
"Aku selalu menepati janji untuk tidak menangis, mom. Lihatlah air mataku yang sudah mengering. Mungkin aku hampir lupa caranya menangis."
Jessie berlutut di samping makam orang tuanya. Hari ini ia kembali berkunjung setelah satu bulan.
Sophia Milen >< Jose Lawrence
Ya, dirinya adalah Jessie De Lawrence. Putri dari Sophia dan Jose Lawrence. Ia juga memiliki satu saudara perempuan yang tidak ingin ia bahas orangnya. Hal itu hanya akan melukai dirinya.
Siapa yang akan mengira jika ia juga bagian dari Lawrence. Austin yang juga merupakan pamannya bahkan tidak mengenali.
Ia bukan pewaris utama, gelar itu adalah milik saudaranya. Namun ia bisa memilikinya dengan memenuhi syarat seperti keluarga yang lain.
Keluarga Lawrence tidak seperti yang orang lain dengar. Di dalamnya penuh dengan para orang-orang munafik yang mengincar tahta Lawrence. Tentu saja demi melindungi calon pewaris, Sophia dan Jose harus menyembunyikan kedua putri mereka.
"Mom, dad ... Sorry karena aku juga menginginkan tahta itu. Aku akan bersujud di tempatnya setelah aku berhasil mendapat kursi miliknya sepenuhnya." Mengelus batu nisan sang ibu.
"Dad ... Kau tidak marah kan jika aku mengambil miliknya?" Menatap nisan sang ayah di samping ibunya.
Jessie bisa memilikinya dengan mudah. Pernikahannya dengan Xavier sangatlah menguntungkan. Inilah mengapa pernikahan yang dilakukan tidak termasuk sia-sia bagi Jessie. Secara tidak langsung, Johansson berada di pihaknya.
Jessie hanya menginginkan satu hal, namun harus melibatkan banyak hal juga. Bolehkah ia egois? Mungkin obsesinya mengalahkan dirinya sendiri.
Setelah terdiam beberapa saat, Jessie teringat dengan bunga yang dibawanya. Ia mengambil sebuket bunga yang ada disampingnya dan meletakkan di tengah-tengah makan orang tuanya.
"Baby's Breath kesukaan mommy. Aku memelihara banyak sekali di halaman belakang mansion kita. Aku juga punya satu di kamarku dan Xavier. Semoga dad juga suka."
Setidaknya berdamai lah disana.
Dengan tersenyum, Jessie berdiri. "Aku harus pergi. Sampai jumpa lagi."
-
-
-
-
"Ada yang bisa saya bantu, Miss?" tanya resepsionis.
Jessie tidak menjawab karena pandangannya sendiri tertuju pada seorang wanita yang baru saja keluar dari lift. Jessie tahu betul siapa wanita itu.
Miranda!
Tanpa memperdulikan yang lain, Jessie dengan santai melewati meja resepsionis menuju wanita itu.
"Pemandangan yang menarik, tapi sayang membuat mataku sakit."
Miranda yang baru saja turun dengan kesal semakin bertambah kesal saat melihat wanita yang menghampirinya.
"Kau—"
Miranda menahan geram. Seperti Jessie, Miranda juga mengetahui jelas siapa wanita ini. Wanita yang telah merebut Xavier darinya!
Sial! Wanita ini memang luar biasa. Tidak heran keluarga Xavier tergila-gila padanya.
Bisa Miranda lihat jika tingkat sosial Jessie sangat tinggi. Wanita itu terlihat seperti seorang bangsawan. Barang dan pakaian yang di kenakan Jessie jelas tidak sebanding dengannya.
"Jaga sikapmu! Meski kau menjadi istrinya, kau tak lebih dari sekedar alat! Dia berjanji akan menikahiku setelah bercerai," desis Miranda mengabaikan semua pemikirannya.
Miranda tak mampu berbuat banyak. Bagaimanapun Jessie memegang kekayaan Xavier. Wanita itu memegang kendali.
Jessie tersenyum, merengkuh kedua pundak Miranda dan membawanya sedikit menjauh dari orang-orang yang penasaran.
"Aku kasihan padamu. Bagaimana jika Xavier tidak pernah menjadi pewaris, maka dia tidak bisa menceraikanku." Jessie memasang wajah sedih.
-
-