De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
I can't—


Beberapa bulan telah berlalu. Wanita itu masih setia menutup matanya dengan dampingan keluarganya. Mungkin sudah enam bulan terhitung sejak kecelakaan itu.


Kamar rawat inap milik Jessie kini diubah seperti kamar pribadi oleh Xavier. Lengkap dengan meja kerja bahkan ranjang oversize agar lebih mudah untuk Xavier tidur di samping istrinya.


Pria itu juga melakukan aktivitas seperti biasa. Bekerja dan pulang, hanya saja tempatnya pulang bukan lagi mansion atau apartemen, melainkan rumah sakit.


Rachel dan Argus juga datang setiap Xavier pergi bekerja. Sesekali keluarga Lawrence juga datang untuk membesuk meski tidak terlalu sering karena Finlandia dan Amerika bukan jarak yang dekat.


"Sudah datang?" Rachel berdiri dari duduknya dan mendekat pada putranya yang baru kembali dari kantor.


Ia mengambil tas kerja Xavier dan meletakkannya dalam lemari, sedangkan pria itu langsung mendekat ke ranjang istrinya dan mencium keningnya.


"Mom membersihkannya?" Saat menyadari kulit Jessie sedikit lembab.


"Hm, aku tahu kau lelah."


"Thanks, lain kali tidak perlu, Mom."


Rachel hanya mengiyakan mengingat pria ini tidak bisa dibantah, termasuk urusan istrinya. Setiap pulang bekerja, Xavier tidak langsung sibuk dengan dirinya. Ia yang akan membersihkan tubuh istrinya sendiri sambil mengajaknya bicara.


Argus sendiri tidak berdaya. Ia ingin membantu soal perusahaan, namun Xavier dengan santai memintanya tenang. Beberapa bulan lalu, akhirnya Argus menyerahkan posisi tertingginya.


Lalu bagaimana dengan perusahaan Lawrence yang kini menjadi tanggungjawab Jessie? Berita kecelakaan Lawrence telah tersebar. Para petinggi menggunakan hal tersebut menjadi alat untuk menjatuhkan wanita itu.


Namun Xavier tidak akan membiarkan istrinya gelisah meski dalam mimpi sekalipun. Pria itu dengan sifat diktator nya telah membungkam mulut orang-orang itu. Siapa yang berani menentangnya? Kekuasaan sudah seperti ujung kukunya.


"Selamat malam," sapa Ellard yang baru datang.


"Malam juga— apa yang kau bawa?" tanya Rachel heran. Sebenarnya tidak perlu bertanya, siapapun tahu itu bunga.


"Untuk apa kesini? Besok kau masih harus ke sekolah," ucap Xavier datar seperti biasa.


"Benar. Aku dan daddymu juga akan pulang," kata Rachel.


"Aku bosan, Mom. Dirumah aku teringat dengannya terus," tunjuknya pada Jessie.


Ellard melangkah menuju vas di sebelah ranjang dan mengganti isinya dengan bunga yang dibawanya.


"Jess pernah bilang ini bisa membuatnya tenang."


Ellard menatap Jessie sejenak. Padahal setelah melihat berita yang sempat menggegerkan, ia hendak menjatuhkan berbagai pertanyaan pada Jessie. Namun berita apa yang ia dapat sungguh melukai dirinya.


Terungkapnya identitas Jessie justru membawa bahaya untuk wanita itu. Lihatlah sekarang bagaimana Jessie menutup matanya. Ia berharap wanita itu segera bangun.


"Ayo pulang," ajaknya pada Rachel dan Argus. Keduanya mengangguk dan pergi setelah berpamitan pada Xavier dan Jessie.


Setelah keadaan hening, barulah Xavier membaringkan tubuhnya di samping Jessie. Pria itu melingkari tangannya di perut sang istri dan menyembunyikan wajah di leher Jessie.


"Bagaimana mimpimu hari ini?"


"Apa ada aku disana?"


"Kau harus bangun dan menceritakan semuanya."


Bisakah aku melepas cahaya ini? Kurasa aku tidak bisa. Aku takut suatu hari nanti mereka memintaku untuk melepasmu. Aku tidak mau— karena kau akan bangun.


-


-


-


-


Ellard menghentikan langkahnya memasuki mobil saat melihat orang yang dikenalinya. Rachel dan Argus menatapnya heran.


"Ellard—"


"Alroy!" teriak Ellard tiba-tiba, kemudian berjalan mendekat kearahnya.


"Alroy?" Kening Rachel mengkerut sambil menatap suaminya yang mengedikkan bahu.


Merasa seseorang memanggil namanya, Alroy segera mencari asal suara. Dilihatnya anak remaja itu mendekatinya.


"Adik mama!" Naomi di gendongannya menunjuk Ellard.


Alroy menurunkan tangan Naomi begitu melihat pasangan paruh baya juga ikut mendekat di belakang Ellard.


"Sedang apa kalian?" tanya Ellard memicing.


"Kami baru mendengar kabar Jessie dari tuan besar." Sudah jelas tujuan mereka kemari.


"Siapa dia?" tanya Rachel pada Ellard.


"Alroy Brendan, Mr dan Mrs. Johansson."


Alroy tentu mengenal dua orang ini. Memangnya siapa yang tidak tahu.


"Alroy? Pemilik rumah sakit di Helsinki?" sanggah Argus.


"Benar, Sir."


"Jadi kau yang membuat Xavier kesal." Rachel memasang wajah tak suka.


Berani sekali pria ini mendekati menantunya!


"Grandma!" sorak Naomi tak tahu kondisi.


Eh siapa ini?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bentar lagi kita pisah huhu ╥﹏╥