Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 82


Suasana yang ada di dalam ruang tengah apartemen mewah milik Boy Arbeto, terasa begitu panas dan tegang saat ke-dua orang yang duduk saling berhadapan itu semakin menatap dengan tajam.


Bahkan Liam beserta para pengawal yang merasakan aura yang mencekam tersebut, lebih memilih untuk keluar dari apartemen walau tuan mereka belum memerintahkan untuk keluar.


"Agam Mateo ....!"


Deg


Agam sangat terkejut saat Boy memanggil nama panjangnya, karena itu artinya sepupu sekaligus ketua dari Tim Delta itu sedang marah besar kepadanya.


"Kau sudah melewati batasan mu!" Boy berkata dengan sinis dan tatapan mata yang mematikan. "Setelah acara makan malam tempo hari, sekarang drama apa lagi yang sedang kau mainkan?"


"Drama? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?" Agam mengangkat kedua alisnya, berpura-pura tidak tahu apa yang dimaksud oleh sepupunya.


"Ck .. kau jangan berpura-pura bodoh!" Boy menarik satu sudut bibirnya. "Apa kalian pikir bisa mengelabui seorang Boy Arbeto."


Boy mengingat kembali kejadian saat acara makan malam di mansion Graham, ia yang sudah curiga saat Mars yang tiba-tiba datang ke perusahaannya hanya untuk mengundangnya ke acara makan malam tersebut.


Semakin curiga saat melihat para tamu undangan yang hadir, di sana tidak ada keluarga besar mereka dan hanya ada kerabat dan juga rekan bisnis Mars.


Dan jangan lupakan pertujukan saat Mars dan Kejora yang berusaha membuatnya cemburu dengan kedekatan Agam dan Tita.


"Apa yang kalian inginkan pada waktu itu?" geram Boy. "Apa kalian ingin melihat kecemburuanku saat melihat kedekatan kau dan Tita?" ia menarik satu sudut bibirnya.


Agam hanya diam tidak menjawab pertanyaan Boy, ia lebih memilih menatap sepupunya itu dengan ekspresi wajah yang datar.


"Jika kau tidak cemburu dan tidak peduli aku membawanya kemana, kenapa kau marah-marah seperti ini?" sindir Agam.


"Aku marah karena kau sudah melewati batas!" Boy menggebrak meja yang ada di hadapannya, lalu berjalan mendekati Agam. "Dengan kau membawa wanita ku tanpa ijin, itu sama saja dengan kau tidak menghormatiku." Boy mencengkram kerah kemeja sepupunya dengan kasar.


"Jika aku meminta ijin padamu, apa kau akan mengijinkannya?" Agam tersenyum sinis sembari melepaskan cengkraman tangan Boy dari kerah kemejanya.


"Tentu saja tidak!" jawab Boy dengan cepat.


"See ..." Agam tersenyum mengejek. "Kau itu sangat menggelikan."


"Apa kau bilang?" Boy kembali menarik kerah kemeja sepupunya, dan kali ini tarikannya sangat keras sampai membuat Agam terjatuh dari atas sofa.


"Aku bilang kau menggelikan!" Agam berusaha berdiri meski kemejanya masih dicengkeram erat oleh sepupunya. "Kau bilang tidak cemburu dan tidak peduli, tapi dengan cepat kau menjawab tidak akan mengijinkan aku membawa Tita." Sindir Agam.


Boy terdiam lalu melepaskan cengkraman tangannya. "Sudah aku katakan aku tidak cemburu dan tidak peduli pada Tita," dengan kesal Boy kembali duduk di atas sofa sembari memijat keningnya.


"Kalau begitu buktikan padaku jika kau tidak peduli dan cemburu pada Tita." Agam menyunggingkan senyumnya saat perangkapnya mulai dimakan oleh sepupunya.


"Apa maksudmu?" Boy menautkan kedua alisnya.


"Mulai besok Tita akan bekerja di perusahaan ku."


"What?" Boy mengepalkan kedua tangannya.