Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 146


Setelah perdebatan panjang antara Baby dan Boy, kini Tita bersama suaminya sedang berada di salah satu kamar yang ada di mansion tersebut. Kamar yang biasanya diperuntukkan untuk tamu kini di sulap menjadi kamar untuk tempat perlengkapan bayi mereka.


"Untuk sementara semua barang-barangnya kita taruh di sini." Ucap Boy.


Tita hanya menganggukkan kepalanya. "Terima kasih B." Ia memeluk suaminya dengan sangat erat.


Boy membalas pelukan Tita tak kalah eratnya lalu mencium ujung kepala istrinya dengan penuh kasih.


"Tapi B apakah tidak apa-apa membeli semua barang ini? Apalagi barang-barangnya untuk anak laki-laki, sedangkan kita belum tahu jenis kelamin baby nya?"


"Aku yakin baby kita laki-laki." Ucap Boy dengan penuh keyakinan.


"Kalau ternyata perempuan?" tanya Tita.


"Kita tinggal beli lagi saja semua perlengkapannya." Jawab Boy dengan santai.


"Lalu semua barang ini mau dikemanakan?" tanya Tita dengan wajah yang terkejut, karena dengan seenaknya Boy mengatakan akan membeli yang baru.


"Kita bisa sumbangkan pada panti asuhan." Jawab Boy lalu mengendong Tita dengan sangat hati-hati.


"Ya ampun baik sekali suamiku ini." Tita memuji sikap Boy yang sudah banyak berubah, lebih baik, lebih hangat, dan lebih berperikemanusiaan, dan yang terpenting suaminya itu sudah tidak main dengan wanita manapun.


"Kau baru tahu kalau aku ini baik." Boy mengecup kening Tita. "Oh ya kau ingin apa sayang? Karena yang aku dengar wanita hamil itu pasti menginginkan sesuatu, dan namanya itu ngi .. ngi .. apa ya?" Boy mencoba mengingat sembari menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mereka.


"Ngidam." Sahut Tita.


"Ya ngidam." Boy mendudukkan Tita di atas tempat tidur. "Apa ada yang kau inginkan?" tanya Boy kembali.


"Em apa ya ..." Tita mengerutkan keningnya. "Aku ingin ..."


"Aku ingin kau ..." bisik Tita dengan malu-malu karena sejujurnya ia memang menginginkan bercinta dengan suaminya, karena sudah lama mereka tidak bercinta karena permasalahan Tita yang kemarin ingin pergi ke Paris.


"As you wish." Boy mendorong Tita dengan perlahan lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh istrinya, dan baru saja ia ingin melakukan pemanasan dengan mencium bibir Tita mulutnya justru di tahan oleh jemari wanitanya.


"Tapi sebelum itu belikan aku sate dulu." Pinta Tita dengan senyum kaku dibibirnya, karena ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba menginginkan sate.


'Sayang ini tanggung, kita selesaikan dulu baru aku akan membelinya." Boy memaksa untuk mencium bibir Tita.


"B ..." Tita mendorong wajah suaminya. "Aku ingin makan sate." Tita mengusap perutnya yang masih rata.


Boy menatap perut Tita lalu berdiri dari atas tubuh istrinya. "Kalau begitu aku akan menyuruh pelayan untuk membelinya, jadi kita bisa bercinta sambil menunggu sate itu datang."


"B aku ingin kau yang membelinya."


"What? Tapi Tit ..."


"Please ..." Tita menatap suaminya dengan tatapan memohon.


"Oke aku akan membelinya, kau tunggu disini." Boy menghela napasnya lalu berjalan menuju bathroom.


"B kenapa ke bathroom? Pintu kamarnya kan disebelah sana!" Tita menunjuk pintu kamar mereka.


"Aku ingin menidurkan ini dulu." Boy menunjuk miliknya yang sudah terlanjur bangun saat mendengar Tita menginginkan mereka bercinta.


"Oh ..." Tita hanya menganggukkan kepalanya.


Dan Boy hanya bisa menghela napasnya dengan kasar, saat melihat istrinya itu hanya menganggukkan kepalanya tanpa rasa bersalah sedikitpun sudah membangunkan miliknya.