
Felix merasa heran selama di perjalanan menuju mansion sangat hening padahal ada empat orang di dalam mobil yang dibawanya ini termasuk ia sendiri.
Ellard sendiri sudah tahu jika ada masalah pada sepasang suami istri itu sejak di Finlandia jadi memutuskan untuk diam saja daripada terkena masalah juga.
"My daughter!" sambut Rachel gembira di depan pintu.
"Hai, Mom."
"Xavier—" Rachel hendak menegur putranya juga, namun pria itu hanya berjalan melewatinya.
"Hei!" seru Rachel kesal.
"Biarkan saja dia," ujar Argus.
"Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja kan selama disana?" Argus merengkuh kedua pundaknya sambil berjalan masuk.
"Kalian sangat khawatir aku mati ya?"
"Shtt! Tidak baik bicara seperti itu," tegur Rachel.
"Tidak ada salahnya khawatir, Honey. Tempat itu sedikit berbahaya untukmu. Sebaiknya jangan terlalu jauh dari kami," ucap Argus.
"Aku tahu ... Tapi aku tidak bisa terus bersembunyi."
"Kau bisa muncul, tapi tidak sekarang. Mengerti?" peringat Argus.
"Aku mengerti, Dad. Sangat mengerti!" tekan Jessie, "aku akan istirahat. Sampai jumpa."
Rachel dan Argus menatap Jessie yang mulai menjauh dan menghilang.
"Mereka mengikuti Jessie?" tanya Rachel mulai khawatir.
"Hmm, mereka curiga mengapa kita memilihnya."
"Sudah kuduga!" Rachel menjatuhkan tubuhnya di sofa, "Xavier dulunya bertunangan dengan Jessica, namun tiba-tiba menikah dengan Jessie yang berstatus bawahan Lawrence. Kita terlalu gegabah, Argus."
"Tenanglah. Jangan membuat Jessie cemas."
Dibalik dinding, Jessie mendengarkan dengan tenang dan nafas teratur. Ia belum benar-benar pergi dan menunggu.
-
-
-
Aku tahu keputusanku menikah akan cukup beresiko. Mengabaikan Lawrence dan menikah dengan seorang bawahan sepertiku pasti membuat banyak perdebatan. Namun apa yang bisa kupikirkan saat satu-satunya rumahku adalah pria itu.
Aku sudah cukup putus asa menerima takdirku. Jika bukan keinginan untuk bersama, aku tidak akan melangkah sejauh ini. Kupikir kekuasaan bisa membuatku memilikinya. Aku yakin bisa membuatnya mencintaiku lagi seperti dulu.
"Hanya segitu perjuangannya? Pria itu hampir mati untuknya, tapi gadis itu malah pergi."
Aku hanya mampu tersenyum kecut mengingat ucapan Xavier waktu itu. Aku sangat payah, kan? Untuk itulah aku datang sekarang, untuk membayar apa yang tidak bisa kulakukan untuknya dulu.
Setelah cukup lama berdiam diri, akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju kamar. Kulihat Xavier telah selesai membersihkan diri dan kembali pada laptopnya seperti biasa.
"Bahkan melirik pun tidak," gumamku miris.
Ku urungkan niatku untuk masuk dan akhirnya pergi ke ruang kerja yang berada di depan kamar.
Aku tahu Xavier tidak ingin melihatku sekarang. Seperti ucapanku saat itu, aku akan menunggu hingga dirinya mau bicara.
Duduk di kursiku, lalu mengeluarkan secarik kertas dari dalam tas. Hasil pemeriksaan itu masih kusimpan. Mungkin akan ku tunjukan pada Rachel dan Argus nanti. Aku tidak ingin menyembunyikannya lagi. Xavier juga sudah mengetahuinya. Aku tidak ingin mereka ikut kecewa karena terlalu berharap.
**
Author PoV
"Jess ... Aku meletakkan obat di laci ruanganmu. Ambillah besok. Jangan lupa meminumnya." Valerie. Notifikasi itu hanya dilihat tanpa disentuh.
Jessie memilih membuka laci yang terkunci dan mengambil bukunya. Kali ini ia tersenyum tipis saat melihat setangkai kecil bunga Baby Breath sudah layu dan mengering. Seseorang itu tidak lagi menggantinya?
"Kau sepertinya tahu hubungan kami sedang tidak baik ya?" Bunga itu layu dan tidak sesegar sebelumnya, seolah menunjukkan keadaan hubungannya dengan Xavier sekarang.
Jessie membuka lembaran baru di bukunya dan mulai menggores tintanya.
Valerie Morgan. Nama itu kini tertulis dalam bukunya.
Kupikir kau akan berubah jika kuberi kesempatan. Namun ternyata kau lebih suka menjadi musuhku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...