
"Tit ...!" teriak Boy memasuki mansion keluarga Mateo, ia berjalan dengan cepat karena sudah tidak sabar bertemu dengan wanitanya yang tengah mengandung junior B.
Sementara itu Tita yang berada di ruang tengah, langsung bersembunyi di belakang Baby ketika mendengar teriakan dari Boy Arbeto.
"Kak Tita jangan takut, ada aku disini." Ucap Baby dengan raut wajah yang tenang, namun tidak dengan jantungnya yang berdetak dengan kencang karena sebenarnya ia sangat takut jika kakaknya sedang marah.
Agam yang berdiri di samping dua wanita itu hanya bisa menghela napasnya dengan kasar, sembari menahan rasa ingin tertawanya saat mendengar perkataan Baby yang terdengar berani namun tangan wanita itu terlihat gemetaran.
"Tita Anggora ..." teriak Boy saat melihat sosok wanitanya yang berdiri di belakang adiknya.
"Kak jangan mendekat!" ucap Baby saat melihat kakaknya mendekat kearah mereka. "Kak aku bilang jangan mendekat!" sentak Baby.
"Anak kecil menyingkirlah! Kau itu merusak pemandangan saja." Boy terus berjalan mendekati adiknya ingin menatap wajah Tita yang bersembunyi di pundak adiknya.
"Boy Arbeto jika kau mendekat maka hadapi dulu—"
"Menghadapi siapa? Kau?" Boy berhenti tepat di depan adiknya dengan senyum mengejek.
"Tentu saja menghadapi A!" Baby menyeret Agam berdiri di depannya, menjadikan sepupu tampannya itu sebagai tameng bagi dirinya dan kakak iparnya.
"Apalagi ini?" Agam menatap Boy lalu menatap Baby yang ada dibelakangnya.
"A kau jangan diam saja, cepat seret kakakku keluar dari mansionmu!" bisik Baby.
"A menyingkir dari hadapanku!" sentak Boy dengan wajah yang mulai kesal, karena ia datang ketempat ini untuk bertemu dengan wanitanya bukan untuk meladeni sikap Baby dan juga Agam.
"Jangan dengarkan dia, cepat usir kakakku!" pinta Baby.
Agam yang berada ditengah-tengah Boy dan Baby, memilih untuk menyingkir dari kedua kakak beradik itu, membuat Baby terkejut sekaligus kesal.
"Dan kau anak kecil bermainlah dengan Barbie mu, jangan menggangguku!" Boy mentoyor kepala adiknya sampai Baby terhuyung kesamping.
"Terima kasih A kau sudah menyelamatkan aku." Ucap Baby dengan penuh haru.
Membuat Agam menautkan kedua alisnya dengan wajah yang bingung, karena ia merasa diam saja tidak melakukan apapun.
"Baby tanganmu!" Agam menatap sinis saat tangan sepupunya bergerilya di dada bidangnya.
"Eh maaf ..." Baby menurunkan tangannya. "Aku suka lupa diri jika melihat yang berotot." Baby terkekeh geli saat membayangkan tubuhnya dipeluk oleh tangan kekar Agam Mateo. Namun bayangan itu langsung menghilang saat telinganya ditarik dengan paksa.
"Anak kecil tadi kau bilang apa?" Boy menjewer telinga adiknya.
"Aduh sakit ..." Baby menggapai tangan Boy yang mendarat dengan sempurna di telinganya. "Kak lepaskan!" teriak Baby.
"Kau itu masih kecil sudah berpikiran mesum, pulang dan kembalilah ke tempat asalmu!" Boy menurunkan tangannya dari telinga adiknya.
"Ketempat asalku? Memangnya di mana tempat asalku?"
"Di ketiak Mom Luna." Ledek Boy dengan terkekeh geli, mengingat adiknya yang suka sekali bersembunyi dibawah ketiak Mommy nya saat ingin tidur.
"Kakak ..." Baby berteriak dengan wajah yang memerah karena malu.
"A cepat antar adikku ke mansion utama! Karena aku harus mengurus ..." perkataan Boy terhenti saat tidak melihat sosok istrinya di ruangan tersebut.
"Istrimu sudah keluar." Agam menunjuk ke pintu mansion. Tadi ia sempat melihat Tita berjalan mengendap-endap saat Boy dan Baby berdebat.
"****! Kenapa kau diam saja!" umpat Boy sembari berlari menyusul Tita.
Agam dan Baby yang melihat Boy berlari seperti orang kesetanan, serempak menggelengkan kepalanya sembari menghela napas.