Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 94


Pria tampan dan gagah yang saat ini tengah dipenuhi oleh rasa amarah yang membara, berjalan masuk ke dalam hotel dengan langkah cepat tanpa mempedulikan suara Liam dan security hotel yang memanggilnya dari belakang. Ia langsung masuk begitu saja ke dalam lift lalu menutup pintunya, namun ketika hendak menekan nomer lantai ia langsung terdiam.


"Sial! Kamar mereka di lantai berapa?" Boy menendang pintu lift dengan kasar, lalu menekan tombol untuk membuka pintu lift.


Dan saat pintu tersebut terbuka, pemandangan yang pertama ia lihat adalah wajah Liam yang menggelengkan kepalanya.


"Apa ada yang tertinggal, Tuan?" tanya Liam dengan senyum tersungging di bibirnya.


"Ck, jangan meledak ku. Cepat masuk!"


Liam pun masuk ke dalam lift sambil menahan tawanya saat menatap kearah tuan Boy, ia lalu menekan nomer lantai dimana tuan Agam dan nona Tita berada.


"Ternyata benar yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa cinta bisa membuat seseorang yang pintar menjadi bodoh." Tanpa sadar Liam pun melepaskan tawanya.


"Apa kau sedang menertawakan ku?" Boy menatap Liam dengan tatapan yang tajam.


"Tidak Tuan mana berani aku menertawakan Anda." Liam sekuat tenaga menahan rasa ingin tertawanya, namun semua itu sia-sia saat dirinya justru tertawa dengan keras.


"Lia ..." Boy yang merasa dirinya ditertawakan mulai marah pada asistennya, ia mencengkram kemeja Liam dan menariknya dengan kasar. "Berhenti tertawa atau aku akan—" Boy mengepalkan satu tangannya.


"Tidak Tuan, ampun," Liam membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


"Good." Boy menepuk bahu Liam lalu menatap kembali kearah pintu lift.


"Tuan boleh aku bertanya sesuatu?" Liam menatap sesuatu yang sejak tadi membuatnya tertawa.


"Em ..." Boy menjawab dengan berdeham tanpa berniat membuka suaranya, karena pikirannya saat ini terfokus pada apa yang sedang dilakukan Agam dan Tita di dalam kamar hotel.


"Apa Anda tidak merasa dingin?" tanya Liam dengan wajah memerah menahan rasa ingin tertawanya.


"Tentu saja dingin apalagi lantai lift ini ..." Boy menatap kearah bawah dan baru tersadar saat ini dirinya tidak mengenakan sepatu. "What the—" Boy tidak habis pikir bagaimana bisa ia melupakan sepatunya yang tertinggal di dalam mobil.


"Pantas saja tadi security tidak mengijinkan aku masuk." Gumam Boy lalu menatap Liam yang saat ini sedang tertawa terbahak-bahak. "Lepas!" perintah Boy.


Liam yang sedang tertawa langsung terdiam, dan wajah nya menjadi pucat saat melihat kemana arah pandangan mata tuannya itu.


"Tapi Tuan ...."


"Lepas sepatumu, sekarang!" Boy berkata dengan tegas.


Tidak mungkin bagi dirinya menyuruh Liam untuk kembali ke dalam mobil hanya untuk mengambil sepatunya, karena itu akan membuang-buang waktunya untuk sampai di kamar Agam dan Tita.


"Tapi ...."


"Lia ....!" Mata Boy menatap tajam pada asistennya.


Membuat Liam ketakutan dan mau tidak mau melepaskan sepatunya, dan saat ini ia menatap nanar pada kakinya yang mulai terasa dingin.


"Liam .. Liam .. kenapa mulutmu tidak bisa diam! Andai mulutmu ini tidak bersuara pasti saat ini kaki mu masih nyaman dan tidak kedinginan." Keluh Liam dalam hati, sambil menatap tuannya yang sudah selesai memakai sepatu miliknya.


"Ini jauh lebih baik." Boy menatap kearah kakinya.


Dan saat pintu lift terbuka Boy segera keluar, dengan langkah cepat dan tangan yang terkepal dengan erat.


Sementara itu Liam yang berjalan mengikuti tuan Boy dari belakang, menatap punggung tuannya itu dengan tatapan penuh kekesalan. Karena tuan Boy terlihat begitu santai dan tanpa beban, menggunakan sepatu mahal milikinya tanpa peduli pada kaki nya yang telanjang.


"Apa ini kamarnya?" tanya Boy saat asisten pribadinya itu berhenti di depan sebuah pintu kamar.


"Iya Tuan." Jawab Liam.


"Cepat ketuk pintunya!" perintah Boy sambil menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, merenggangkan ototnya untuk bersiap-siap memukul seseorang yang sudah berani membawa istrinya masuk ke dalam kamar hotel.