
"Mars apa itu poin ke tiga Three Devil?" tanya Kejora dengan raut wajah yang bingung bercampur rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Itu rahasia sayang." Mars mengusap perut buncit istrinya, lalu membawa wanitanya untuk masuk ke dalam mansion.
Mars tidak ingin istrinya terlibat lebih jauh dengan urusan Boy, Agam, dan juga Tita, karena ia ingin Kejora fokus pada kehamilannya.
...πππ...
Di dalam sebuah mobil sport mewah keluaran dari merek Koenigsegg, tampak seorang pria tampan yang sedang menyetir kendaraannya dengan raut wajah yang datar dan dingin. Pria itu tampak mengeratkan cengkraman tangannya pada setir mobil, saat mengingat kembali perkataan sepupunya.
"Poin ketiga ...." Agam tersenyum sinis.
Sekelebat ingatan masa remaja mereka kini berputar di dalam benaknya, di mana mereka pernah membuat perjanjian dengan beberapa poin yang harus mereka patuhi. Dan saat ini yang dibahas oleh Mars adalah poin ketiga, yang berisi larangan keras mencintai wanita yang sama, atau wanita yang sudah di milik oleh salah satu dari mereka.
"Tita ...."
Agam mengingat kembali wajah Tita yang tersenyum padanya, dan tanpa sadar bibirnya ikut tersenyum hanya dengan membayangkan wajah Tita.
*
*
*
Sementara itu di tempat yang berbeda tampak sebuah mobil mewah keluaran terbaru limited edition, yang hanya dimiliki oleh tiga orang yang ada di Indonesia tengah membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan di atas rata-rata.
Ketiga penumpang yang ada di dalam mobil tersebut terlihat diam, dan tidak ada satu orang pun yang berbicara. Mereka sibuk dengan segala pemikiran yang ada dibenak masing-masing, sampai tak terasa mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di salah satu rumah mewah yang ada dikawasan elite di Jakarta.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai." Sang supir membuka pintu mobil.
Eve segera keluar dari dalam mobil begitu pun dengan Tita.
"Kau mau kemana?" Boy menarik tangan Tita.
"Tentu saja masuk ke rumah."
"Ck, kau lupa tempat tinggalmu sudah bukan disini?"
Tita masih kesal dengan sikap Boy yang seakan tidak melihat dan tidak peduli padanya selama acara makan malam berlangsung, jangankan mengajak dirinya mengobrol untuk menatap wajahnya saja pria itu tidak melakukannya. Dan jujur ia masih merasa cemburu dengan sikap yang ditunjukkan suaminya pada kak Eve yang begitu ramah dan terlihat seperti sepasang kekasih.
"Tit masuk!"
Boy ikut turun dari mobil sembari mencengkram tangan wanitanya.
"Aku tidak mau." Tita berusaha melepaskan cengkraman tangan tersebut.
"Kalian itu kenapa?"
Eve yang sejak tadi melihat pertengkaran antara Boy dan Tita memberanikan diri untuk bersuara.
"Kak aku ingin menginap di rumah, tapi diaβ"
"Diam dan masuk!" sentak Boy.
Membuat Tita terdiam lalu menundukkan kepalanya.
"B ijinkan Tita untuk menginap di sini, lagi pula ini sudah sangat malam." Ujar Eve sembari menarik tangan Tita untuk masuk ke dalam rumah.
Tita sendiri merasa sangat terharu dan bahagia, karena untuk pertama kalinya merasakan dilindungi dan dibela oleh sang kakak, sesuatu yang tidak pernah dirasakannya selama tujuh belas tahun ia hidup di dunia.
Sementara itu Boy yang tidak bisa membiarkan Tita terbebas begitu saja, dan tidur dengan nyenyak setelah membuat amarah di dadanya naik sampai ke level sepuluh, langsung berjalan dengan cepat menghampiri wanitanya.
"Tunggu!"
Boy menarik pinggang Tita hingga membuat wanita itu menabrak dada bidangnya.
"Ikut denganku baik-baik atau aku akan menyeretmu ke dalam mobil!" ancam Boy tepat ditelinga Tita.
"Aku tidak takut! Seret aku kalau kau berani!" tantang Tita dengan senyum tipis dibibirnya.
Bukan tanpa alasan Tita berani menantang suaminya, karena ia merasa ada kak Eve dan ayah unta yang akan membela dirinya, sehingga Tita merasa yakin keluarganya pasti tidak akan membiarkan dirinya di seret paksa oleh Boy Arbeto.