Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 85


"Untung saja tadi aku sempat membeli pembalut dan langsung memakainya."


Tita tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil membohongi Boy, dan membuat pria itu tidak bisa menyalurkan hasratnya.


Tita memang sengaja berbohong dengan mengatakan sedang menstruasi padahal sebenarnya tidak, agar Boy tidak bisa menyentuhnya walau pun saat ini Tita sendiri harus mati-matian menahan hasratnya setelah otak mesumnya mulai bertraveling saat Boy menekan bagian bawahnya.


Tapi Tita harus bisa menahan semua itu, karena ia tidak mau jika suaminya itu menyentuh tubuhnya tanpa perasaan cinta sedikitpun.


"Besok katakan pada A, kalau kau tidak jadi bekerja dengannya." Ujar Boy dengan suara serak menahan hasratnya.


"Aku tidak mau." Tita menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, yang saat ini hanya mengenakan dalaman saja.


"Tita Anggora!" Boy menatap tajam kearah wanitanya.


Tita menghela napasnya lalu menatap wajah suaminya yang terlihat masih tampan walaupun sedang marah.


"B aku ini hanya ingin bekerja."


"Kau bisa bekerja di kantorku, bukankah kau masih sekertarisku." Boy masih menatap wajah Tita yang terlihat berbeda semenjak dia pulang bersama Agam. Entah apa yang berubah dari wanitanya itu, tapi yang jelas Tita terlihat tidak seceria seperti biasanya.


"Sekertaris yang tidak dianggap maksudmu? Lagi pula bukankah kau bilang aku ini tidak berguna, jadi untuk apa aku bekerja di kantor mu." ketus Tita.


Deg


Boy mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Aku tidak mau tahu, kau harus membatalkan niat mu untuk bekerja di perusahaan A!" Boy berdiri dari duduknya dan hendak berjalan keluar dari kamar.


"Beri satu alasan kenapa aku harus menuruti perkataanmu."


"Ish .. di saat seperti ini saja kau mengakui statusmu sebagai suamiku, tapi di mana hatimu saat kau mengatakan aku tidak berguna, dan kau begitu mudahnya mengatakan akan mencintai Kak Eve jika yang dijodohkan denganmu adalah kakak ku." Ucap Tita dengan suara yang sangat kecil.


"Apa tadi kau bilang?" Boy menengok kebelakang.


"Tidak ada! Aku ngantuk mau tidur." Tita menarik selimut hingga menutupi kepalanya.


"Kau jangan tidur dulu! Katakan sekali lagi dan lebih jelas!" Boy menarik selimut Tita.


Tita yang tidak mau kalah menahan selimutnya agar tidak lepas, hingga terjadilah saling tarik menarik selimut diantara mereka.


"B ...." Tita menutup tubuhnya dengan tangan, saat selimut tersebut berhasil di tarik oleh suaminya.


"Ck, kau itu masih saja bertingkah seperti seorang gadis." Cibir Boy. "Lagi pula tidak perlu kau tutupi tubuh jelek mu itu, karena aku sudah melihat semuanya, apa kau lupa?" Boy menarik satu sudut bibirnya.


"Apa kau bilang? Tubuhku jelek?" Tita sudah tidak bisa menahan amarahnya, dengan gerakan cepat ia mengambil bantal lalu melemparnya kearah Boy.


"Tidak kena." Boy menyeringai lalu berjalan keluar dari kamar.


Ia tidak bisa berlama-lama di dalam kamar bersama Tita, dengan penampilan wanita itu yang hanya menggunakan dalaman saja, bisa-bisa hilang akal sehatnya untuk tidak menyentuh Tita yang tengah menstruasi.


"B kembali kau ...!" teriak Tita dengan penuh emosi.


Tadinya Tita ingin mengejar Boy untuk membalas perbuatan suaminya, tapi niat itu diurungkannya karena ia lebih memilih untuk mengambil tas nya yang di taruh di atas meja, lalu mengambil sesuatu yang ada di dalamnya.


"Kau jahat B!" Tita meremas strip obat yang dipegangnya, dengan air mata yang mulai menetes di ke-dua pipinya. "Apakah benar-benar tidak ada rasa cinta sedikit pun untukku? Sampai kau tidak ingin aku hamil?"


Tita baru mengetahui obat apa yang diminumnya itu, saat ia bertanya pada Agam apa kegunaan obat tersebut. Dan betapa terkejutnya Tita saat tahu jika itu adalah pil KB, pil untuk mencegah kehamilan.