
Seorang pria bersimpuh di sebelah makam setelah meletakkan sebuket bunga. Ia mengusap batu nisan yang berdebu itu dengan tangannya sehingga foto yang terdapat disana kembali terlihat.
"Maaf baru mengunjungi kalian hari ini. Lain kali tidak akan terlambat."
Mungkin ia belum terbiasa untuk datang pada tanggal yang sama setiap bulannya. Ini adalah kedua kalinya ia datang.
"Aku akan mengingatnya bulan depan."
Ternyata seperti ini yang dirasakan istrinya saat tanggal kelahirannya sama dengan hari kematian orang tuannya. Ini juga yang dirasakan Xavier saat ini.
Ia harus menggantikan istrinya untuk mendatangi makam Sophia dan suaminya pada tanggal yang sama pula. Padahal tanggal tersebut telah menjadi luka untuknya karena merupakan hari istrinya celaka.Tentu saja ini cukup berat baginya.
"Jika kalian bersamanya— tolong bujuk dia untuk kembali. Dia sudah tidur cukup lama— waktunya bangun."
"Aku tidak bisa melepasnya begitu saja. Aku tidak rela kehilangannya lagi. Jadi tolong— jangan ambil dia dari duniaku."
-
-
-
Ini adalah saat pertama kalinya kau muncul.
Kau berada tepat di depanku. Memeluk seekor kucing yang terluka di bawah pohon. Kau menangisinya seperti orang bodoh.
Aku tahu— sejak melihat itu, aku tahu kau akan jadi gadis menyebalkan untukku. Aku tidak suka ada wanita yang mengusikku. Wanita tidak pernah ada dalam kamusku.
Tapi saat binar matamu yang bercahaya menatapku— aku ingin menjadi yang pertama menghentikan tangismu.
"Tolong dia ..." Bibirnya bergetar sambil menatap memohon padaku. Itu membuatnya terlihat lucu.
"Bukan urusanku!" Tidak tahu mengapa aku menjawabnya dengan ketus.
Air mata itu mengalir lagi, bahkan isakan mulai terdengar. Menyebalkan! Itu yang kupikirkan saat itu. Aku tidak percaya masih ada gadis yang sangat cengeng seperti dia.
"Jangan menangis lagi!" Aku mencoba mengontrol suaraku agar tidak membuatnya takut.
**
"Xavier!"
Saat itu kau melambaikan tanganmu ke atas sambil melompat-lompat memanggilku. Akhirnya aku benar-benar memelihara seorang bocah.
"Aku membeli banyak es krim disana. Aku juga membelinya untukmu," katanya antusias.
"Tidak!" jawabku datar. Aku melenggang pergi begitu saja. Apa itu es krim? Pantas saja dia sangat kurus.
"Xavier!"
"Aku tidak suka."
"Tapi aku suka!"
Karena ia terus mendesakku, pada akhirnya aku mengalah. Semua mengalir begitu saja. Aku mulai menyukai semua yang ia suka dan membenci apa yang ia tidak suka.
**
"Jangan dekat-dekat dengannya!"
"Memangnya kenapa? Dia temanku!" katanya berteriak.
"Aku tidak suka!"
Temannya seorang pria. Wajar aku marah, kan?
Aku ingat waktu itu aku menggigit pipinya karena kesal dan ia menangis lagi.
-
-
-
Ada banyak kenangan yang seharusnya tidak aku lupakan. Aku benar-benar menyesal dan benci dengan kenyataan bahwa aku pernah melupakannya begitu saja.
Aku takut membayangkan bagaimana kesepiannya gadis manja itu setelah kami berpisah. Belum lagi harus kehilangan kakak dan orang tuanya. Jika aku tidak melupakannya, ia tidak perlu memikirkan cara untuk melindungiku.
Setelah beberapa minggu pernikahan, tak sengaja kulihat ia mengeluarkan sebuah buku dari lacinya setelah memetik bunga di kamar.
Ia tidak tahu jika sejak saat itu aku mulai membuka bukunya diam-diam. Aku tahu dimana ia meletakkan kuncinya. Awalnya sulit untukku memahami, namun dengan paksaan aku mampu mengingatnya kembali.
Pada akhirnya aku sangat bersyukur dan bahagia. Untungnya orang tuaku berhasil membuatku menikahinya meski dengan ancaman.
Aku mencatat semua yang kuingat seperti Jessie yang mencatat semua ceritanya dalam bukunya. Rutinitas itu kulakukan sejak dua bulan lalu. Aku akan menunjukkannya setelah ia bangun nanti.
Lihatlah, Baby. Aku melakukan semua kebiasaanmu. Kau harus bangun dan tersenyum lagi untukku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di beberapa narasi ada flashback antara Xavier dan Jessie ya. Anggap aja itu sekilas masa lalu yang diambil dari sudut pandang Xavier sendiri.