
Setelah acara makan malam di kediaman Mars Graham selesai, seluruh tamu undangan satu persatu pulang begitu pun dengan Boy, Tita, dan Eve, yang diantar langsung oleh sang tuan rumah beserta Agam.
Saat ini mereka berenam sudah berdiri di antara dua pilar besar yang menyangga bangunan mansion, dengan posisi Mars, Boy dan Eve berada di depan, sedangkan Tita, Kejora dan Agam berada di belakang mereka.
"Kau mencari apa?" tanya Agam saat melihat Tita yang menengok ke kanan dan ke kiri.
"Aku mencari Liam." Tita menatap satu persatu mobil mewah yang ada di halaman depan mansion.
Ia merutuki sifatnya yang pelupa karena tidak ingat sama sekali bentuk mobil Liam yang tadi dinaikinya, Tita juga merasa kesal karena asisten pribadi suaminya itu kini menghilang entah kemana.
"Kenapa mencari Liam?" Agam menautkan kedua alisnya.
"Ish .. tentu saja aku harus mencari Liam, jika dia tidak ada aku diantar pulang oleh siapa?" Tita tertawa dan tanpa sadar menepuk bahu Agam.
Membuat Boy, Eve, Mars, dan Kejora menatap kearah Tita secara bersamaan.
"Kalian tahu? Jika orang lain yang melihat mereka, pasti akan menyangka A dan Tita adalah sepasang kekasih." Celetuk Mars dengan senyum dibibirnya.
Sontak membuat Boy mengepalkan kedua tangannya dengan erat, lalu secepat mungkin mengalihkan pandangan matanya.
Mars yang melihat perubahan ekspresi Boy Arbeto yang semakin marah ingin sekali tertawa terbahak-bahak, namun sebisa mungkin ia menahan agar sepupunya itu tidak curiga.
"Kau benar sayang mereka seperti sepasang kekasih." Kejora ikut menimpali.
"Tapi sayangnya Tita sudah menikah dengan pria ..." Mars menatap sepupunya yang terlihat berpura-pura tidak peduli.
"Pria apa?" Boy menatap tajam kearah Mars.
"Pria penikmat *** sepertimu ...."
Mars tertawa dengan sangat puas saat melihat wajah sepupunya yang tidak bisa lagi membendung kemarahannya.
"Awas kau ...." Boy segera berjalan menuju mobilnya yang sudah berhenti tepat di depannya.
Eve yang sedari tadi diam ikut berjalan di belakang Boy lalu masuk ke dalam mobil.
"Tapi —"
"Cepat masuk!"
Dengan terburu-buru Tita berjalan menuju mobil suaminya, setelah berpamitan terlebih dahulu pada Kejora, Mars, dan Agam.
Sementara itu sang pemilik mansion dan juga Agam yang masih berdiri di depan pintu, menatap kearah mobil mewah yang ditumpangi oleh Boy, Tita, dan Eve yang perlahan bergerak keluar dari gerbang mansion.
"Malam ini aku merasa sangat puas sudah berhasil mengerjai seorang Boy Arbeto, sampai membuat pria itu terbakar api amarah dan kecemburuan." Mars tertawa dengan sangat puas.
Agam ikut tertawa menanggapi perkataan Mars, karena sejujurnya ia juga merasa senang bisa mengerjai sepupunya itu.
"Kau tahu A? Aku rasa malam ini Tita akan digempur habis-habisan oleh B sampai pagi." Tawa Mars semakin keras.
Namun berbanding terbalik dengan tawa Agam yang justru terhenti setelah perkataan terakhir Mars, dan sikap Agam itu pun tak luput dari penglihatan Kejora.
"Oh ya, apa kau sudah mengajak Tita untuk bekerja di perusahaanmu?" Tanya Mars setelah teringat rencana mereka yang lainnya.
"Sudah." Jawab Agam singkat.
"Lalu apa jawaban Tita?"
"Dia bilang ingin bertanya dulu pada B." Agam berkata sembari mengeluarkan ponselnya yang sejak tadi berada di saku kemeja. "Aku harus pulang Mars, kau tahu adikku—"
"Ya .. ya .. aku tahu." Sela Mars.
"Baiklah aku pulang ...." Agam berpamitan dengan Kejora dan sepupunya.
"A ...." panggil Mars saat melihat sepupunya hendak masuk ke dalam mobil. "Aku harap kau tidak lupa dengan isi poin ke tiga Three Devil."
Agam terdiam lalu menarik satu sudut bibirnya sebelum masuk ke dalam mobil, ia pun segera melajukan mobilnya keluar dari halaman mansion milik Mars Graham.