Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 39


"Dengarkan aku Tita Anggora!"


"Anggara." Sela Tita dengan bibir yang mengerucut tajam.


"Sama saja." Jawab Boy dengan asal. "Di perusahaan ini status kita bukanlah sepasang suami-istri melainkan atasan dan bawahan, apa kau mengerti?"


"Tita mengerti." Tita menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat.


"Bagus." Boy tersenyum lalu mulai membuka laptopnya bersiap untuk mulai bekerja.


"Em .. B tugas Tita apa?" tanya Tita setelah melihat Boy tidak juga memberikan pekerjaan untuknya.


"Tugasmu?" Boy menatap Tita yang masih berdiri di hadapannya. "Kau tahu pekerjaan sekertaris itu seperti apa?"


"Tita tidak tahu, bukankah tadi saat di mobil aku bertanya tapi kau tidak menjawabnya."


"Oh ya ampun." Boy menghela napasnya dengan panjang, saat ia sadar jika istrinya itu adalah paket komplit yang tidak bisa melakukan apa pun dengan benar selain membuatnya kesal. "Sekarang kau duduk di sana!" Boy menunjuk sofa yang ada di ruangannya.


"Duduk di sana?" Tita balik bertanya.


"Iya, cepat kau lakukan!" sentak Boy.


"Oke." Tita segera berjalan menuju sofa lalu duduk di tempat yang ditunjuk oleh suaminya. "Lalu apa lagi yang harus Tita kerjakan?" Tita sudah tidak sabar untuk mengerjakan tugas sebagai seorang sekretaris.


"Tidak ada, kau cukup duduk diam disitu dan jangan ganggu aku."Jawab Boy dengan singkat padat dan jelas.


"Ta-tapi B?"


"Jangan protes!" Boy menatap tajam pada istrinya.


"Tita tidak protes tapi ...." Ia mengurungkan niatnya untuk berbicara lebih panjang saat melihat Boy yang menatap dirinya dengan sangat tajam.


Setelah beberapa jam berlalu Tita yang merasa bosan karena hanya duduk diam di atas sofa, mulai berdiri dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangan tersebut. Menunggu kedatangan Boy yang tengah rapat bersama anggota dewan direksi.


"Sayang aku datang ...."


"Hei siapa kau?" Selena menatap wanita muda yang ada dihadapannya dengan wajah yang terkejut.


"Aku?" Tita menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja kau." Selena berjalan mendekati wanita muda itu dengan tatapan yang menyelidik, karena baru pertama kali dirinya melihat wanita itu ada di ruangan kekasihnya.


"A-aku ...."


"Eh tunggu dulu! Sepertinya aku pernah melihatmu, tapi di mana ya?" Selena mencoba mengingat-ingat wajah wanita itu.


"Iya aku juga seperti pernah melihatmu." Tita ikut mengingat-ingat siapa wanita cantik yang ada dihadapannya. "Oh My God ...." pekik Tita dengan suara yang tercekat, saat ia baru menyadari kalau wanita yang ada dihadapannya adalah Tante yang berebut dasi dengannya saat di Mall.


"Kenapa? Apa kau sudah mengingatnya di mana kita pernah bertemu?" Selena yang merasa penasaran ingin segera tahu jawabannya.


"I-itu em, sepertinya kita tidak pernah bertemu." Bohong Tita dengan senyum kaku dibibirnya.


"Benarkah?" Tapi Selena merasa pernah bertemu dengan wanita muda itu tapi ia lupa di mana.


"I-iya." Tita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Mudah-mudahan itu tante-tante lupa padaku." Gumam Tita dalam hati. "Oh ya Anda ingin bertemu dengan siapa?"


"Aku ingin bertemu dengan kekasihku, di mana dia?" Selena berjalan menuju kursi kerja Boy Arbeto dan langsung duduk di tempat tersebut, ia ingin memberitahu pada wanita muda itu bahwa dirinya adalah kekasih dari pemilik perusahaan.


"Kekasih?" Tita mengerutkan keningnya.


"Iya kekasihku yang sangat tampan dan —"


Ceklek.


Perkataan Selena terhenti saat melihat Boy berjalan bersama dengan Liam.


"B ....." Selena segera berdiri dan berlari memeluk tubuh kekasihnya. "Aku merindukanmu sayang.


Boy yang terkejut karena melihat Selena yang ada di ruangannya, hanya bisa diam saja sambil menatap pada Tita yang berdiri menatap dirinya.