari menyentuh perut datar milik Tita.
"Sudah dong isinya ada steak, salad, dan buah." Tita mengusap perutnya yang terasa sangat kenyang setelah makan malam tadi.
Kejora yang mendengar jawaban Tita sontak tertawa sembari menggelengkan kepalanya, ia kini percaya pada perkataan Mars dan Agam yang mengatakan bahwa wanita muda yang dinikahi oleh Boy, adalah seorang yang sangat polos dan sedikit bodoh.
"Kak Kejora kenapa tertawa?" Tita mengerutkan keningnya.
"Karena kau sangat lucu." Kejora mencubit pipi Tita.
Tita tersenyum tipis lalu matanya menatap kearah Boy Arbeto. "Hanya kak Kejora yang menganggap aku lucu, sedangkan yang lainnya menganggap aku bodoh dan gila."
Tita masih menatap kearah Boy yang terlihat tersenyum saat berbicara dengan kak Eve, membuat dadanya terasa sesak mengingat suaminya bahkan belum pernah sekalipun tersenyum saat berbicara dengannya.
Kejora yang melihat Tita terdiam sembari menatap Boy, hanya bisa menghela napasnya dengan kasar. Ia sangat tahu bagaimana rasanya menjadi seorang istri yang tidak dianggap oleh suaminya, karena ia juga pernah diposisi tersebut saat awal-awal pernikahan dirinya dengan Mars.
Dan beruntungnya Kejora yang menikah dengannya adalah Mars Graham, yang nota bene masih sedikit lebih mudah ditaklukkan dengan segala drama yang ia buat sampai harus melarikan diri dari suaminya.
Tapi yang dihadapi oleh Tita tidaklah mudah, karena yang dinikahinya adalah seorang Boy Arbeto yang memiliki sifat Arrogant, menyebalkan, egois, dan yang paling minus diantar semuanya adalah sifat Casanova tingkat dewa yang dimiliki sepupu suaminya itu.
"Yang mengatakan kau bodoh suatu saat akan menyesal, karena wanita sepertimu itu sangat unik." Ucap Kejora seperti berbicara untuk dirinya sendiri, karena jujur saja melihat Tita mengingatkannya pada dirinya saat seusia wanita itu.