De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Perfect Life (End)


"Kakak!" teriak Naomi sembari turun dari mobil dan berlari kearah Jessie yang menunggunya di depan pintu.


Tubuh mungil Naomi memudahkan Jessie untuk mengangkatnya dan memeluknya meski sempat membuat keluarganya terkejut karena aksinya.


"Baby, kakimu—"


"I'm okay!"


Bocah itu duduk diatas pangkuannya. Naomi meletakkan tangan kecilnya di pipi Jessie.


"Kakak sudah tidak apa-apa, kan?" Jessie mengangguk.


"Panggil aku mama." Meraih tangan kecil Naomi di pipi dan mengecupnya.


"Boleh?!" pekik Naomi bertanya. Jessie kembali menangguk. Gadis itu bersorak senang sambil memeluknya dengan gembira.


"Bagaimana denganku?" datar Xavier. Jessie tertawa pelan dan berbisik pada Naomi.


"Yey! Naomi punya dua daddy!" Gadis itu turun dari pangkuan Jessie dan melompat ke pelukan Xavier yang terkejut. Untung ia menangkap dengan cepat.


Jessie menatap Alroy yang tersenyum menatap mereka. Mata mereka bertemu. Jessie ikut memberi senyuman tulus pada pria itu. Pria yang berhasil membuat sang kakak merasakan cinta dan keluarga.


"Thank you," ucap Jessie tanpa suara, namun dapat dipahami oleh Alroy. Pria itu mengangguk dengan tersenyum.


"Naomi, ayo main dengan Grandma dan Grandpa!" panggil Rachel. Naomi langsung turun dari gendongan Xavier dan berlari ke arah neneknya.


-


-


-


"Pelan-pelan saja. Jangan dipaksa," peringat Xavier.


Jessie sedikit meringis setiap kali membawa kakinya berdiri. Xavier setia memegang tangannya setiap kali kakinya melangkah pelan.


Belakangan ini ia sering melatih kakinya. Xavier selalu ada untuk membantunya. Sedikit demi sedikit ia bisa melangkahkan kakinya lebih jauh meski tidak banyak. Namun Jessie sudah mensyukuri itu.


Jessie benar-benar lega. Satu-persatu masalah telah selesai begitupun urusan perusahaan yang cukup kacau saat dirinya koma meski itu berkat bantuan Xavier juga. Intinya ia tak pernah merasa selega ini sebelumnya.


Semua anggota keluarga Lawrence juga telah mendapat bagiannya masing-masing termasuk Ellard yang ingin menjadi seorang dokter ketimbang bekerja di perusahaan keluarga.


Naomi mulai masuk taman kanak-kanak yang ada di Manhattan karena Alroy memutuskan tinggal di Amerika.


"Kau tahu Laura dan Felix sedang berkencan?" Jessie mendongak agar bisa menatap suaminya.


Keduanya sudah duduk dengan kaki berselonjor di atas rumput hijau yang ada di taman belakang setelah Jessie menyelesaikan latihan rutinnya.


"Mereka sudah dekat sejak kau koma." Cup! Mengecup bibir pink istrinya.


"Kau jangan menyulitkan Felix ya. Jangan mengganggu kencan mereka," tunjuk Jessie dengan mata memicing.


"Tidak tertarik!" bisik Xavier. Pria itu mulai nakal dengan menciumi leher Jessie yang menggeliat geli. Namun hanya beberapa saat karena pekikan seseorang mengganggu keduanya. Xavier berdecak kesal.


"Mama! Daddy!"


Naomi berlari kearah mereka dengan seragam sekolahnya. Gadis kecil itu baru saja kembali dari sekolah dan mencari mama papanya, terbukti dari tas ranselnya yang masih ada di gendongannya.


"Jangan berlari, Honey."


"Jangan melompati ibumu lagi," peringat Xavier.


Naomi tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Xavier ikut tersenyum dan memberikan banyak kecupan di pipi Naomi.


"Haha ... Daddy geli!"


"Siapa suruh kau menggemaskan!" Pria itu membaringkan Naomi di rumput dan mulai menggelitiki gadis itu.


"Mama, help me!" Tawa Naomi terdengar nyaring. Jessie ikut tertawa sejak tadi.


-


-


-


Tiga tahun kemudian ....


Masih dengan pemandangan yang sama, Naomi yang telah beranjak lebih besar melompat girang melihat ibunya sudah menjemput di depan sekolah.


"Happy birthday, Naomi."


Sebuket bunga baby breath menjadi hadiah pertamanya dari wanita cantik dengan perut besar nya. Hadiah lain akan menyusul nanti.


"Mama ingin dimarahi daddy karena datang sendiri?" Naomi berkacak pinggang.


"Daddymu yang mana?"


Naomi mengerucutkan bibirnya. "Daddy Xavier, Mama!" Jessie tertawa puas setelah mengerjai bocah ini.


"Mama sudah mendapat izin. Khusus hari ini Mama ingin berdua merayakan ulang tahunmu."


"Bukan berdua, tapi bertiga!"


Ah benar! Jessie menepuk keningnya.


"Maafkan, Mommy mu ya little baby karena hampir melupakanmu." Naomi mengelus perut Jessie dan berbicara padanya seolah mengerti.


Jessie tertawa, "benar, maafkan mommy ya." Ikut mengelus perutnya.


Lengkap sudah kebahagiaannya. Putri yang manis, suami yang luar biasa serta keluarga yang sempurna.


Saat ia sudah mampu menerima kenyataan, Tuhan masih berbaik hati memberinya kabar bahagia dengan kehamilan pertama. Tentu saja ini kejutan untuk mereka semua dimana harapan itu sempat hilang dan terkubur.


...----------------...


..."Inilah hasil dari hidup yang kuperjuangkan. Kuharap masa depan yang indah akan selalu bersama kami."...


...Jessie De Lawrence...


...- End -...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Huhu akhirnya tamat juga🥲


sekali lagi thank you buat yang baca❤