
Seorang wanita duduk memeluk lutut dengan tatapan kosong di balik jeruji besi. Setelah tertangkap dan tuduhan terbukti mengarah padanya, dirinya tak mampu melawan lagi.
Saat penyelidikan berlangsung kemaren, orang suruhan Edgar yang datang membuatnya tidak berkutik. Belum lagi saksi yang melihat kejadian tersebut.
Karena kasus pembunuhan tersebut, dirinya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Mengapa demikian? Ia sudah mengira jika hukuman mati akan menjadi akhir hidupnya, namun wanita yang membuatnya tertangkap telah meringankan gugatannya.
"Miss, Morgan. Anda memiliki pengujung."
Valeria langsung mengangkat kepalanya dan berdiri. Ia mengikuti penjaga itu menuju ruangan khusus yang dibatasi dinding kaca bersekat antara tahanan dan pengunjung.
"Lawrence ...," gumamnya.
Valerie duduk dengan kekehan, membuat yang melihat akan mengira ia gila.
"Aku tidak salah lihat, kan?" Wajahnya mencemooh, "kau keluar di hari ulang tahunmu? Kupikir kau akan bersembunyi lagi seperti pengecut!" Tertawa lagi.
Jessie memandang datar.
"Semua sudah terungkap, Val. Aku dengan senang hati akan mendengar alasanmu," ucap Jessie tersenyum, membuat ekspresi Valerie berubah.
Wanita itu memajukan wajahnya, "dua kepribadian yang sempurna. Semua orang akan tahu kau tidak normal!" Brakk! Valeria menggebrak meja, "kau itu gila!"
Jessie tidak menunjukkan reaksi terkejut sama sekali.
"Kau pasti sangat tertekan hingga melantur," ujar Jessie datar.
"Cih! Kau tidak mungkin mengaku." Valerie menjatuhkan dirinya di kursi.
"Valerie ..." Jessie berujar lembut, "aku hanya ingin tahu alasanmu, itu saja. Katakan padaku ya?"
Wanita itu terlihat menggigit bibirnya. "Kau Jessie?" tanyanya.
"Iya, ini aku."
Dengan ragu Valerie akhirnya bicara, "kupikir— kakek, kakek— akan memilihku jika dia mati— daddy juga bilang begitu."
Jessie mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan Xavier? Kau juga penyebab kecelakaannya, kan?" Valerie mengiyakan.
"Why?"
Tiba-tiba wanita itu menatapnya dengan tajam dengan gurat kemarahan.
Jessie tahu, wanita inilah yang sebenarnya tidak normal. Meski memiliki sedikit gangguan, namun Valerie melakukannya dengan sadar saat itu sehingga tidak bisa lepas dari hukuman. Selama ini Valerie belum menunjukkan keabnormalan apapun. Gangguan itu mungkin timbul setelah Valerie dipenjara karena putus asa.
"Karena kalian, kami diasingkan oleh kakek. Pria tua itu bahkan tidak mengenaliku meski aku berdiri disampingmu!" cercanya marah.
"Bukan kami penyebabnya. Ayah dan ibumu melakukan kesalahan yang membuat kakek marah."
Penggelapan dana, pengedar narkoba bahkan percobaan pembunuhan berkali-kali dengan salah satu korbannya adalah orang tuanya.
Keluarga gila!
Sifat mereka akhirnya menurun pada putrinya yang memiliki iri hati sehingga nekat.
Valerie De Lawrence. Mungkin itu yang akan tersemat di belakang namanya sekarang jika kejadian seperti itu tidak pernah ada.
"Mereka tidak salah!" bentak Valerie, "kakek lah yang egois!"
"Jika aku tidak tertangkap, sudah pasti pria tua itu juga mati!"
"Valerie— kau sudah terlalu banyak bicara," ucap Jessie dingin.
"Lawrence!" Wanita itu tiba-tiba berbinar senang, "aku sudah memikirkannya sejak lama. Karena kau temanku— aku menyisakan suamimu sebagai yang terakhir."
"What?" Tubuh Jessie sedikit menegang.
"Lawrence ... Dia juga akan mati!" desisnya tajam, "mari mati bersama," ajaknya gila.
"Mengapa? Mengapa orang-orangku!" tanya Jessie, "kau sudah mengenalku sejak awal, tapi mengapa tidak membunuhku?!" Mata Jessie mengkilat marah.
"Karena mereka rumahmu dan Xavier rumah terakhirmu. Aku tidak perlu susah payah membunuhmu. Jika pria itu mati, kau pasti akan mengikutinya."
Wanita itu mulai menggila dengan tertawa keras dan berteriak, membuat penjaga langsung menyeretnya kembali menyisakan Jessie seorang diri.
Setelah berdiam diri cukup lama, Jessie mulai berdiri. Kakinya terasa lemas dan tubuhnya lelah. Ia berjalan keluar sambil sesekali menopang pada tangannya.
Ini belum berakhir? Xavier! Ya Xavier. Ia harus mencarinya.
Valerie wanita gila itu mungkin telah merencakan sesuatu sebelum tertangkap.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...