Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 75


Setelah masuk ke dalam kamar, Boy segera merebahkan tubuh wanitanya di atas tempat tidur. Jantungnya terasa berdetak dengan keras saat membayangkan dirinya akan kembali menyentuh dan memasuki tubuh Tita.


Sebenarnya sejak di dalam mobil ia ingin sekali menyentuh Tita, namun sekuat mungkin Boy menahan gairah tersebut untuk memberikan hukuman pembuka terlebih dahulu pada wanitanya.


"Terima kasih B." Ucap Tita saat tubuhnya sudah mendarat dengan mulus di atas tempat tidur.


"Untuk?" Boy mengerutkan keningnya.


"Karena sudah menggendong Tita masuk kedalam kamar." Tita tersenyum lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Aku tidur dulu, Good night."


"Hei! Siapa yang mengijinkanmu untuk tidur?" Boy menarik kasar selimut yang dikenakan wanitanya.


"B .... " teriak Tita dengan wajah yang kesal.


Karena matanya yang baru saja terpejam harus kembali terbuka, saat selimut yang dikenakannya ditarik dengan kasar oleh Boy Arbeto.


"Kau itu mau apa lagi?" Tita menghela napasnya dengan lelah.


Tadinya ia berpikir suaminya itu sudah berubah baik dan pengertian dengan membawanya ke atas tempat tidur, tapi nyatanya pria tak berahlak dan yang selalu tebar pesona itu justru kembali membuatnya kesal.


"Hukuman mu belum selesai Tita Anggora!" Matanya menelusuri tubuh Tita yang terbaring di atas tempat tidur.


Akhirnya setelah beberapa malam ia lewati dengan menahan hasratnya untuk bercinta, kini sebentar lagi hasratnya itu akan tersalurkan pada tubuh Tita yang terasa sudah menjadi candu baginya.


"Namaku Tita Anggara bukan Tita Anggora!" protes Tita. "Dan kenapa aku dihukum lagi? Aku kan sudah bilang kalau aku sangat lelah dan —" Tita menutup mulutnya saat tersadar Boy mengatakan hukumannya belum selesai. Dan tanpa sadar sebuah senyuman terbit di wajah lelahnya saat otak mesumnya mulai bekerja.


"Tunggu! Kau jangan senang dulu Tita, karena hukuman B saat ini ada dua yaitu hukuman yang membawamu ke surga dan hukuman yang menarikmu ke neraka."


Tita menatap suaminya yang saat ini tengah membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakannya.


"Oke fix, ini pasti hukuman yang membawa aku ke surga." Gumam Tita dengan semburat merah di kedua pipinya.


"B apa kita akan bercinta?" Tita ingin lebih memastikan terlebih dahulu karena ia takut terkena prank lagi.


"Aku akan membuatmu tidak bisa tidur semalaman!" Bisik Boy yang saat ini sudah berada di atas tubuh istrinya.


"Tunggu, B!" Tita menahan dada bidang suaminya.


"Kenapa? Bukankah ini yang sejak tadi kau inginkan." Tangannya menelusup ke punggung belakang wanitanya, lalu menurunkan resleting gaun tersebut dengan perlahan. "Yaitu bercinta denganku." Bisik Boy dengan suara seraknya.


Tita mengangguk lalu sedetik kemudian menggelengkan kepalanya.


"Ti-tidak, siapa yang bilang?" Tita menahan gaunnya yang sedang ditarik kebawah. "Aku tidak ingin bercinta denganmu, tapi aku—"


Suaranya menggantung di udara saat sesuatu yang kenyal dan tebal ******* bibirnya dengan rakus, dan tanpa sadar tangannya naik meraba dada bidang berotot didepan.


"****!" gairah Boy semakin menaik saat jemari halus itu mengusap tubuhnya.


Karena sudah tidak sabar untuk melakukan penyatuan mereka, akhirnya Boy merobek paksa gaun sialan yang dikenakan oleh Tita dan melemparnya dengan asal.


Emph ...


Tita yang ingin bertanya kenapa gaunnya dirobek justru tidak bisa mengeluarkan suaranya, karena saat ini tengkuknya ditekan hingga membuat ciuman tersebut semakin dalam.


Ciuman itu semakin panas saat tubuh mereka saling bersentuhan, merasakan kehangatan tubuh masing-masing tanpa melepaskan pagutan mereka, bahkan Boy dan Tita sampai lupa untuk bernapas ketika lidah mereka saling membelit dan bertukar saliva.


Emph ...


Tita memukul dada bidang suaminya saat merasakan dirinya mulai kehabisan napas.


"B .. kau ingin membunuhku?" ucap Tita setelah ciuman panas mereka terlepas.


Dengan napas terengah-engah Tita menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, sedangkan Boy mulai melancarkan aksinya dengan melepaskan satu-satunya penghalang yang masih dikenakan oleh dirinya dan juga Tita.