
Setelah sampai di Perusahaan Kenz.Drc, Bayu beserta keluarganya langsung menuju ruang kerja Boy Arbeto. Ia sudah tidak sabar memberitahu menantunya bahwa Tita saat ini sedang mengandung, entah apa lagi yang akan diberikan Boy Arbeto padanya saat mengetahui kabar baik itu. Tapi yang jelas Bayu berharap akan diberikan lagi beberapa persen saham perusahaan keluarga Arbeto, agar ia bisa hidup santai tanpa harus bekerja.
"Ayah tunggu dulu!" Tita menahan langkah kakinya saat mereka hampir sampai di ruang kerja suaminya. "Lebih baik besok saja kita beritahu B." Pinta Tita entah untuk yang keberapa puluh kalinya sejak mereka masih berada di rumah.
"Kau itu kenapa? Dari tadi tidak mau kita datang kemari, atau jangan-jangan kau berbohong tentang kehamilanmu? Dan takut jika B mengetahui kebohonganmu?" serentetan pertanyaan dengan nada penuh curiga terlontar dari mulut Eve, karena melihat sikap Tita yang terus menolak pergi ke Perusahaan Boy Arbeto untuk memberikan kabar kehamilan adiknya itu.
"Kak kenapa dari tadi kau menuduhku berbohong? Atau jangan-jangan kau berharap kalau aku tidak hamil!" tuduh Tita balik dengan sangat ketus, ia sampai lupa sedang berbicara dengan kakaknya sendiri, karena terlalu cemas dan khawatir kebohongannya akan terbongkar. "Oh my God bagaimana ini? Kalau B sampai tahu aku berbohong bisa habis aku."
"Tentu saja aku berharap kau tidak hamil, jadi aku dengan mudah—"
"Eve .. Tita .. berhenti!" Bayu menghentikan perdebatan yang terjadi diantara kedua putrinya. "Dan kau anak unta, ayah itu sudah tidak sabar ingin memberitahu B kabar gembira ini."
"Sudah tidak sabar ingin memberikan kabar bahagia, atau sudah tidak sabar mendapatkan imbalan atas kehamilan Tita!" sindir Daniela dengan telak, karena tahu jelas yang ada di otak mantan suaminya itu hanya money dan money.
"Kau ...!" Bayu menatap tajam mantan istrinya. "Kau memang benar Daniela." Bayu tertawa terbahak-bahak. "Ternyata kau masih memahami diriku, dan itu artinya kau masih sangat-sangat mencintai aku." Bayu mengerlingkan matanya.
"Ayah .. Mom ..." gerutu Eve dan Tita bersamaan dengan wajah yang kesal.
"Sudah- sudah cepat kita masuk!" Bayu kembali menarik tangan Tita, berjalan memasuki ruang kerja menantunya.
"Liam apa menantuku ada?" tanya Bayu saat bertemu dengan asisten pribadi Boy Arbeto di depan pintu ruangan.
"Iya B ada di dalam tidak?" Bayu mengulangi pertanyaannya.
"Tuan B ada di dalam, mari silahkan masuk!" Liam yang tidak mengerti isyarat dari nyonya Tita, hanya bisa menelan salivanya dengan susah saat melihat wanita itu menatap dirinya dengan sangat tajam.
"Lia aku akan menyuruh B untuk memotong gajimu lima persen." Bisik Tita dengan wajah yang kesal, karena asisten pribadi suaminya itu justru mengatakan bahwa Boy ada di dalam ruangan.
"Nona Tita kenapa?" Liam yang tidak ingin mengambil pusing dengan perkataan Nyonya nya, lebih memilih untuk keluar dari ruangan.
Sementara itu Boy yang melihat kedatangan keluarga unta, langsung menutup berkas yang ada di tangannya lalu berdiri dari tempat duduknya.
"B selamat ya." Bayu menghampiri menantu kesayangannya dan segera memeluknya dengan erat.
"Selamat untuk ...?" tanya Boy dengan wajah yang bingung.
"Selamat karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ayah." Ucap Bayu sembari menjabat tangan menantunya.
"A-apa?" Boy yang terkejut langsung menatap kearah ayah mertuanya, Mom Daniela, Eve, dan terkahir pada Tita. "A-aku akan menjadi seorang Daddy?"