
"Kakak sakit!" Baby berteriak saat telinganya di tarik oleh Boy Arbeto.
"Siapa yang suruh kau habiskan satenya?" bentak Boy dengan wajah yang kesal, karena ulah Baby membuat dirinya tidak boleh tidur di dalam kamar sebelum membeli sate itu kembali.
"Yah dia pikun!" gerutu Baby. "Kak kau itu lupa atau amnesia? Kau yang bilang sate itu untuk ku."
"Kapan aku berkata seperti itu? Boy berpura-pura lupa karena yang sebenarnya ia ingat dengan jelas memberikan sate itu untuk Baby.
"Sebentar!" Baby menjauhkan tangan kak Boy dari telinganya, lalu ia menatap pada jam yang ada dipergelangan tangannya. "Tiga puluh tiga menit yang lalu." Ucap Baby.
Boy langsung terdiam karena ingatan adiknya itu memang sungguh luar biasa. "Aku memang bilang sate itu untuk mu, tapi bukan berarti semuanya kau habiskan." Boy menjitak kepala baby.
"Ya ampun kakak!" Baby mengusap kepalanya dengan bibir yang mengerucut. "Kau itu sudah melakukan kekerasan pada anak dibawah umur."
"Sudah diam kau!" Bentak Boy. "Sekarang juga kau keluar beli sate nya!" perintah Boy.
"What?" pekik Baby dengan wajah yang terkejut. "Kak B ini sudah hampir jam dua belas malam, kau tega sekali menyuruhku keluar." Protes Baby.
"Siapa suruh kau habiskan sate milikku, yang menghabiskan sate ku yang harus membelinya!"
"Ish .. bukan hanya aku yang menghabiskan sate itu, Lea dan para pelayan juga memakannya."
"Kalau begitu ajak Lea pergi bersamamu! Sekarang cepat pergi!" Boy mengibaskan tangannya.
"Oh ya ampun." Baby menghela napasnya dengan kasar sembari berjalan menuju kamar Lea. "Tunggu dulu! Dari pada aku pergi bersama Lea lebih baik pergi bersama A." Gumam Baby dalam hati, ia pun kembali ke ruang tengah dimana kakaknya tengah duduk. "Kak pinjam ponselmu!"
"Untuk apa?" tanya Boy.
"Mau aku belikan satenya tidak?"
"Selesai! Aku pergi dulu." Baby mengembalikan ponsel kak Boy lalu segera keluar dari mansion.
"Dasar aneh." Boy kembali duduk di sofa yang ada di ruang tengah.
Sebenarnya Boy bisa saja memesan sate lewat delivery khusus atau menyuruh para pelayan, tapi Boy sengaja menyuruh Baby karena rasa kesal pada adiknya itu. Karena gara-gara Baby Tita mengusirnya dari dalam kamar, dan gara-gara Baby istrinya itu sempat menjambak rambutnya saat bertengkar tadi.
"Lagi pula ada pengawal yang akan menjaga Baby jadi aku tidak perlu khawatir." Gumam Boy sembari membuka ponselnya. "Apa yang tadi dilakukan Baby?" Boy memeriksa isi ponselnya namun tidak menemukan apa pun.
*
*
Setelah menunggu selama lima belas menit, orang yang ditunggu-tunggu oleh Baby akhirnya datang juga.
"A ..." Baby berjalan menghampiri sepupunya itu.
"Baby ...! Sedang apa kau di sini?" Agam menatap sekelilingnya dengan wajah yang terkejut. "Di mana B?" tanya Agam. "Dan apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini di luar?"
"A banyak sekali pertanyaanmu itu." Baby merangkul lengan Agam. "Ayo kita jalan!" ia menarik sepupunya untuk masuk ke dalam mobil Agam.
"Tunggu Baby!" Agam menghentikan langkahnya. "Aku sedang menunggu B, dan ada tugas penting yang harus aku lakukan." Ucap Agam dengan perasaan yang mulai tidak enak saat melihat senyum tipis dibibir Baby.
"Aku tahu itu, karena tugas pentingnya adalah menemani aku membeli sate." Baby tersenyum lebar.
"What?" Agam yang terkejut bahkan menjatuhkan rahangnya tanpa ia sadari.