
Di saat semua orang yang ada di mansion utama tengah menikmati acara tersebut, Baby justru sedang gelisah menunggu kedatangan Agam di sudut ruangan. Kejadian tadi siang saat dirinya tanpa sengaja mengatakan perasaannya pada Agam, membuatnya harus gigit jari ditinggal begitu saja oleh pria itu di parkiran hotel. ( penjelasan dari cerita ini akan ada di novel Agam dan Baby)
"Hei kau kenapa?" tanya Alana yang sejak tadi melihat sepupunya itu hanya diam saja tidak membaur dengan keluarga yang lainnya.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Baby tanpa menatap pada Alana, karena matanya terus tertuju kearah pintu masuk mansion, dan berharap bisa secepatnya melihat kedatangan Agam dan keluarga besar Mateo yang lainnya.
Alana mengerutkan keningnya lalu ikut menatap kearah pandangan mata Baby. "Kau sedang menunggu seseorang?" tanya Alana.
"Tidak, aku hanya ..." Baby mengalihkan tatapan matanya pada Alana, biasanya ketika ia sedang galau pasti bercerita pada Lea. Namun karena hati Lea sedang patah hati mendengar pria yang dicintainya sudah menikah dengan wanita lain, membuat Baby tidak berani untuk bercerita pada sepupu dekatnya itu. "Kak Alana jika kita mencintai seseorang apakah salah?" tanya Baby memberanikan diri untuk bercerita.
"Eh .. kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau sedang jatuh cinta pada seseorang?" goda Alana.
Baby menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Tadi siang aku mengatakan perasaanku pada seorang pria, eh salah lebih tepatnya keceplosan mengatakan rasa yang ada di hati ini." Baby menunjuk ke dadanya.
"Lalu ...?" tanya Alana dengan antusias, karena jarang sekali seorang Baby Arbeto bercerita padanya tentang masalah pribadi.
"Tapi pria itu justru marah kepadaku, dia bilang aku tidak pantas untuknya karena kami ..."
"Em ..." Baby bingung harus menjawab apa, karena tidak mungkin ia jujur dengan kejadian yang sebenarnya. "Ya intinya dia menolak aku." Ucap Baby.
"What? Seorang Baby Arbeto di tolak cintanya? Seorang gadis cantik keturunan Arbeto dan juga penulis terkenal cintanya ditolak?" Alana tak percaya dengan yang di dengarnya. "Katakan siapa pria sombong dan pemberani itu?" tanya Alana dengan menahan rasa ingin tertawanya.
"Kakak ..." dengan kesal Baby memukul lengan Alana.
"Ish aku itu hanya bercanda." Alana tertawa terbahak-bahak. "Dengar Baby Arbeto kau itu masih sangat muda, jangan memikirkan pria atau hal-hal yang berbau cinta. Tugasmu saat ini adalah lulus kuliah dengan nilai yang baik, baru setelah itu kau boleh memikirkan tentang cinta." Alana mengusap punggung Baby. "Dan ingat satu hal! Lebih baik kau dicintai dari pada mencintai, karena jika kita mencintai seseorang itu rasanya sangat lelah."
Baby mengerutkan keningnya. "Tapi bagiku lebih baik mencintai dan dicintai, jadi seimbang dan hidup kita akan bahagia."
"Baby semua orang pasti menginginkan seperti yang kau katakan itu, saling mencintai dan hidup bahagia. Tapi di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa sesuai dengan keinginan kita." Lirih Alana. "Contohnya aku, kami saling mencintai tapi pria ku justru menikah dengan adikku sendiri."
Baby langsung terdiam karena merasa tidak enak hati sudah membuat Alana kembali teringat dengan kisah cintanya. Dan ke-duanya cukup lama terdiam hingga akhirnya Baby memberanikan diri untuk bertanya sesuatu.
"Kak apakah Aunty Daisy dan Uncle Antoni belum memaafkan kak Alena?" tanya Baby karena tidak melihat saudara kembar Alana hadir di mansion utama.