
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mobil yang ditumpangi oleh Tita dan Boy sampai di tempat tujuan, Boy menatap ke samping dan melihat Tita sudah tertidur dengan lelap. Ia segera keluar dari mobil lalu berjalan mendekati Liam yang tengah menunggunya di luar.
"Semua yang Anda butuhkan sudah ada di dalam pesawat." Ucap Liam pada tuannya dengan kepala tertunduk.
Ia benar-benar takut tuan Boy akan menghajarnya karena sudah berani melarikan diri, dan meninggalkan tuannya di saat yang sedang genting.
"Lia apa kau tahu kesalahanmu?" Boy menatap tajam asisten pribadinya.
"A-aku tahu tuan." Liam masih menundukkan kepalanya.
"Bagus kalau kau tahu, jadi sebagai hukumannya gaji mu bulan ini aku potong lima puluh persen."
"What?" pekik Liam dengan wajah yang terkejut.
"Kenapa? Kau keberatan?" suara Boy naik satu oktaf.
"Bu-bukan keberatan Tuan, tapi ...."
"Kalau begitu aku potong tujuh puluh persen."
"Jangan Tuan, cukup lima puluh persen saja." Sahut Liam dengan raut wajah yang panik.
"Good." Boy menepuk bahu asisten pribadinya. "Lain kali jika kau berani melarikan diri lagi, habis kau!" ucap Boy dengan dingin dan tegas.
Peringatan dari atasannya itu sontak membuat Liam menelan salivanya dengan susah payah, ia kemudian melihat tuan nya berjalan menuju mobil dan keluar kembali dengan menggendong Nona Tita yang terlihat tertidur dengan pulas.
"Tuan tunggu dulu!" Liam menghentikan langkah tuannya yang berjalan menuju tempat di mana pesawat itu berada. "Boleh aku minta sepatuku." Ucap Liam dengan memberanikan diri, sambil menyodorkan sepatu milik tuannya yang tadi dibawanya dari apartemen.
Boy menatap kearah sepatu yang di pegang oleh Liam, lalu menatap sepatu yang dikenakannya.
"Aku malas menggantinya." Boy berjalan kembali menuju pesawat.
"Lia sebagai ganti sepatumu kau boleh ambil sepatu milikku itu." Ucap Boy tanpa menengok kebelakang.
"A-apa tuan? Anda serius?" tanya Liam, dan wajah sendunya kini berubah menjadi bahagia saat mendapatkan anggukan kepala dari tuannya.
Ia pun menatap sepatu super mahal milik tuan Boy yang ada ditangannya, sepatu limited edition yang hanya ada 100 pasang di seluruh dunia kini bisa dimilikinya secara cuma-cuma.
"Tuan B, kau boleh meminjam sepatuku yang lainnya kalau kau mau." Teriak Liam dengan wajah yang bahagia.
Boy yang mendengar teriakan asistennya hanya menggelengkan kepalanya, ia segera masuk ke dalam pesawat lalu membaringkan Tita yang masih tertidur dengan lelap di atas tempat tidur. Dipandanginya wajah wanita itu dengan intens sambil merapihkan helaian rambut yang jatuh di wajah Tita.
"Tuan apa ada yang diperlukan lagi sebelum berangkat?" tanya Liam.
"Tidak ada." Jawab Boy yang berjalan menuju kursi penumpang. "Untuk sementara urusan perusahaan kau handle dulu!"
"Baik Tuan." Liam menganggukkan kepalanya.
"Oh ya apa Mom Luna bertanya keberadaan kami?" tanya Boy saat mengingat Mommy nya.
"Ya tuan, Nyonya besar tadi bertanya keberadaan Anda."
"Lalu kau jawab apa?"
"Seperti yang anda perintahkan, aku menjawab Tuan B sedang membawa Nona Tita honeymoon."
"Good job." Ucap Boy.
Ia sengaja menyuruh Liam untuk memberitahu semua orang kalau dirinya dan Tita sedang berbulan madu, agar Mom Luna melupakan dan tidak lagi membawa mereka ke mansion utama, dan alasan yang paling utama adalah agar Agam tahu di mana posisinya dan tidak lagi bertindak sesuka hatinya pada Tita, apalagi hanya untuk memanas-manasi dirinya.