Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 54


"Baiklah karena kalian memaksa." Ucap Boy dengan penuh percaya diri.


"Ish .. siapa juga yang memaksamu! Tadi itu ayah hanya mengajak aku untuk menginap, tapi karena kau—"


Perkataan Tita menggantung di udara saat tangan Ayah unta membekap mulutnya.


"B ayah dan Eve akan mengajak Tita pulang lebih dulu, kau bisa menyusul setelah jam kantor selesai. Ayo Tita kita pulang!" ajak Bayu.


"Siapa yang mengijinkan Tit pulang?" Boy menatap tajam ayah mertuanya. "Aku hanya mengijinkan kami menginap dirumah ayah, tapi bukan berarti aku mengijinkan Tit untuk pulang sekarang."


Bayu menghela napasnya dengan kasar, karena sejak tadi menantunya itu membuat darah tingginya menaik. "Luna gesrek, putramu ini benar-benar ingin aku cekik." Umpat Bayu dalam hati.


"Baiklah kalau begitu kami pulang dulu, tapi ingat kalian harus menginap dirumah ayah!" Bayu memilih mengalah pada menantunya, karena tidak ingin impiannya memiliki seorang cucu dari keluarga besar Arbeto gagal.


"Aku antar sampai luar." Tita hendak berjalan, namun langkahnya terhenti saat tangannya ditahan oleh Boy.


"Lia yang akan mengantar ayah dan kakakmu."


Boy berjalan menuju mejanya, lalu menghubungi Liam untuk masuk ke dalam ruangan.


Tita yang hendak protes terpaksa diam saat ayah unta menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Tidak lama setelah itu Liam masuk ke dalam ruangan, dan Boy memerintahkan asistennya untuk mengantar Ayah mertua dan kakak iparnya.


Saat melihat Ayah unta dan Kak Eva keluar dari ruangan, Tita segera berjalan menuju sofa.


"Kau mau kemana?"


Boy menarik tangan Tita, hingga membuat gadis yang sudah berubah status menjadi wanita itu menabrak dada bidangnya.


"B sakit tahu." Tita mengusap keningnya dengan wajah yang kesal.


"Kau sudah berani macam-macam denganku rupanya! Apa kau tahu? Kau sudah membuat kesalahan besar hari ini." Boy menatap tajam pada Tita.


Tita yang tidak mengerti dengan perkataan Boy, hanya diam saja dengan wajah yang bingung.


"Kenapa kau diam?"


Boy menarik pinggang Tita hingga membuat keduanya saling berhimpitan.


"Sial hanya dengan berdekatan seperti ini saja, milikku sudah langsung on." Boy menggeram menahan gairah yang mulai menaik.


"Sudah lama sekali aku tidak merasakan manisnya bibir Tita."


Boy memperdalam ciumannya, menghisap semua yang ada di bibir Tita tanpa ampun, dan baru melepaskannya saat mereka kehabisan oksigen.


"Sekarang sudah tahu kesalahan mu?" Boy mengusap bibir Tita yang terlihat bengkak karena perbuatannya.


"Aku tidak tahu." Tita menggelengkan kepalanya.


"Kau itu." Boy menjitak kepala Tita.


"Aw .. sakit tahu." Gerutu Tita sambil mengusap kepalanya. "Kau itu aneh dan menyebalkan."


Tita mendorong tubuh Boy dengan kasar, ia tidak ingin meladeni sikap suaminya yang aneh karena sudah marah-marah tidak jelas kepadanya. Karena seharusnya Tita lah yang marah pada Boy karena sempat tidak mengijinkannya untuk menginap di rumah ayah unta.


"Kau mau kemana? Hukuman mu belum selesai." Boy menyeringai sambil menarik tangan Tita.


"B lepaskan tanganku!" Tita berusaha memberontak saat Boy menariknya menuju meja kerja pria itu.


"Sekarang duduk di sini!" Boy menepuk kedua pahanya.


Dengan senang hati Tita langsung duduk di pangkuan suaminya, karena merasa hukuman itu sangatlah mudah.


"Aw ..." Tita kembali berdiri saat merasa sesuatu yang menusuk di bagian belakangnya.


"Kenapa kau berdiri?" Boy menarik Tita untuk kembali duduk dipangkuannya.


"B ini sangat tidak nyaman." Tita berusaha mencari posisi yang enak, karena sejak tadi ia merasa sesuatu yang menusuk itu semakin keras.


"Kau jangan banyak bergerak." Boy memegang pinggang Tita agar wanita itu diam, karena perbuatannya itu justru semakin membuat gairahnya memuncak.


"****!"


Boy segera mengangkat tubuh Tita untuk duduk di atas meja, mereka saling berhadapan dengan napas Boy yang semakin memburu.


"Untuk hari ini hukumannya sudah selesai, dan sekarang kembali ke tempatmu!"


Boy menghela napasnya lalu berjalan menuju bathroom yang ada di dalam ruang kerjanya, untuk menuntaskan hasratnya. Boy tidak ingin menggunakan Tita karena ia tidak mau semakin dalam terikat dengan wanita itu.