Emergency Wedding

Emergency Wedding
Part 68


Tatapan matanya kini beralih menatap suaminya yang terlihat sangat tampan, dengan setelan jas hitam yang melekat di tubuh kekarnya.


"Mereka tampak sangat serasi." Gumam Tita, menatap kedua orang yang kini sudah berada dihadapannya.


"Ayo kita masuk!" Boy segera berjalan menuju pintu masuk mansion.


Eve pun segera berjalan menyusul adik iparnya, sementara Tita lebih memilih berjalan di belakang Boy dan kakaknya, ia enggan mendekati suaminya karena sejak tadi Tita melihat wajah Boy begitu dingin, bahkan suaminya itu sama sekali tidak menyapanya.


"Nona Anda tidak apa-apa?" tanya Liam karena melihat perubahan di raut wajah istri tuan nya.


"Aku tidak apa-apa." Tita tersenyum pada Liam, lalu kembali menatap dua punggung yang ada di hadapan.


Tita tampak berpikir dengan keras kenapa suaminya bisa datang bersama dengan kak Eve? Apakah kakaknya itu juga di undang oleh Mars? Tapi jika pun kak Eve diundang, kenapa suaminya itu bisa datang bersama dengan kakaknya? Sedangkan dirinya justru dijemput oleh Liam.


"Sebenarnya suami aku ini siapa? Kenapa aku dijemput oleh Liam? Dan saat ini bahkan aku jalan bersama dengan pria lain?" batin Tita bertanya-tanya dengan wajah yang bingung.


Sementara itu di halaman belakang mansion, Mars, Kejora, dan Agam tampak menunggu kedatangan sepupu mereka. Karena acara sudah akan di mulai dan para tamu undangan yang kebanyakan kerabat mereka, dan rekan bisnis sang tuan rumah sudah berkumpul di halaman mansion.


"Itu B?" Kejora menunjuk kearah seseorang yang sejak tadi ditunggu oleh mereka.


Mars dan Agam serentak menatap kearah yang ditunjuk oleh Kejora.


"A siapa wanita itu? Apa kau mengenalnya?" tanya Mars saat melihat wanita asing yang berjalan di samping Boy. "Dan dimana Tita?"


Agam mengangkat kedua bahunya, sembari menatap intens kearah Boy dan wanita yang dibicarakan oleh Mars.


"Kenapa kau datang terlambat?" Mars menepuk bahu Boy saat pria itu sudah ada dihadapannya.


"Lebih baik terlambat dari pada tidak datang sama sekali." Ucap Boy dengan santai.


"Dia —"


"Aku disini." Seru Tita dengan kepala yang menyembul dari balik punggung kakaknya.


"Rupanya kau di situ?"


Mars menarik tangan Tita untuk berdiri di samping Boy, membuat Eve bergeser kearah samping.


"Agam!"


Tita begitu senang saat melihat pria yang note bene sepupu suaminya, sedang berdiri di samping Mars.


"Panggil saja aku A." Agam tersenyum pada Tita lalu menaruh ponselnya ke dalam saku kemeja


Boy dan Mars yang melihat sikap Agam saling menatap dengan bingung, karena tidak biasanya seorang Agam Mateo menaruh ponselnya hanya untuk berbicara dengan seorang wanita.


"A nama panggilan yang singkat seperti B." Tita menatap wajah suaminya yang masih saja terlihat datar dan dingin.


"B itu kenapa? Sejak tadi wajahnya terlihat marah, seharusnya aku yang marah karena dia datang bersama kak Eve dan tidak menjemputku." Batin Tita bergemuruh karena menahan rasa kekesalnya. "Ya Tuhan aku ini bicara apa? Seharusnya aku tidak boleh iri dan cemburu pada kakak ku sendiri." Tita merutuki suara hatinya yang merasa iri pada kakaknya.


"Oh ya, kenalkan ini istriku namanya Kejora." Mars meraih pinggang wanitanya.


"Kejora." Ia mengulurkan tangannya pada wanita yang berstatus sebagai istri dari seorang Boy Arbeto.


"Tita Anggara." Tita menerima uluran tangan dari wanita cantik yang terlihat sedang hamil, karena perut wanita itu terlihat sangat buncit. "Oh ya, kenalkan ini kak Eve dia kakak ku."


Eve yang sejak tadi diam kini tersenyum sembari memperkenalkan dirinya, ia merasa senang karena bisa berkenalan dengan keluarga besar Boy Arbeto. Dan setelah berbincang-bincang sesaat, mereka pun berjalan menuju meja makan karena acara sudah akan dimulai.