De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Tidur Panjang


"Apa hanya sampai disini?"


"Kisah kita hanya sampai disini, hm?"


"Kau pikir dengan kau pergi, ceritaku masih berlanjut?!"


Tubuh kekar itu bergetar lagi. Xavier mengecup tangan pucat istrinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Maaf— aku tidak sanggup, Baby. Aku sudah memikirkan ini sangat lama." Memberikan kecupan lagi di dahi Jessie.


"Kau boleh memarahiku nanti," bisik Xavier.


Pria itu mulai membuka laci nakas dan mengambil sebuah pisau buah yang tersimpan disana. Tatapan mata Xavier sudah kosong. Yang ia pikiran hanya mati dan bertemu dengan istrinya.


"Aku mencintaimu."


Rasa sakit mulai menjalar saat pisau itu mulai menembuh kulit nadinya di pergelangan tangan. Hanya ini cara tercepat untuk mati, kan?


Cairan merah menetes mengenai lantai. Sedikit demi sedikit hingga tetesan menjadi semakin banyak.


Sebelum benar-benar selesai, lengkingan nyaring terdengar dan merampas pisau itu dari tangannya dan dilempar jauh darinya.


"KAU GILA!" bentak Argus sambil mengikat pergelangan tangannya dengan kain yang di robek. Rachel ikut gila dibuatnya. Wanita itu sudah menjatuhkan diri di lantai karena syok.


"Aku ingin ikut dia, dad," lirihnya. Mengabaikan rasa sakit di tangannya.


"Dan meninggalkan kami?! Kau—"


Makian Argus terhenti saat mesin EKG yang belum dilepas kembali berbunyi. Garis yang semula lurus, mulai membentuk garis zigzag. Ketiganya segera mengecek keadaan Jessie. Rachel dengan cepat memanggil dokter.


"Ini keajaiban! Mrs. Johansson telah melewati masa kritis! Kondisinya juga membaik dari sebelumnya."


Cinta di sekitarnya telah memberi Jessie kekuatan untuk kembali berjuang.


Senyum Xavier mengembang. Ia merengkuh wajah Jessie dan mencium semua sisi wajahnya dengan terharu.


"Terima kasih, Tuhan. Aku berjanji— aku berjanji akan menjaganya."


"Dia akan sadar, kan?" tanya Rachel.


"Seharusnya begitu, Mrs. Sebaiknya kita menunggu."


Dokter itu berpamitan setelah menyelesaikan urusannya. Xavier tak henti-hentinya mengembangkan senyuman.


"Lihat? Jika kau mati tadi, bagaimana?!" hardik Argus.


"Pergi obati tanganmu. Kau mau Jessie melihatnya?"


Pria itu langsung tersadar. Benar, Jessie tidak boleh melihat keadaannya yang kacau. Tapi ia ingin melihat istrinya bangun.


Rasanya aku telah tertidur sangat lama. Sekujur tubuhku kaku seolah aku telah tertidur panjang tanpa bergerak. Berbagai mimpi aneh berputar dalam kepalaku. Terkadang kudengar suara bising, kemudian tangis, lalu berganti lagi menjadi sedikit candaan.


Namun sebanyak apapun telingaku mendengar, aku tidak dapat melakukan apapun selain menatap kegelapan di sekitarku. Semuanya kosong dan aku berdiri sendirian di dalam ruangan luas tanpa ujung.


Aku terjebak disana. Sejauh apapun aku melangkah, tak dapat kutemukan ujung dalam tempat itu. Perasaan bercampur ketakutan dan khawatir penuh frustasi saat kakinya tak dapat bergerak lagi.


Suara-suara itu masih ada. Mata dan telingaku berusaha mencari dimana asal suara itu terdengar. Pikiranku linglung dan lambat, namun beberapa saat akhirnya kusadari bahwa ini hanya mimpi.


Apa aku telah mati? Inikah titik terdalam kesadaran menekanku?


Suara tangisan terdengar, membuatku langsung mendongak cepat. Aku mengenal pemilik suara itu. Ia orang yang tidak ingin ku tinggalkan.


Maaf— aku tidak sanggup, Baby. Aku sudah memikirkan ini sangat lama.


Xavier!


Aku berdiri, mencari apapun meski itu hanya setitik cahaya. Aku harus kembali atau pria itu akan kehilangan hidupnya.


Kau boleh memarahiku nanti.


Tidak boleh! Kau akan terjebak di tempat gelap ini sama sepertiku.


Berlari, aku berlari sekuat mungkin. Memaksa kakinya terus bergerak meski rasanya aku berlari di atas ribuan jarum. Entah berapa lama aku mencoba, tidak ada yang berubah.


Kumohon! Seseorang tahan dia! Dia tidak boleh pergi.


Aku tidak mendengar suaranya lagi. Hal itu membuatku kalut. Xavier, kumohon bertahanlah sebentar lagi.


Aku mencintaimu ....


TIDAK!


Langkahku spontan terhenti saat kegelapan itu menghilang, berganti menjadi warna putih tanpa ujung.


Setelah cukup lama ... akhirnya aku melihat harapan.


Kemudian kesadaran seperti menarikku. Tiba-tiba tubuhku terhempas jatuh dalam lubang curam dengan mata tertutup. Aku tidak dapat berteriak ataupun menjerit.


Sekuat tenaga ... kupaksa mataku agar terbuka.


"Baby!"


"Jessie!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...