Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 105


Setelah perdebatan panjang dan sedikit ancaman yang dilakukan oleh Tita dengan cara melakukan mogok makan, akhirnya Boy mau mengikuti keinginan wanita itu keluar dari Vila dan menikmati liburan mereka dengan berjalan-jalan mengelilingi tempat wisata yang ada di pulau Dewata.


Dengan langkah yang malas dan sesekali mengusap keningnya yang dipenuhi oleh keringat, Boy terus mengikuti Tita yang berjalan keluar masuk tempat penjualan aksesoris yang ada di sekitaran pantai.


"Tit cukup sudah!" Boy menarik tangan Tita yang hendak masuk ke sebuah toko. "Sebenarnya apa yang kau cari? Kenapa sejak tadi kita keluar masuk dari satu tempat ketempat yang lainnya, tanpa satu pun barang yang kau beli." Emosinya sudah tidak bisa ditahan lagi karena rasa lelah ditubuhnya.


Bayangkan saja seorang Boy Arbeto yang sangat jarang menemani para wanitanya pergi jalan-jalan, dan terbiasa hidup dengan menyuruh pelayan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa harus mengeluarkan tenaga, kini mau tidak mau mengikuti seorang Tita Anggora berjalan kesana kemari hingga membuat kakinya lelah.


"Aku tidak mencari apa pun." Jawab Tita dengan santai.


"What? Jadi untuk apa kita dari tadi keluar masuk toko?" tanya Boy dengan geram.


"Hanya untuk lihat-lihat saja." Jawab Tita dengan senyum tipis dibibirnya.


Ia memang sengaja melakukannya untuk mengerjai Boy Arbeto, sebagai hukuman untuk pria itu karena sudah mengurungnya selama tiga hari di dalam Vila.


"Kau ..." Boy yang kesal menarik tangan Tita, dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"B kita mau kemana? Aku kan belum selesai jalan-jalan." Protes Tita.


Namun Boy hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Tita, tatapan matanya lurus ke depan dengan raut wajah yang datar saat mobil mulai berjalan.


*


*


"Wah .. banyak sekali makanannya." Tita menatap semua hidangan yang ada di atas meja.


"Cepat kau makan! Sejak pagi perutmu tidak diisi karena mogok makan." Boy menatap intens wanitanya, dengan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya.


"Ish .. ada angin apa kau berubah begitu perhatian padaku?" Tita mengambil gelas yang berisikan jus orange lalu meminumnya, karena sejak tadi ia merasa kehausan setelah berjalan keluar masuk toko.


Boy mendekatkan wajahnya ke wajah Tita dengan seringai tipis dibibirnya. "Tentu saja aku harus memperhatikan mu, karena aku tidak ingin kau lemah dan tidak ada tenaga saat nanti kita bercinta."


Seketika itu juga Tita menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya, dan tepat mengenai wajah Boy dengan sempurna.


"Tit ...!" Boy menggeram dengan tatapan mata yang tajam.


"Ma-maaf B aku tidak sengaja." Tita mengambil tisu lalu mengusap wajah suaminya yang terkena cipratan air minumnya.


"Sudah hentikan!" Boy yang kesal merebut tisu dari tangan Tita, matanya menatap kearah kemejanya yang sedikit basah. "Kau harus membayar mahal semua ini nanti malam." Bisik Boy lalu beranjak dari tempat duduknya. "Tunggu di sini dan jangan kemana-mana!"


Tita menganggukkan kepalanya sambil menahan rasa ingin tertawanya, setelah melihat pria itu berjalan menjauh dari tempat mereka Tita langsung tertawa terbahak-bahak. Sungguh ia merasa lucu saat melihat wajah tampan, dan dingin, suaminya harus ternoda oleh semburan air minum yang sudah bercampur salivanya.


"B entah mengapa aku semakin mencintaimu, dan aku harap selamanya kau akan bersikap baik dan hangat walaupun hanya di atas ranjang, tapi setidaknya aku merasa begitu disayangi dan diinginkan olehmu." Gumam Tita dalam hati saat teringat percintaan panas mereka, yang dipenuhi oleh kata-kata sayang dari bibir Boy Arbeto.


"Tita ...."


Wanita yang sedang melamun itu langsung terkejut, ketika melihat sosok yang memanggil namanya.