De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Luka dan Cinta yang Salah


Valerie bangun dengan cepat begitu mendengar berita dari televisi. Ia mencengkram erat jeruji besi dengan mata memerah. Berita kecelakaan Jessie menyebar dengan cepat termasuk di tempatnya sekarang.


"Kudengar kondisinya kritis." Beberapa penjaga bicara.


Tidak!


"Dia koma."


Semakin Valerie mendengarkan, semakin ia merasa tersiksa. Tangan yang semula memegang jeruji berpindah menjambak rambutnya.


"Tidak mungkin!"


Mengapa Jessie? Ia telah merencanakannya! Pria itu yang harusnya mati.


"Tidak— dia tidak boleh mati!" Valerie mulai tertawa, namun cairan bening di sudut matanya terus keluar.


"Jessie milikku!" Valerie menggeleng kuat, "aku hanya ingin menyingkirkan Lawrence, bukan Jessie."


"Lalu kenapa kau ingin menyingkirkan Xavier juga?" Suara wanita membuat Valerie mengangkat kepalanya.


"Laura?"


Entah bagaimana wanita itu bisa ada disana, yang jelas para penjaga sudah tidak ada.


"Kenapa kau melakukan ini, Val? Kami percaya padamu!" Ada luka di balik tatapan itu.


Valerie mendekat dan kembali memegang jeruji. Keduanya dibatasi dengan benda besi itu sehingga Valerie tidak dapat menjangkaunya lebih jauh.


"Jika hanya kekuasaan, Jessie akan memberikannya! Kenapa kau mengkhianati kami dan membunuh Jessica?" tanya Laura sekali lagi.


"Kau— kau tidak mengerti, Laura," lirihnya, masih dengan air matanya.


"Kalau begitu buat aku mengerti."


"Jessica berbeda! Dia ingin menjauhkanku dengan Jessie. Aku sudah berjanji tidak akan mengganggu Jessie tapi dia marah!" Valerie menjatuhkan kepalanya di jeruji.


Jujur Laura masih belum mengerti.


"Kenapa dia harus marah?"


Valerie mengangkat kepalanya kembali.


"Karena aku mencintai adiknya!" Tertawa, wanita itu kembali tertawa.


Laura merasa tubuhnya langsung membeku.


"Ma— maksudmu?"


"Laura— aku tidak tertarik dengan harta mereka. Aku tertarik dengan pewaris mereka!"


Itulah kenyataan yang sebenarnya. Alasan yang ia katakan pada Jessie dan Laura sangat berbeda. Valerie memang tidak berniat mengatakan yang sebenarnya pada Jessie.


"Kau— kau menyukai Jessie?" tanya Laura tak percaya.


"Kau tidak percaya, kan?"


Memang benar orang tuanya penyebab kematian orang tua Jessie. Namun sejak bertemu pertama kali, Valerie melupakan tujuan awalnya. Mata cantik yang memandangnya bersahabat dan lembut menumbuhkan ambisi lain dalam diri Valerie.


Cinta. Mungkin gila, namun itulah alasan sebenarnya. Ia jatuh cinta pada seorang gadis.


"Kau gila?!"


"IYA! AKU GILA, LAURA! AKU MENYUKAI SEJENISKU SENDIRI! ITU SEBABNYA AKU GILA!"


"Aku sadar tidak bisa memilikinya, maka pria itu juga tidak boleh! Siapapun yang menghalangi akan ku singkirkan!"


Gila! Valerie sudah gila!


"Orang tuaku memang menginginkan harta mereka tapi aku tidak, Laura. Aku tidak berbuat jahat. Aku bahkan berdiri setia di samping Jessie, tapi— kenapa dia tidak menatapku?"


"Dia tidak akan bisa menatapmu lagi." Wajah Laura telah berubah datar begitupun ucapannya.


"Itu bukan cinta, Val. Kau terobsesi."


"AKU MENCINTAINYA!" teriak Valerie.


"CINTA TIDAK AKAN MELUKAI!" bentak Laura akhirnya. Wanita itu menarik kaos leher baju Valerie.


"Kau meracuninya, itu kau sebut cinta? Membunuh dan menyakiti orang tersayangnya, apa itu juga kau sebut cinta?!"


"Dia menyayangimu, Val. Butuh satu tahun baginya mempersiapkan diri untuk ini! Kenapa? Dia berharap kau berubah!"


Valerie tidak melawan dengan semua makian Laura. Wanita itu terdiam dengan air matanya.


Laura melepas cengkramannya dan mendorong Valerie dengan kasar hingga tersungkur. Valerie membiarkan tubuhnya tergeletak tanpa berniat bergerak. Tangannya mengepal dan bergetar.


"Aku tidak akan menyalahkan tentang perasaanmu pada Jessie meski itu salah. Tapi kau telah membuat orang yang kau cintai terluka. Jadi pikirkan sendiri cinta seperti apa yang maksud!"


Laura hendak pergi setelah itu, namun suara Valerie menghentikannya.


"Bagaimana— bagaimana keadaannya?" Ia tulus menanyakannya.


"Pendarahan hebat, patah tulang rusuk dan kaki. Dia koma dengan harapan sadar yang kecil. Jika bangun, dia mungkin akan cacat." Laura mengatakan dengan sebenarnya.


Tubuh Valerie ikut bergetar dengan isakan.


"Maaf—"


"Maafkan— maafkan aku, Jess," isaknya.


"Semua karena Lawrence! Dia yang membawa Jessie pada Xavier!"


Laura baru menyadari jika Valerie menganggap Jessie dan Lawrence adalah orang yang berbeda.


Laura melanjutkan langkahnya dengan berat. Ia menahan sesak yang menyusup di dadanya. Persahabatan dan kebersamaan mereka telah hancur. Ia nyaris kehilangan dua keluarga sekaligus. Tentu saja Jessie dan Valerie telah menjadi keluarga untuknya.


Sampai isakan dari Laura juga terdengar. Seseorang membawa wanita itu dalam pelukannya membuat isakan itu semakin menjadi.


"Kami semua terluka, Felix."


"Aku tahu."


Laura mengeratkan pelukannya pada pria yang beberapa hari ini telah mengusiknya. Seolah mengetahui bahwa dirinya tidak baik-baik saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebenernya ini juga plot twist sih buat aku🤭