
Setelah melihat Selena di tarik masuk ke dalam lift oleh Liam, wanita yang sejak tadi bersembunyi di sudut ruangan segera berjalan kembali menuju pintu ruang kerja Boy yang masih terbuka.
Ia ragu apakah dirinya segera masuk ke dalam ruangan itu, ataukah kembali bersembunyi dan mencuri dengar seperti yang tadi dilakukannya, karena jujur saja wanita itu sangat penasaran sejauh mana hubungan yang terjadi diantara keduanya, melihat bagaimana Boy begitu perhatian pada Eve sampai ikut merapihkan rambut wanita itu, dan bagaimana Eve yang begitu marah saat melihat Selena ingin mencium Boy Arbeto.
"Tita kau tidak boleh salah paham! Seharusnya kau itu senang Kak Eve menjambak rambut Selena, karena mungkin kak Eve ingin menjaga suamimu, dan seharusnya kau juga senang suami mu perhatian pada Kak Eve."
Tita memantapkan hatinya untuk masuk ke dalam ruangan, namun baru saja ia hendak melangkahkan kakinya, niat itu kembali diurungkannya saat mendengar percakapan suami dan kakaknya.
"Yakin kau baik-baik saja?" Boy menatap wajah Eve dengan intens.
"Aku baik-baik saja." Eve berusaha menetralkan emosi yang ada di hatinya, namun belum juga reda emosi yang Eve rasakan, tiba-tiba saja ia mendengar suara tawa Boy Arbeto. "Kenapa kau tertawa? Apa rambutku masih berantakan?" Eve segera merapihkan rambutnya.
"Tidak, rambutmu sudah rapih." Boy menahan rasa ingin tertawanya. "Aku tidak menyangka wanita cantik, elegan, dan perfect sepertimu bisa bertengkar seperti tadi."
Boy mengingat kembali bagaimana Eve dan Selena yang saling menjambak rambut satu dan lainnya.
"Maaf tadi aku —" Eve menundukkan kepalanya.
"Kenapa meminta maaf? Justru aku senang melihat wanita sepertimu, kau cantik, pintar, dewasa, dan kau adalah seorang kakak yang sangat baik, sampai tidak membiarkan wanita lain mencium suami adiknya." Boy tersenyum menatap wajah Eve yang terlihat sangat mirip dengan Tita.
Eve menganggukkan kepalanya sembari meremas ujung pakaiannya. "Oh ya, siapa wanita tadi? Dia bilang kau kekasihnya, dan kau bilang hubungan kalian sudah berakhir?"
Boy terdiam sesaat lalu menarik napasnya dengan kasar.
"Dia Selena, dan hubungan kami sudah berakhir kurang lebih satu bulan yang lalu." Jawab Boy dengan ekspresi wajah yang datar.
"Satu bulan yang lalu?" Eve tampak berpikir dan mengingat-mengingat sesuatu. "Itu artinya kalian masih berhubungan saat kau dan Tita sudah menikah?"
Boy menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang datar.
Tepat di saat itulah ia melihat sekilas ada seseorang yang tengah berdiri di sudut pintu , dan ia melihat dengan sangat jelas jika orang tersebut adalah Tita adiknya.
"Ck, sudahlah aku tidak mau membahas masalah pribadiku." Boy hendak berdiri dari tempat duduknya.
"Tunggu B!" Eve menarik tangan Boy. "Apa kau mencintai adikku atau tidak?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Boy balik bertanya dengan suara yang tegas.
"A-aku hanya ingin tahu saja apa kau mencintai Tita atau tidak?" ucap Eve dengan gugup. "Karena setahu aku kalian menikah karena dijodohkan."
"Aku mencintainya atau tidak itu sudah tidak penting." Jawab Boy dengan senyum tipis dibibirnya.
Eve dan Boy saling terdiam dengan pikiran yang ada di kepala mereka masing-masing.
"Seandainya waktu itu yang dijodohkan denganmu adalah aku, apa kau akan mencintai ku?" Eve menatap intens wajah Boy yang ada dihadapannya.
"Tentu saja, kenapa tidak?" Sahut Boy dengan santai sambil berjalan menuju kursi kerjanya.
Eve yang mendengar jawaban Boy pun tersenyum dengan lebar, berbanding terbalik dengan Tita yang sedang menahan amarah yang ada di dalam hatinya setelah mendengar percakapan antara Boy dan kak Eve.
"B brengsek." Umpat Tita dalam hati dengan tangan yang terkepal erat.
Ia pikir selama beberapa hari ini mereka melakukan hubungan suami-istri tanpa kenal lelah, karena Boy sudah mulai menerima dan mencintai dirinya. Tapi pada kenyataannya Boy seperti enggan untuk mencintai dirinya.
"Kau jahat B ..."
Tita hendak masuk kedalam ruang kerja suaminya, namun langkahnya terhenti saat seseorang menarik tangannya dengan sangat cepat.