
Tita dan Agam yang sedari tadi diam menatap kakak beradik itu bertengkar, memilih menyingkir dari ruang tengah secara diam-diam. Mereka memilih berada di halaman belakang, dari pada harus mendengar pertengkaran Boy dan Baby.
"Selamat." Ucap Agam yang saat ini tengah berdiri, menatap halaman belakang mansion yang luas dan dipenuhi oleh berbagai tanaman.
"Selamat untuk apa?" tanya Tita dengan bingung.
"Kehamilanmu."
"Oh .. terima kasih." Tita reflek mengusap perutnya yang masih rata. "Aku juga ingin berterima kasih padamu karena selama ini sudah banyak membantuku." Ucap Tita dengan setulus hati, menatap pria tampan yang terlihat sangat gagah dengan raut wajah datar tanpa ekspresi apapun.
Agam hanya menjawab dengan senyum tipis dibibirnya, menatap sekilas pada Tita lalu kembali menatap pemandangan yang ada di halaman belakang mansion.
"A apa mereka berdua selalu seperti itu?" tanya Tita, karena sejujurnya ia baru tahu kalau suaminya itu hobi bertengkar dengan adiknya.
Bahkan setiap kali Boy dan Baby bertengkar, mereka berdua melupakan semua yang ada di sekitarnya. Seperti saat ini, mereka bahkan belum sadar kalau dirinya dan Agam sudah tidak ada di ruang tengah.
"Ya begitulah B 2 jika berdekatan pasti seperti Anjing dan kucing, tapi jika berjauhan mereka akan saling merindu." Agam berucap dengan senyum lebar dibibirnya karena teringat setiap pertengkaran yang terjadi antara Baby dan Boy, dan biasanya Baby akan lari kepadanya untuk berlindung saat kalah dan terpojok.
Tita yang ada di samping Agam tidak hanya mendengarkan cerita pria itu, tapi ia juga terpesona dengan senyuman di wajah Agam yang tidak pernah Tita lihat sebelumnya. Karena selama ini pria itu hanya memperlihatkan senyum tipis yang bahkan tidak terlihat sama sekali oleh orang lain.
"A kau tahu? Kau sangat tampan dan terlihat seperti manusia jika sedang tersenyum." Ucap Tita dengan keceplosan.
"Manusia sih tapi lebih seperti robot karena wajahmu selalu terlihat datar, dan lihatlah apa yang kau pegang! Kau selalu memegang ponsel, seakan-akan yang ada di Dunia ini hanya ada kau dan ponselmu." Ucap Tita panjang lebar.
"Aku tidak merasa seperti itu." Jawab Agam.
"Tapi yang dikatakan kak Tita itu benar." Sela Baby yang berdiri dibelakang sepupunya.
Membuat Tita dan Agam menengok kebelakang, dan terkejut saat melihat Baby dan Boy yang sudah berdiri dibelakang mereka.
"B sejak kapan kau ada di sini?" tanya Tita.
"Sejak kau bilang Agam itu tampan." Jawab Boy dengan sorot mata yang tajam dan tangan yang bersidakep di depan dada.
"B aku ..." Tita menundukkan kepalanya saat melihat wajah suaminya yang terlihat marah, dan sedetik kemudian tubuhnya terasa melayang di udara saat Boy menggendongnya dengan tiba-tiba. "B ..." pekik Tita dengan wajah yang terkejut.
"Jangan pernah lagi mengatakan A tampan, karena aku tidak ingin baby kita wajahnya mirip A." Ucap Boy dengan tatapan sinisnya pada Agam, lalu berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan Agam dan Baby yang menatap kearah mereka.
"Kak B itu bodoh, mana mungkin wajah baby mereka mirip denganmu hanya karena kak Tita mengatakan kau tampan? Kau kan tidak ikut menyumbang waktu mereka membuatnya." Celoteh Baby.
Agam yang mendengarnya sontak menatap Baby dengan wajah yang terkejut, ia tidak menyangka sepupunya itu sebelas dua belas seperti Boy yang selalu berpikiran mesum. Dari pada Agam mendengarkan semua celotehan Baby yang tidak bermutu ia memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut.