
Boy yang sejak dulu tidak pernah suka jika sesuatu miliknya di sentuh oleh orang lain walaupun itu sepupunya sendiri, merasa terbakar amarah saat melihat Tita dan Agam, apalagi saat melihat pancaran mata Tita yang begitu terpesona pada sepupunya.
"B kau itu bicara apa? Aku tidak mengerti." Tita mengerutkan keningnya dengan wajah yang bingung.
"Kau tidak mengerti? Tapi kalau yang ini kau pasti mengerti, bukan?"
Boy menempelkan bibirnya pada bibir Tita, perlu digaris bawahi hanya menempel dan itu terjadi selama satu menit dengan mata mereka yang saling memandang.
"Sial kenapa bibirnya begitu lembut."
Dan tanpa sadar secara perlahan Boy ******* bibir Tita, menikmati setiap inci permukaan kenyal tersebut lalu mengigit bibir bawah milik gadis itu karena tidak mendapatkan ciuman balasan, dan saat melihat bibir itu terbuka dengan cepat Boy memasukkan lidahnya, menjelajah keseluruhan rongga mulut itu sambil menyesap seluruh isi di dalamnya.
Boy terus menyesap dan ******* bibir mungil milik Tita sampai ia melupakan tujuan awalnya yang hanya ingin memberikan pelajaran pada gadis gila itu, dan sekarang Boy justru tidak bisa menghentikan ciumannya saat merasakan betapa manisnya bibir ranum milik Tita, bahkan saat ini ia menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Emm ....
Tita yang merasa kehabisan oksigen memukul-mukul bahu Boy agar melepaskan bibirnya, sungguh Tita merasa terkejut dan bercampur marah karena Boy sudah berani mengambil ciuman pertamanya.
"Kau ingin membunuhku, ya?" ketus Tita saat Boy menghentikan ciumannya.
"B berhentilah! Aku takut? Tita minta maaf jika membuatmu marah, walaupun seharusnya Tita lah yang berhak marah karena kau sudah berani mengambil ciuman pertamaku, dan juga sudah berani berselingkuh dengan menyebut Tante itu—"
Perkataan Tita menggantung saat merasakan sesuatu yang kenyal itu kembali menempel dibibirnya, dengan sekuat mungkin Tita berusaha mendorong Boy agar melepaskan ciumannya, tapi usaha Tita tidak berhasil karena saat ini lidah pria itu sudah bermain kembali di rongga mulutnya.
Tita yang tidak pernah berciuman sama sekali awalnya hanya diam karena tidak tahu harus berbuat apa, namun untuk ciuman kali ini entah mengapa bibirnya reflek membalas ciuman Boy saat merasakan tangan pria itu mulai mengusap tubuhnya, hingga membuat otak mesumnya mulai bertraveling dengan memikirkan yang ***-***.
Sementara itu Boy yang terus ******* bibir Tita, menjadi semakin bergairah saat merasakan gadis itu mulai membalas ciumannya walaupun terasa kaku dan tidak selihai Selena.
"****! Kenapa bibirnya begitu memabukkan?" gumam Boy dalam hati, melepaskan ciuman panas mereka. "Apa kau suka?" Boy mengusap bibir Tita dengan ibu jarinya.
"Aku suka." Tita menganggukkan kepalanya sesaat lalu berubah menggelengkan kepalanya. "Eh tidak, mana mungkin Tita suka—"
Lagi-lagi perkataan Tita menggantung saat bibirnya kembali di *****, dan ******* itu terasa berbeda karena lebih menuntut dan kasar hingga membuat Tita diam dan pasrah karena tidak bisa menyeimbangi ciuman tersebut.
"Oh my God, apakah sore ini akan menjadi sore terakhir bagi Tita menyandang status perawan?" gumam Tita dalam hati saat merasakan tangan Boy mulai membuka kancing kemeja miliknya. "Ayah unta apakah sekarang saatnya membuat cucu untukmu? Tapi Tita merasa sangat takut."
Tita teringat dengan perkataan temannya, yang mengatakan saat pertama kali melakukan *** dengan pria pasti akan terasa sangat sakit. Tubuh terasa remuk dan bagian inti kita akan terasa sangat sakit dan perih.