
Setelah masuk ke dalam kamar, Boy langsung menghempaskan tubuh Tita ke atas tempat tidur. Dengan sangat tidak sabaran ia menindih tubuh mungil itu agar tidak bisa melarikan diri.
"Stop ...." Tita mendorong wajah Boy yang hendak mencium bibirnya.
"Tit lepas!" Boy menarik tangan Tita yang menutupi wajah tampannya.
"Tidak mau ..." Tita terus mendorong wajah suaminya dengan kasar, bahkan kakinya ikut menendang tubuh Boy dengan sekuat tenaga.
"Diamlah Tit!" Boy yang merasa kewalahan menghadapi tendangan kaki Tita, sampai harus menggunakan tenaga ekstra untuk mengunci kaki wanitanya agar tidak bergerak.
Tapi Tita yang tidak mau kalah justru semakin bersemangat untuk lepas dari kungkungan suaminya, sungguh ia tidak ikhlas disentuh lagi oleh pria itu walaupun otak mesumnya menginginkan hal tersebut.
"Rupanya kau ingin bermain kasar." Boy menatap tajam pada Tita yang ada di bawah tubuhnya.
Mendapatkan tatapan tajam dan mematikan dari seorang Boy Arbeto, sontak membuat Tita Anggara ketakutan.
"A-apa yang ingin kau lakukan?" Tita menatap ngeri pada pria yang saat ini tengah menindih tubuhnya.
"Kau ingin tahu?" Boy menarik satu sudut bibirnya.
"Aku tidak ingin tahu, aku hanya ingin ..." seketika itu juga Tita berteriak kegelian. "B hentikan!" Tita bergerak ke kanan dan kiri untuk menghindari tangan Boy yang menggelitik pinggang dan perutnya.
"Bagaimana rasanya?" Boy terus menggelitik tubuh Tita, agar wanita itu kelelahan dan kehilangan tenaganya untuk melawan dirinya.
"B cukup ini sangat geli." Tita tertawa tak henti-hentinya sampai mengeluarkan air mata.
"B kau itu brengsek." Ucap Tita hendak memukul dada bidang Boy, namun tangannya yang lemah itu justru ditangkap dengan mudah oleh suaminya.
"Ya aku memang brengsek." Boy mendekatkan wajahnya, lalu mengecup bibir mungil milik Tita yang sudah lama tidak disentuhnya.
Karena semenjak wanita itu bekerja di Perusahaan Agam, dan berubah menjadi sosok wanita yang lebih dewasa, Boy tidak lagi bisa menyentuh tubuh Tita karena wanita itu selalu mengatakan masih berhalangan.
"B kau tidak bisa melakukan ini." Ujar Tita saat ciuman mereka terlepas. "Aku masih menstruasi."
"What?" Boy menatap Tita dengan kening yang berkerut. "Mana mungkin selama ini? Kau pasti sedang berbohong!"
"Tidak! Aku tidak berbohong." Tita mencari celah saat suaminya lengah, bergerak perlahan keluar dari himpitan tubuh Boy.
"Kau mau kemana?" Boy menarik kedua kaki Tita lalu kembali menghimpit tubuh wanitanya.
"B kau itu mau apalagi!" Tita mendengus kesal menatap Boy yang tidak juga menyerah, padahal jelas-jelas Tita sudah mengatakan dirinya masih menstruasi yang artinya pria itu tidak bisa menyentuhnya.
"Aku ingin membuktikan apa benar kau masih berhalangan?" Boy menarik satu sudut bibirnya.
"A-apa maksudmu?" Tita yang bingung wajahnya langsung terkejut, saat bawahan yang dikenakannya ditarik paksa oleh Boy. "B ..." pekik Tita dengan wajah yang pucat. "Sial! Kalau sampai Boy tahu aku berbohong habislah aku." Gumam Tita dalam hati.
"Mari kita lihat apa kau berbohong atau tidak." Boy menatap kearah benda segitiga yang menutupi milik wanitanya.
"Stop B!" Tita menahan tangan suaminya. "Tolong jangan diteruskan." Pinta Tita dengan sendu, sungguh ia merasa sangat lelah dengan semuanya dan memilih berkata jujur pada suaminya. "Aku tidak sedang menstruasi." Tita menundukkan kepalanya.