Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 49


"Tit, sekarang keluar dan tunggu aku di ruang tengah! Nanti aku akan menyusul dan kita pulang ke apartemen." Boy berdiri menatap kearah Tita, tanpa bisa mengucapkan kata maaf yang sudah ada di bibirnya


"Tita tidak mau pulang ke apartemen, Tita mau pulang kerumah ayah unta saja dan kau tidak perlu mengantarku." Ketus Tita dengan mata yang berkaca-kaca, lalu berjalan menuju pintu kamar.


"Berhenti Tit!" Boy menahan tangan gadis itu.


"Kau mau apa lagi?" sentak Tita.


"Aku mau apa? Justru aku yang seharusnya bertanya, apa kau akan keluar kamar dengan seperti itu?" Boy menatap tubuh Tita dari atas sampai bawah yang hanya ditutupi oleh dalaman saja.


"Oh ya ampun Tita lupa?" gumam Tita saat menyadari saat ini dirinya hanya mengenakan dalaman saja. "Kalau iya memangnya kenapa?" ucap Tita dengan ketus karena terlanjur malu dan kesal, ia pun hendak berjalan menuju pintu namun lagi-lagi tangannya ditahan oleh Boy Arbeto.


"Berani kau keluar seperti itu, aku akan—" Boy menatap tajam dengan tangan yang terkepal erat.


"Akan apa? Aku tidak takut."


"Tita Anggora!" Boy menarik pinggang Tita dengan kasar lalu mengurung tubuh mungil itu. "Kau jangan macam-macam denganku! Bukankah aku sudah mengatakan apa yang sudah menjadi milikku tidak boleh di sentuh orang lain apa lagi dilihat!" Boy menatap tubuh Tita. "Sial! Padahal tubuh Tita masih tertutup dengan dalaman, tapi kenapa milikku justru semakin mengeras." Umpat Boy dalam hati sambil menahan salivanya dengan susah.


"Lepaskan Tita, B! Tita mau pulang."


Tita terus bergerak dan tanpa sadar membuat gairah yang sejak tadi ditahan oleh Boy sudah tidak dapat terbendung lagi.


Boy yang sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi langsung menggendong tubuh Tita lalu menghempaskan tubuh mungil itu di atas tempat tidur king size miliknya, Tita yang sejak tadi terus memberontak membuat Boy semakin kewalahan dan mau tidak mau menghimpit erat tubuh gadis itu.


"B sesak, Tita tidak bisa bernapas." Tita berusaha mendorong tubuh kekar suaminya.


Boy tidak mempedulikan perkataan Tita, ia justru membungkam bibir gadis itu dengan bibirnya, melu*atnya dengan penuh gairah dengan tangan yang meremas kedua milik Tita yang masih tertutup bra.


Tangannya bergerilya kebawah menyusup di balik dalaman yang Tita pakai dan mulai memainkan di titik sensitif yang dimiliki oleh wanita itu, Boy ingin merangsang Tita agar gadis itu tidak lagi memberontak padanya.


Ah ...


Satu ******* lolos dari bibir mungil Tita saat Boy terus memainkan miliknya di bawah sana, mengobrak-abrik dengan jarinya hingga membuat tubuh Tita bergerak tidak karuan.


Tita yang belum pernah merasakan geli seperti yang saat ini dirasakannya, menahan Boy saat pria itu menenggelamkan wajahnya di antara kedua kakinya, bahkan Tita ingin sekali menendang wajah pria itu agar dirinya terlepas, namun rasa nikmat dan rasa penasaran yang ada di dalam otak mesumnya dengan apa yang selanjutnya akan terjadi, membuat Tita lebih memilih diam saat pria itu kembali mengobrak-abrik miliknya.


"B ..." desah Tita dengan wajah yang sayu menarik rambut Boy agar menjauh dari miliknya. "B .. Tita mau —"


Tita menarik napasnya saat sesuatu dari dalam tubuhnya meledak, menciptakan sensasi menggelitik seperti banyak kupu-kupu yang berterbangan diatas perutnya.