De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Past Story: Kisah Penutup


Jessica terus mencoba menenangkan adiknya yang belum berhenti menangis dengan memeluknya serta memberi usapan lembut di lengannya.


"Sorry, aku tidak akan melakukanya. Sungguh!" Jessica meyakinkan.


Jessie masih sesugukan.


"No, aku tidak sedih. Aku bahagia," kilah Jessie.


"Jangan membohongiku."


"Kau juga berbohong!"


"Lawrence—"


"Mimpi itu sungguh terjadi. Kalian akan menikah." Jessie melepas pelukannya dan merengkuh wajah sang kakak dengan air masih mengalir dimatanya, namun bibirnya melengkungkan senyuman.


"Jika iya, itu akan berakhir buruk!" sarkas Jessica.


"Kau masih mempercayai kutukan bodoh itu? Dengar, kak. Aku akan membantumu! Aku ingat semua hal yang disukainya. Dia akan luluh padamu—"


"Sudah cukup!" Kali ini Jessica yang merengkuh wajah itu dengan linangan air mata itu. Hatinya seperti tercabik melihat wajah yang menahan rasa sakit itu, "aku akan mencari cara! Kakek pasti akan mendengarkan."


"Kakak, aku tidak masalah jika itu terjadi."


"Jangan gila! Aku tidak akan menikahi kekasih adikku."


"Dia bukan kekasihku lagi. Kau lihat sikapnya padaku. Sekarang aku orang asing."


"Dia bisa kembali—"


"Tidak. Ingatan itu kemungkinan akan hilang secara permanen. Ini kesempatannya. Memang seharusnya dia tidak mengenalku."


"Kau menyerah?"


Jessie memeluk lututnya, menyandarkan kepala di dinding koridor.


"Aku akan tinggal dengan mom di Manhattan. Kau tetap disini bersama daddy dan urusan mu."


"Lawrence ...."


"Aku akan lebih lega jika dia bersamamu daripada orang lain. Jaga saja dirinya, aku akan datang mengambilnya kembali."


"Maksudmu?"


Jessie menghela nafas. "Biar aku bicara dengan kakek sebelum pergi. Jika berhasil, kumohon jaga dia untukku. Jika tidak, maka berbahagialah untukku."


Jessie menoleh pada sang kakak yang menatapnya tidak percaya. Tidak tahu harus menjawab apa lagi, Jessica menelungkup wajahnya di atas lutut. Isakan mulai terdengar dengan tubuhnya yang mulai bergetar.


"Mengapa? Mengapa kita harus terlahir dalam kondisi ini?!" Jessica menangis cukup keras, "aku hanya ingin kehidupan sederhana. Tidak ada ancaman, tidak ada konflik." Jessie hanya mampu diam diiringi air mata yang mengalir lembut di pipinya.


Mereka tidak berdaya.


Adiknya tidak tahu jika diluar sana ada banyak orang yang menginginkan nyawanya. Sudah beberapa kali ia beruntung melewati maut. Entah sampai kapan mereka berhenti, Jessica tidak bisa menyerah.


Jessie tidak pernah mengetahui itu. Bahkan tidak tahu jika dirinya bisa berganti posisi menggantikan sang kakak. Bagi Jessica, adiknya hanya gadis polos yang tidak mengerti dunia sesungguhnya.


Itulah hari terakhir kami bersama. Hari itu aku ikut pergi bersama ibuku ke Amerika, tepatnya di kota Manhattan untuk menjalani kehidupan baru.


Aku memutuskan untuk melepaskan Xavier bersama Jessica. Meski dia sangat dingin, saat jatuh cinta pria itu akan berubah menjadi pria yang lembut. Aku percaya dia bisa mencintainya Jessica.


Aku tidak pernah mendengar berita mereka lagi sejak di Manhattan. Tak lama setelah itu, berita tentang Jessica muncul sebagai Presdir baru. Itu juga pertama kalinya wajah Jessica muncul di publik, tapi aku tidak mengerti mengapa semua orang memanggilnya dengan namaku, Lawrence.


Dengan itu aku meyakini jika pernikahan itu juga terjadi.


Entah apa yang terjadi, sebenarnya aku tidak pernah berbicara pada kakek. Aku mengatakannya untuk menenangkan Jessica. Waktu itu aku memang bodoh dan naif. Aku membiarkannya menderita sendirian tanpa tahu kesulitannya.


Seharusnya aku memberinya bahagia di saat terakhirnya.


Hari itu adalah ulang tahunku yang ke dua puluh tahun. Kami banyak berubah, terutama diriku. Aku tidak sepolos dulu karena sempat membenci diriku sendiri. Aku bertekad menjadi lebih baik dan tidak merepotkan orang lain lagi.


"Aku sudah di Manhattan. Mom dan Dad akan menyusul di tempat perayaan kita."


Pesan masuk dari Jessica membuatku menunggu. Kami akan bertemu pertama kali setelah hampir satu tahun berpisah. Wanita itu selalu ingin menjadi yang pertama di hari ulang tahunku.


"Kami akan sampai sekitar sore hari, tunggulah. Ingat, jangan pernah memberitahu namamu jika kau bertemu salah satu dari mereka." Pesan dari ibunya ikut menyusul.


"Namamu Jessie Millen!" Pesan dari ayahnya.


Pesan mereka bertiga masuk begitu aku terbangun. Beberapa hari lalu ibuku memang kembali ke Finlandia untuk mengecek keadaan Jessica. Sekarang mereka akan ke Manhattan bersama-sama.


Namun hari pertama itu, berubah menjadi hari terakhir kami.


Dia datang padaku dalam keadaan tubuh kaku dan mata tertutup. Tidak ada nafas atau senyuman. Tidak ada suara tawa yang menghibur.


Aku tidak dapat bergerak lagi. Tubuhku mulai mati rasa, tapi kurasakan buliran air yang keluar dari sudut mataku tak dapat berhenti.


Keluarga mulai berdatangan. Itulah hari aku dapat melihat mereka semua termasuk kakek.


Kami semua berkumpul di mansion utama tempat Jessica akan dimakamkan. Tapi sudah cukup lama, ibu dan ayahku belum juga datang.


"Makamkan!" Kakek memberi perintah.


"Apa tidak menunggu nyonya Sophia dan tuan Jose?" Aku ingin mencegah sebisaku.


"Kita sudah menunggu cukup lama," sela wanita lain di antara mereka. Aku kenal dia. Itu adalah Mrs. Rexanne Lawrence.


Pemakaman selesai, sosok itu telah pergi. Aku hanya berdiri sendirian di depan makam kakakku. Aku tidak tahu mengapa ayah dan ibu belum juga datang.


Hari itu, dimana duniaku telah hancur.


Setelah pemakaman Jessica, kabar kematian orang tuaku ikut menyusul. Aku ingat pesan terakhir kakak yang mengatakan mom dan dad akan menyusul. Menyusul untuk pergi! Sophia pergi mencari Jose namun harus berakhir sama.


Itulah kisah terakhir Jessica De Lawrence sebagai kakak yang luar biasa untukku. Kisah terakhir dari orang tuaku dan Kisah penutup dari Lawrence.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...