Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 97


Setelah membawa Tita kabur dari dalam kamar hotel, Boy memasukkan wanita itu ke dalam mobil miliknya dan langsung mengunci pintunya agar Tita tidak melarikan diri.


"B buka pintunya!" ucap Tita dengan napas yang memburu karena menahan rasa kekesalannya, kalau saja Tita tidak ingat dirinya harus menjaga sikap, pasti saat ini ia sudah mengajak suaminya untuk berkelahi walau sekedar menjambak rambut pria itu.


"Diam Tit!" sentak Boy tanpa melihat kearah Tita, karena ia tengah fokus pada layar ponselnya yang sedang mengirim pesan pada Liam agar menyiapkan semua yang ia butuhkan.


"B kau itu kenapa?" Tita menatap jengah pada suaminya. "Kita tidak sopan pergi begitu saja tanpa pamit sampai membuat Mom Luna berteriak seperti itu!" gerutu Tita.


Namun pria yang menjadi suaminya itu tidak mempedulikan sama sekali perkataannya, pria itu justru menjalankan mobilnya dengan sangat kencang hingga membuat Tita ketakutan.


"B ....!" Tita berteriak dengan raut wajah yang panik.


"Diamlah Tit! Jangan membuat aku kesal." Boy menatap sekilas pada wajah Tita.


"Bagaimana aku bisa diam jika kau berkendara seperti ini." Tangan Tita sampai gemetaran memegang hand grip. "Kalau kau ingin bertemu dengan malaikat maut, pergi saja sendiri! Jangan ajak-ajak Tita karena Tita masih ingin hidup."


Cit ...


Tiba-tiba saja mobil itu berhenti mendadak hingga membuat tubuh Tita maju ke depan, untung saja wanita itu mengenakan seatbelt kalau tidak keningnya sudah dapat dipastikan akan mencium dasbor yang ada di depannya.


"B ...." teriak Tita dengan penuh amarah, jantungnya berdetak dengan cepat bahkan hampir saja keluar saat suaminya menginjak rem dengan mendadak.


"Tadi kau berkata apa?" Boy mencengkram tangan Tita yang tengah mengusap dadanya.


"Aku berkata B ...." teriak Tita dengan keras.


"Bukan yang itu." Boy mendengus dengan kesal.


"Lalu yang mana?" Tita balik bertanya dengan kening yang berkerut, ia tampak mengingat-ingat kembali apa yang tadi dikatakannya. "Oh iya aku ingat, yang aku berkata kalau kau ingin bertemu dengan malaikat maut, pergi saja sendiri! Jangan ajak-ajak Tita karena Tita masih ingin hidup, apa benar?"


"Oh my God B pake ditanya segala, tentu saja aku tidak mau!" seloroh Tita dengan tawa dibibirnya. "Lagi pula mana ada yang mau di ajak untuk bertemu dengan malaikat maut." Tita menggelengkan kepalanya.


"Meski denganku?"


"Apalagi denganmu, di dunia saja kau menindasku apalagi jika aku ikut bersamamu di sana." Tawa Tita semakin keras.


Namun tawanya langsung terhenti saat tiba-tiba saja sesuatu yang kenyal menempel di bibirnya, dan bergerak secara kasar mengeksplor bibirnya dengan sangat rakus.


Umph ...


Tita mendorong Boy sekuat tenaga hingga bibirnya terbebas dari ciuman dadakan tersebut, ia harus menghentikan tindakan Boy jika tidak ingin otaknya bertraveling.


"B ...." dengan kesal Tita mengusap bibirnya.


"Kenapa di hapus? Kau tidak suka jika aku cium?" Boy merasa tidak terima dengan yang diperbuat oleh Tita.


"Aku tidak suka dan —" perkataannya tenggelam saat lagi-lagi bibirnya dilumat kembali oleh suaminya.


"Jika kau hapus lagi, maka aku akan ********** kembali." Ucap Boy dengan tegas setelah melepaskan pangutannya.


Hingga membuat Tita mengurungkan niatnya untuk mengusap bibirnya, kemudian suasana di dalam mobil menjadi sunyi saat kedua orang yang ada di dalamnya saling terdiam dan saling menatap.


"Pegangan dengan kuat jika kau tidak mau bertemu dengan malaikat maut." Boy menginjak pedal gasnya.


Dan mobil pun kembali melaju dengan cepat, Tita yang ketakutan hanya bisa merapal doa di dalam hati agar bisa selamat sampai ditempat tujuan.