
Beberapa hari kemudian.
Setelah melalui perundingan yang cukup alot selama beberapa hari ini antara Bayu dan Daniela, akhirnya mereka sepakat untuk berdamai demi Eve dan Tita. Dan disinilah Daniela berada, menunggu kedatangan Eve di rumah yang dulu pernah ia tempati bersama Bayu saat mereka masih berstatus sebagai suami istri, dan sekarang Daniela kembali menginjakkan kakinya di rumah tersebut, dengan satu tujuan yaitu menyatukan kembali kedua putrinya dengan cara apa pun.
"Dimana Eve? Kenapa dia belum datang?" tanya Daniela pada Tita dan Bayu.
"Sepertinya Kak Eve terjebak macet." Jawab Tita sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya sepertinya begitu." Sahut Bayu.
Ketiga orang itu duduk dengan gelisah menunggu kedatangan Eve, terutama Daniela yang merasa sangat takut dengan reaksi putrinya saat tahu ia ada di Jakarta. Dan rasa ketakutan itu semakin menjadi saat Daniela mendengar suara langkah kaki seseorang memasuki ruangan tersebut.
"Ayah ..." Eve berjalan memasuki ruang tengah dengan terburu-buru, namun langkah kakinya terhenti saat Eve melihat sosok yang tidak pernah ia sangka berada di ruangan tersebut. "Mom ..."
"Eve ..." Daniela berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati putrinya. "Mom rindu padamu." Ia memeluk Eve dengan erat.
"Mom ada apa ini?" Eve mengurai pelukan Mom Daniela, matanya menatap Ayah Bayu dan juga Tita. "Kenapa Mom ada di sini?" tanya Eve dengan penuh penekanan.
"Eve duduklah dulu!" Bayu menghampiri putri tertuanya, lalu mengajaknya untuk duduk di samping Tita.
Eve yang bingung dan masih terkejut dengan situasi yang dihadapinya, mau tidak mau menuruti perkataan Ayah nya.
"Sejak kapan Mom ada di Jakarta? Dan kenapa Mom ada di rumah ayah?" tanya Eve dengan ketus, bukan karena tidak suka melihat Mommy nya ada di Jakarta, tapi Eve tidak suka jika Mom Daniela bertemu dengan Tita.
"Eve jangan berbicara ketus pada Mommy mu!" ucap Bayu dengan tegas.
"Bay ..." Daniela menggenggam tangan mantan suaminya, agar pria itu bisa mengontrol emosinya.
"Apa?" pekik Eve dengan wajah yang terkejut.
Sedangkan Tita merespon perkataan Ayahnya dengan senyum bahagia dibibirnya.
"Mom .. ayah .. kalian bercandakan?" Eve menatap keduanya dengan raut wajah tak percaya.
"Kami tidak bercanda." Bayu menjawab sembari menggenggam tangan mantan istrinya. "Ayah ingin memperbaiki semuanya, dan membangun keluarga kecil kita kembali."
Deg
Eve mengepalkan kedua tangannya dengan erat, untuk menahan emosi yang mulai menggerogoti hatinya. "Untuk apa kalian kembali bersama? Bukankah semuanya sudah sangat terlambat?"
"Eve ..." Daniela menatap sendu pada putrinya.
"Kak kau jangan berbicara seperti itu! Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu." Tita ingin memeluk kakaknya.
"Jangan sentuh aku!" sentak Eve dengan pandangan penuh amarah.
"Eve ...!" bentak Bayu dengan tatapan tak percaya saat melihat kebencian yang ada di mata Eve pada Tita.
"Lihat Mom! Ayah membentak aku hanya karena tidak terima putri kesayangannya di sakiti." Eve menatap sinis pada Tita yang duduk di sampingnya.
"Kak ..." Tita menggelengkan kepalanya dengan tatapan penuh kesedihan.
"Dari dulu Ayah selalu membela Tita, bahkan Mom terkena amarah hanya gara-gara Tita! Jadi untuk apa Mom kembali bersama dengan Ayah? Kalau di hati Ayah hanya ada Tita, tidak ada tempat untuk Mom dan juga aku." Ucap Eve dengan lirih.