
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan oleh Tita, Boy segera pulang ke Mansion utama dengan membawa beberapa bungkus sate, ada sate Ayam dan juga sate kambing karena ia lupa menanyakan pada Tita sate apa yang diinginkan wanitanya itu.
"Tit ..." Boy masuk ke dalam kamarnya dengan tidak sabaran, ia bersemangat untuk memberikan apa yang diinginkan oleh istrinya karena itu keinginan pertama Tita, alias keinginan pertama anak yang ada di dalam kandungan istrinya. "Tit ini sate ... nya." Boy terdiam saat melihat wanitanya itu sudah terlelap di atas ranjang.
Karena tidak ingin melewatkan momen memenuhi keinginan Tita untuk yang pertama kalinya, Boy pun membangunkan istrinya agar memakan sate yang sudah dibelinya.
"Tit bangun!" Boy menepuk pelan pipi istrinya. "Tit ini sate nya." Ucap Boy dengan lebih keras saat wanitanya itu tidak juga bangun dari tidurnya. "Tita Anggora ...!" teriak Boy.
"Aduh berisik." sentak Tita dengan wajah yang kesal karena tidur nyenyak nya terganggu, dengan gerakan cepat ia menarik selimut sampai keatas kepalanya lalu kembali memejamkan kedua matanya.
Dan apa yang dilakukan Tita sontak membuat Boy terkejut. "Tunggu dulu! Dia membentakku?" Boy yang terkejut sampai membelalakkan kedua matanya, ingin rasanya ia balik memarahi Tita karena sudah berani menyentaknya. Namun semua itu Boy tahan mengingat istrinya itu sedang mengandung calon anaknya. "Sabar." Hanya satu kata itu yang bisa Boy ucapkan dalam hati.
Dan dengan langkah yang gontai Boy kembali keruang makan untuk menaruh sate yang tadi dibelinya.
"Apa itu kak?" tanya Baby saat melihat kakaknya menaruh sesuatu di atas meja makan.
"Sate kalau kau mau makan saja!" Boy berlalu pergi untuk kembali ke kamarnya.
"Serius sate ini untuk aku?" tanya Tita pada kakaknya dengan setengah berteriak.
"Ya ..." sahut Boy.
"Yes!" Baby segera membuka bungkusan tersebut lalu memakan sate yang ada di dalamnya.
"Kau sedang makan apa?" tanya Lea saat melewati ruang makan untuk mengambil air minum.
"Sate, kau mau?" tawar Baby.
"Em boleh juga." Lea ikut duduk di kursi makan dan mulai memakan sate yang ada di atas meja. "Kenapa tidak pakai nasi?" tanya Lea.
"Takut gemuk." Jawab Baby dengan santai sembari terus memakan sate tersebut.
"Kak Lea aku ini makan tidak pakai nasi, jadi —"
"Jadi kau bisa menghabiskan semua sate ini, begitu?" Lea tidak habis pikir dengan kelakuan sepupunya itu. "Sudah ah aku mau kembali ke kamar." Lea segera pergi setelah menghabiskan dua tusuk sate.
"Eh ini habiskan dulu satenya!" ucap Baby.
"Kau saja yang habiskan!" Lea terus berjalan menuju kamarnya dan tidak mempedulikan teriakan Baby.
"Masa aku yang harus menghabiskannya?" Baby menatap dua bungkusan sate yang belum dibuka sama sekali. "Lebih baik aku kasih untuk pelayan saja." Baby lalu memanggil pelayan mansion dan memberikan semua sate tersebut, dan setelah itu ia kembali ke dalam kamar untuk melanjutkan mimpinya yang tadi sempat tertunda karena makan sate.
Namun baru saja sepuluh menit Baby memejamkan kedua matanya, ia harus kembali turun dari atas tempat tidur saat mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Baby dimana sate nya" tanya Boy tanpa basa-basi saat pintu kamar adiknya dibuka.
"Sate?" Baby yang setengah sadar mencoba mencerna pertanyaan kakaknya.
"Sate yang aku berikan tadi! tanya Boy dengan tidak sabaran, karena tadi Tita terbangun dan menanyakan sate pesanannya.
"Oh .. sudah aku makan." Jawab Baby.
"Ck ..." Boy berdecak dengan kesal. "Sisa nya mana? Tidak mungkin kau habiskan semuanya bukan?"
"Sisanya aku berikan ke pelayan." Jawab Baby dengan sedikit kesal, karena kakaknya membangunkan dirinya hanya untuk bertanya tentang sate.
"****!" Boy segera berlari menuju ruang istirahat para pelayan.
"Dia itu kenapa sih?" Baby menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya. Namun baru saja lima menit berlalu, Baby mendengar suara kak Boy berteriak memanggil namanya.