Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 123


Setelah berdebat dengan Tita, Boy memilih untuk pergi ke ruang kerjanya lalu mengunci pintu ruangan tersebut supaya Tita tidak dapat masuk. Karena saat ini ia butuh waktu untuk sendiri dulu, agar rasa amarah dihatinya cepat mereda.


Drt ..drt ..


Boy menatap ponsel miliknya yang berbunyi, lalu tersenyum penuh arti saat tahu siapa orang yang menghubunginya.


"Bagaimana?" tanya Boy setelah mengangkat ponselnya.


"Misi berhasil Tuan." Jawab Alex melalui sambungan teleponnya.


"Good job, bawa dia ke mansion utama!" perintah Boy.


"Baik Tuan."


"Oh ya bagaimana dengan Baby? Apa pesawatnya sudah mendarat?" tanya Boy. Karena adik satu-satunya itu pulang ke Jakarta, dan seperti biasanya ia yang ditugaskan untuk menjaga Baby.


"Sudah Tuan, tapi Nona Baby tidak mau ikut bersamaku. Dan lebih memilih pulang bersama Tuan A."


"Ck, dia selalu saja bikin ulah." Boy memijat pangkal hidungnya sambil menghela napasnya. "Kalau begitu cepat bawa orang itu ke mansion utama, aku akan segera menyusul."


"Baik Tuan."


Boy menutup ponselnya dengan senyum penuh kemenangan, karena akhirnya ia bisa membawa orang tersebut ke mansion utama walaupun dengan cara memaksa.


Karena tidak ingin membuang waktu Boy pun segera keluar dari ruangan, tujuannya hanya satu yaitu membawa Tita ke mansion utama.


"Lia dimana istriku?" tanya Boy setelah keluar dari ruangannya, dan melihat asisten pribadinya itu berdiri di depan pintu.


"Nyonya berada di ruangan Nona Eve." Jawab Liam.


"Kalau begitu cepat kau susul istriku dan bawa dia ke mobil! Aku tunggu di sana." Boy segera melangkahkan kakinya menuju pintu lift, ia sengaja menyuruh Liam untuk menjemput Tita karena Boy tidak ingin bertemu dengan wanita yang sudah membuat Tita ingin pergi jauh darinya.


Setelah sampai di dalam mobilnya, Boy langsung mengambil ponsel miliknya saat ia teringat sesuatu.


"A apa Baby bersamamu?" tanya Boy setelah sambungan teleponnya diangkat oleh sepupunya.


"Baguslah .. aku titip dia bersamamu, jangan biarkan dia pulang dulu karena ada hal yang harus aku urus di mansion." Ujar Boy.


"Ya." Jawab Agam lalu memutus sambungan teleponnya.


"Halo .. halo .. A ..." Boy menatap ponselnya. "Sial! Berani-beraninya dia menutup teleponku." Dengan wajah yang kesal Boy menghubungi Agam kembali.


"Apa lagi?" tanya Agam setelah mengangkat sambungan telepon miliknya.


"Tidak ada." Boy langsung menutup panggilan tersebut dengan senyum lebar dibibirnya, ia kini puas karena sudah lebih dulu menutup panggilan teleponnya.


"B ..."


Senyum di wajah Boy langsung menghilang berganti dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"Tit kau mengagetkan aku." Boy mengusap dada bidangnya. "Cepat masuk!" perintah Boy saat melihat Tita hanya diam saja setelah membuka pintu mobilnya.


"Kita mau kemana?" tanya Tita setelah masuk ke dalam mobil milik suaminya.


Boy menatap wajah Tita yang tepat berada di sampingnya. "Aku ingin membawamu ke mansion utama."


"Mansion utama?" Tita menautkan kedua alisnya dengan wajah yang bingung, karena tidak biasanya Boy mengajaknya ke mansion utama. "Ada apa B? Apakah ada acara keluarga?" tanya Tita.


Namun Boy hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Tita, hanya senyum tipis yang ia berikan pada wanita itu, semakin membuat Tita kebingungan.


*


*


Sementara itu di perusahaan Dimitri.Corp. Agam yang sedang duduk di kursi kerjanya hanya bisa menghela napasnya dengan kasar saat melihat kelakuan Baby. Wanita itu terus saja mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menurut dirinya sangat tidak penting.


Seperti menanyakan warna cat kukunya bagus atau tidak? Apakah rambutnya yang di Curly terlihat cocok dengan wajahnya? Dan apakah wanita itu cantik atau tidak? Baby juga bercerita tentang deretan para pria yang mengatakan cinta padanya, dan banyak hal lainnya.


"Lama-lama aku bisa gila!" Agam memijat tengkuknya yang terasa tegang, sambil terus mendengarkan semua perkataan Baby yang panjang tanpa titik dan koma.