Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 112


"Bagaimana A?" Tita menatap Agam yang tengah konsentrasi pada layar laptop yang ada di atas meja kerja suaminya.


"lihatlah!" ujar Agam.


Tita langsung menatap kearah layar laptop dengan jantung yang berdetak dengan cepat.


"Oh my God." Tita menutup mulut dengan kedua tangannya, saat melihat rekaman CCTV yang ada di ruang kerja Boy pada malam kak Eve menginap. "A-apa ini asli?" tanya Tita masih tak percaya dengan apa yang dilakukan kakaknya.


"Tentu saja asli." Agam tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ia teringat saat Tita menghubunginya hanya untuk mencari tahu isi rekaman CCTV yang ada di ruang kerja Boy Arbeto.


Dan tentu saja permintaan Tita langsung dikabulkan oleh Agam, karena permintaan wanita itu sangat mudah bagi seorang Agam Mateo.


"Kenapa Kak Eve berbuat seperti itu?" lirih Tita dengan wajah sendunya, ia tidak menyangka jika kakak kandungnya tega melakukan hal tersebut pada pria yang menjadi suami adiknya sendiri.


"Karena dia menginginkan B, apa kau masih belum mengerti dan percaya pada apa yang kau dengar dan lihat?" Agam menatap Tita yang saat ini duduk di atas sofa dengan tatapan mata yang kosong.


"Tapi kenapa harus B? Dia itu suamiku, adik iparnya sendiri?" ujar Tita dengan tak percaya.


Sementara Agam hanya diam saja tidak menyahuti perkataan Tita.


"Padahal masih banyak pria diluar sana yang belum memiliki seorang istri, bahkan belum memiliki kekasih seperti kau contohnya." Tita menatap kearah Agam. "Kau tampan, kaya, dan pastinya belum memiliki kekasih, tapi kenapa kak Eve tidak menginginkan mu justru menginginkan B?"


"Kau itu sedang memuji atau menghinaku?" ketus Agam.


"Tidak keduanya." Sahut Tita sembari mengedikkan bahunya.


Tita menggelengkan kepalanya dengan lemah, lalu mulai terisak saat membayangkan kembali rekaman CCTV yang tadi dilihatnya, Tita tidak bisa membayangkan jika saja Boy tidak menyadari yang melakukan hal itu adalah kakaknya, entah apa yang terjadi selanjutnya dengan mereka berdua.


"Hei kenapa kau menangis?" ucap Agam dengan frustasi, karena ia bingung harus melakukan apa untuk membuat Tita berhenti menangis. Karena seumur hidup Agam tidak pernah dekat dengan wanita, kecuali mom Mini dan adik perempuannya.


"A kenapa kau masih bertanya kenapa aku menangis? Tentu saja aku menangis karena tahu kak Eve mencoba merayu suamiku." Sahut Tita dengan tangis yang semakin keras.


"Iya tapi tidak berlebihan seperti ini juga." Agam berjalan mendekat kearah Tita lalu menepuk punggung wanita itu. "Aku belikan es krim mau tidak?" bujuk Agam, seperti yang sering dilakukannya saat membujuk adiknya yang sedang menangis.


"Es krim?" Tita mendelik tajam kearah Agam lalu mengusap air mata yang menetes di ke-dua pipinya. "Kau pikir aku ini anak kecil apa?" dengus Tita dengan kesal.


Membuat Agam tertawa geli saat melihat perubahan ekspresi di wajah Tita, yang tadinya menangis menjadi marah. Agam lalu menghela napasnya dengan kasar saat teringat kembali permasalahan yang dihadapi oleh Tita.


"Kau harus dewasa untuk bisa menyelesaikan permasalah ini! Karena yang aku lihat kakakmu tidak akan begitu saja melepaskan B, terlihat jelas saat wanita itu menyusul kalian ke Bali." Ucap Agam dengan tegas. "Dan alangkah lebih baiknya, kau bicara pada Ayahmu dan memberitahu semuanya."


"Tidak A! Ayah unta tidak boleh tahu, aku tidak ingin membuatnya terluka saat tahu kelakuan kak Eve." lirih Tita dengan sendu, lalu menatap pada Agam. "A lebih baik sekarang kau pulang!"


"Kau mengusirku?" Agam tersenyum tipis.


"Bukan maksudku mengusirmu, tapi aku tidak ingin kak Eve melihat kau di sini." Terang Tita.


"Eve akan datang kemari?" Agam mengerutkan keningnya.