
Karena asisten pribadi menantunya mempunyai nomer ponsel Tita, sedangkan pria yang menjadi suami putrinya kemungkinan besar tidak menyimpan nomer ponsel Tita, terbukti saat ini justru Liam yang menghubungi ponsel putrinya.
"Iya Ayah, tadi dia bertanya Tita ada di mana? Karena katanya mereka akan menjemput Tita."
"Ya sudah kau tunggu saja, sebentar lagi mereka pasti datang." Bayu mengusap punggung putri bungsunya.
Setelah beberapa menit berlalu.
Ting ... Tong.
Suara bel pintu rumah berbunyi dan Tita sangat yakin pasti Boy yang datang untuk menjemput dirinya.
"Tuan di luar ada pria yang bernama Liam, dia bilang ingin bertemu dengan Nona Tita." Ucap Bi Nah.
"Liam? Bukankah pria itu —" belum sempat meneruskan perkataannya, Bayu melihat putrinya yang berjalan menuju ruang tamu.
Tanpa menunggu lama ia pun segera mengikuti putrinya, Bayu ingin tahu kenapa asisten pribadi menantunya datang kemari.
"Lia ..." Tita menatap wajah pria yang ada di hadapannya. "Dimana B?"
Sebelum menjawab pertanyaan nona Tita, Liam terlebih dahulu menarik napas dan membuangnya secara kasar untuk menahan kekesalan yang ada dihatinya. Karena wanita yang berstatus sebagai Nyonya Boy Arbeto memanggilnya dengan nama Lia.
"Tuan B tidak bisa datang, dan aku yang ditugaskan untuk menjemput Anda, nona."
"Kenapa B tidak bisa menjemputku?"
"Karena untuk menghemat waktu beliau langsung ke mansion Tuan Mars." Jawab Liam.
"Oh ...." Tita menganggukkan kepalanya.
"Ada apa sayang? Dimana menantu ayah?" tanya Bayu saat melihat hanya ada asisten pribadi menantunya.
Liam segera berjalan menyusul nona Tita, setelah sebelumnya permisi pada tuan Bayu.
Setengah jam kemudian mobil yang ditumpangi oleh Tita sudah sampai di sebuah mansion yang terlihat sangat mewah dan luas, namun jika dibandingkan dengan mansion utama milik keluarga Arbeto, luas mansion milik Mars hanya setengah dari luas mansion utama.
Sudah dapat dipastikan jika keluarga besar Arbeto memang tidak ada tandingannya, dan harta kekayaan milik mertuanya itu tidak akan habis tujuh turunan dan tujuh tanjakan lagi.
Setelah mobil yang ditumpangi olehnya berhenti, Tita segera keluar setelah Liam membuka pintu mobil untuknya. Ia berdiri menatap ke sekeliling mansion, dan bertepatan dengan itu matanya menangkap sosok pria tampan yang baru saja keluar dari mobil mewahnya.
"B ...." gumam Tita.
Baru saja Tita hendak memanggil suaminya, namun niat itu diurungkannya saat ia melihat seorang wanita cantik yang turun dari dalam mobil suaminya.
"Kak Eve ...." reflek Tita memanggil nama kakaknya.
Boy dan Eve serentak menatap kearah seseorang yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Tita ..." Eve berjalan mendekati adiknya.
Sementara Boy hanya diam berdiri di tempatnya, dengan sorot mata yang tak terbaca saat melihat Tita.
"Kau cantik sekali." Puji Eve.
Menatap kearah adiknya yang saat ini mengenakan gaun berwarna broken white, dengan atasan berbentuk Sabrina hingga membuat bahu putih Tita sedikit terekspos.
"Terima kasih, kakak juga cantik." Tita tersenyum menatap penampilan kakaknya yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
Jika biasanya kak Eve terlihat sangat cantik meski dengan pakaian yang sopan dan tertutup, tapi kali ini kakaknya terlihat sepuluh kali lebih cantik dengan gaun malam yang melekat indah ditubuhnya yang sexy, dan jangan lupakan make up tipis yang menghiasi wajahnya membuat penampilan kak Eve terlihat begitu memukau.