Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 74


"B .. Tita lelah sekali."


Wanita itu mengusap buliran keringat yang ada di keningnya, wajahnya sudah memerah karena rasa kesal bercampur lelah yang sejak tadi mendera tubuhnya.


"Kau jangan mengeluh terus, cepat selesaikan!"


Boy memperhatikan gerak tubuh Tita yang sedang membersihkan meja, tatapan matanya beralih menatap wajah wanitanya yang terlihat semakin menggairahkan dengan peluh yang membasahi wajah cantiknya.


"Aku harus memberikan Liam bonus karena sudah berhasil membuat apartemenku berantakan, dan membawakan apa yang aku minta."


Boy terus memperhatikan wajah Tita dengan seringai tipis dibibirnya.


Argh ...


Tita melempar asal lap yang sedang dipegangnya, hingga membuat Boy terkejut dan langsung berdiri.


"Aku sudah lelah, B" Ketus Tita dengan raut wajah yang dipenuhi oleh amarah.


Ia tidak menyangka jika apa yang dibayangkannya tidak seindah kenyataannya, tadinya Tita berpikir Boy akan memberikan hukuman ***-*** padanya, mengingat betapa ganas ciuman yang dilakukan suaminya itu pada saat di dalam mobil.


Tapi kini semua itu hanya tinggal sebuah angan-angan, saat pria itu justru memberikan hukuman padanya untuk membersihkan apartemen mereka yang tiba-tiba saja berantakan seperti kapal pecah.


Tita sampai tidak habis pikir bagaimana bisa apartemen mereka berantakan seperti itu? Padahal mereka hanya pergi selama dua hari, dan sewaktu Tita terakhir keluar dari apartemen seluruh ruangan itu bersih dan rapih.


"Kau mau kemana?" Boy menarik tangan Tita yang hendak pergi dari ruangan. "Kau tidak boleh pergi sebelum menyelesaikan hukumannya!"


"Hukuman? Hukuman? Memangnya Tita berbuat salah apa?" tanya Tita dengan kening yang berkerut dan wajah yang bingung.


Pletak


Boy menjitak kepala Tita.


"Kau itu lupa? Atau pura-pura lupa?"


"Kau berbuat salah karena sudah berani berdekatan dengan A, bukankah sudah aku katakan berulang kali! Aku tidak suka jika milikku disentuh oleh orang lain." Geram Boy saat mengingat bagaimana wanita itu bercengkrama dengan Agam begitu intens.


"Tapi aku tidak disentuh oleh A, dan kami hanya mengobrol dan—"


"Bagiku itu sama saja." Boy menyela ucapan Tita. "Cepat rapihkan ruangannya!" perintah Boy.


"Aku lelah B." Tita menatap tangannya. "Lihat! Tanganku saja sudah seperti ini." ia menatap ke-dua tangannya yang terlihat berkeriput karena kelamaan terkena sabun cuci piring dan air, dan jangan lupakan dua plester yang kini menghias di jari-jari indahnya.


"Baru seperti itu saja kau mengeluh lelah." Boy menghela napasnya dengan kasar.


Boy sudah kehabisan kata-kata dengan sikap dan kelakuan wanita yang ada di hadapannya, selama setengah jam lebih Tita habiskan hanya untuk mencuci piring dan gelas. Bahkan wanita itu sudah memecahkan tiga gelas dan satu piring miliknya saat mencuci tadi.


Dan setelah selesai membersihkan bagian dapur wanita itu justru melempar lap dengan berkata lelah, padahal semua pekerjaan yang dilakukan Tita tidak ada yang benar karena apartemen mereka justru semakin berantakan.


"Dia itu benar-benar wanita yang tidak bisa melakukan apa pun." Gumam Boy.


"Aku benar-benar lelah B, jika kau ingin Apartemenmu bersih tunggu besok saja, Tita akan menyuruh pelayanan di rumah ayah unta untuk kemari dan membersihkannya." Tita hendak berjalan menuju kamarnya.


"Kau mau kemana?" Boy kembali mencengkram tangan Tita.


"Tita ngantuk mau tidur." Ia menghempaskan tangannya lalu berjalan menuju lantai dua.


Namun baru dua langkah kakinya berjalan, ia merasakan tubuhnya seperti melayang di udara.


"B .. apa yang kau lakukan?" Tita begitu ketakutan saat pria itu menggendongnya ala-ala bridal menaiki tangga.


Ia takut jika suaminya itu kehilangan keseimbangan dan membuat mereka terjatuh dari tangga.


"Diam dan jangan banyak bertanya!" Boy menatap tajam mata wanitanya.


"Malam ini tidak akan aku biarkan kau tidur dengan nyenyak." Gumam Boy dengan seringai tipis dibibirnya.