Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 60


Tap .. tap .. tap ...


Suara sepatu yang beradu dengan lantai, membuat suasana di ruang tengah markas Tim Delta yang begitu mencekam, semakin membuat orang yang berada di dalamnya menjadi tegang.


"Tuan kenapa?" bisik Alex pada Liam, karena sejak tadi tuan nya itu berjalan mondar-mandir di ruangan tersebut.


"Mana aku tahu." Liam mengangkat kedua bahunya. "Sejak di kantor tadi Tuan B sudah marah-marah tidak jelas." Terang Liam.


"Argh ...." Boy berteriak sambil mengacak-acak rambutnya.


Membuat Liam dan Alex semakin menegang, mereka takut menjadi pelampiasan amarah dari seorang Boy Arbeto.


"B kau itu kenapa?"


Agam yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya, kini menatap sepupunya yang terlihat bingung dan sedikit frustasi.


Boy hendak mengatakan sesuatu yang sejak tadi mengganjal di pikirannya pada Agam, namun niat itu diurungkannya saat melihat ada Alex dan juga Liam di antara mereka.


"Lia, Alex kalian keluar dari ruangan ini!" perintah Boy.


"Baik Tuan."


Dengan penuh semangat Liam dan Alex segera melangkahkan kaki mereka, bagi Liam dan Alex lebih baik mereka tidak berada di ruangan itu dari pada menjadi sasaran kemarahan seorang Boy Arbeto.


"Tunggu!"


Liam dan Alex menghentikan langkah mereka bersamaan, lalu menatap kebelakang dengan harap-harap cemas.


"Bawa semua anggota Delta keluar dari markas ini!"


"Hah ...." Liam dan Alex saling menatap.


"Semua?" tanya Liam dengan sangat hati-hati.


"Kami mengerti Tuan." Jawab Liam dan Alex.


Mereka saling menatap lalu tersenyum penuh arti, jarang-jarang anggota Delta diijinkan keluar dari markas di saat jam kerja, membuat otak Liam dan Alex merencanakan untuk membawa mereka ke club yang sering mereka datangi.


Melihat gelagat tidak beres dari kedua anak buahnya, membuat Boy menarik satu sudut bibirnya. "Aku tahu rencana kalian." Ucap Boy dengan sorot mata yang tajam, membuat Liam dan Alex langsung menatap kearah tuan mereka.


"Rencana?" Liam dan Alex berpura-pura tidak tahu arah pembicaraan tuan nya. "Kami tidak punya rencana apa pun, Tuan."


"Ck, aku itu mengenal kalian bukan satu atau dua tahun, jadi aku tahu apa yang ada di otak kecil kalian itu." Boy menyunggingkan senyum sinisnya.


Sontak perkataan Boy Arbeto membuat Liam dan Alex mati kutu, dan tidak bisa lagi berkelit.


"Aku perintahkan kalian dan anggota Delta keluar dari markas, itu artinya kalian hanya perlu keluar dari pintu itu!" Boy menunjuk pintu keluar. "Dan kalian tunggu di luar sampai aku selesai berbicara dengan A."


"Ja-jadi kami menunggu di luar markas?" tanya Alex.


Boy menganggukkan kepalanya.


"Tapi Tuan, jika Anda hanya ingin berbicara berdua dengan Tuan A kenapa tidak pindah ke ruang kerja saja? Jadi kami tidak perlu menunggu—" perkataan Liam menggantung di udara saat melihat tatapan tajam dari kedua mata tuan nya.


"Lia berani kau memerintah ku?" geram Boy.


"Ti-tidak tuan, aku hanya—" Liam menundukkan kepalanya. "****! Inilah resikonya mempunyai atasan yang pintar dan juga galak." Umpat Liam dalam hati.


"Kenapa kalian berdua masih disini? Cepat keluar!"


"Baik Tuan." Ucap Liam dan Alex lalu berjalan menuju ruang anggota Delta sambil menghela napas mereka dengan berat.


Membayangkan berdiri di luar markas bersama anggota Tim Delta, ditengah dinginnya angin malam membuat Liam dan Alex mengumpat tuan mereka dengan semua nama-nama binatang yang ada dimuka bumi ini.