
Eve yang masih berdiri di depan pintu kamar Boy dan Tita, tanpa menyerah terus mengetuk pintu kamar tersebut.
"Sial! Mereka itu sedang apa?"
Eve begitu marah merasa tidak dihargai, karena sejak dirinya masuk ke dalam vila dan menunggu di ruang tengah, baik Tita ataupun Boy tidak ada yang keluar dari kamar untuk menemuinya.
"****! Mereka pasti sedang bercinta." Gumam Eve dengan tangan yang terkepal erat. Ia memutuskan kembali ke ruang tengah dari pada harus berdiri terus di depan pintu kamar tersebut. "Aku akan menunggu kalian, terutama kau B." Eve duduk di atas sofa dengan raut wajah yang kesal.
Entah berapa lama Eve menunggu di ruang tengah bahkan sampai tertidur di atas sofa, karena ketika ia terbangun sore sudah berganti menjadi malam. Namun keberadaan dua orang yang sejak tadi ditunggunya tidak juga menampakkan batang hidungnya.
"Oh my God, mereka benar-benar keterlaluan." Eve yang sangat marah memutuskan untuk kembali ke kamar tersebut. Namun baru saja ia hendak melangkahkan kakinya, Eve melihat sosok pria tampan yang sejak tadi ditunggunya sedang berjalan menuju ruang makan
"B ..." Eve segera menghampiri pria itu.
Sedangkan Boy yang mendengar namanya di panggil, hanya diam saja dan terus berjalan menuju lemari pendingin. Ia langsung membuka dan mengambil minuman yang ada di lemari tersebut, karena tenggorokannya begitu haus setelah berolahraga di atas ranjang selama berjam-jam.
"B akhirnya kau keluar." Eve menghalangi langkah Boy yang hendak keluar dari ruang makan.
"Menyingkir dari hadapanku!" ucap Boy dengan tegas dan kasar, karena saat ini hanya ada dirinya dan juga Eve di ruangan tersebut, jadi ia tidak perlu berpura-pura untuk bersikap baik pada wanita itu.
"B kenapa kau marah dan menghindar dariku? Apa karena kejadian malam itu?" tanya Eve.
"Tapi B tidak seharusnya kau marah padaku, yang terjadi hanyalah sebuah kesalahpahaman dan ingatlah kau yang menarikku lebih dulu." Lirih Eve dengan tatapan mata yang sendu. Itu semua ia lakukan dengan sengaja untuk membuat pria itu simpati lagi kepadanya.
"Tapi kau yang memulainya!" sentak Boy sambil mencengkram rahang Eve dengan kuat. "Apa kau lupa? Malam itu dengan lancangnya kau masuk ke dalam ruang kerjaku dan sengaja menggodaku." Boy mendorong tubuh Eve hingga membentur dinding.
"Tidak! Itu tidak benar." Eve berusaha menggapai lengan Boy agar melepaskan cengkraman di rahangnya. "A-aku masuk ke ruang kerjamu hanya untuk membawakan teh hangat, karena aku yakin minuman yang aku buat pasti sudah habis. Tapi ketika aku ingin melihat wajah mu dari dekat kau justru menarikku dan ..." Eve tidak bisa meneruskan perkataannya saat cengkraman di rahangnya terasa semakin kencang.
"Ck .. ternyata kau pandai berbohong." Boy tertawa sinis sambil melepaskan cengkeramannya.
"A-aku tidak berbohong, bukankah aku sudah menjelaskannya saat itu juga." Eve mulai gugup saat melihat sorot mata yang tajam dari Boy.
"Eve .. Eve .. apa kau pikir aku ini mudah dibodohi?" Boy menarik satu sudut bibirnya. "Aku sudah memeriksa kamera CCTV yang ada diruanganku, dan aku bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi saat itu." Ujar Boy dengan geram.
Deg
Eve langsung terdiam dengan wajah yang terkejut, ia melupakan satu hal penting yang ada di setiap ruangan yaitu kamera CCTV. Eve yang ketakutan sampai gemetaran dan keringat dingin mulai mengalir di wajahnya.
"Kenapa? Kau terkejut?" sindir Boy. "Kau tahu? Tadinya aku berpikir kau adalah wanita baik-baik, dan kejadian malam itu hanya sebuah kesalahpahaman seperti yang kau katakan tadi. Tapi rupanya aku salah, karena kau memperlihatkan siapa dirimu yang sebenarnya dengan nekat menyusul kami ke Bali."