
Jessica De Lawrence adalah pewaris utama. Usianya masih tergolong muda untuk saat ini sehingga wanita itu harus mengorbankan sedikit kehidupan nyamannya untuk memenuhi kewajibannya sebagai pewaris.
Ia hidup dalam kebimbangan dan hampir putus asa. Setelah kedua orang tuanya bercerai, Jessica tetap harus menjadi sosok wanita yang kuat demi adiknya, Lawrence. Jangan sampai efek perceraian mereka membawa dampak negatif bagi adiknya yang polos.
Mengetahui jika pernikahan politik yang akan dilakukannya adalah bersama Xavier Johansson, Jessica merasa hampir gila. Walaupun tidak pernah berkenalan secara resmi, tapi ia mengetahui betul pria itu dari cerita Lawrence yang menceritakannya setiap malam.
Pria itu yang menjadi tokoh dongeng pengantar tidur.
Bagaimana mungkin ia merenggut kebahagiaan adiknya sendiri dengan menikahi pria itu. Sebagai pewaris, mereka harus bersedia untuk menjalani pernikahan yang telah diatur.
Mungkin ia tak perlu mengalami ini jika saja Lawrence bersedia menjadi penggantinya dengan syarat gadis itulah yang akan duduk di kursi tahta selanjutnya.
Dengan begitu mereka harus siap dengan segala konsekuensinya. Belum lagi keluarga Lawrence telah dipenuhi dengan intrik dan kelicikan di dalamnya. Lawrence tidak akan bisa menghadapi itu dan Jessica tidak siap jika nyawa kecil itu terancam.
Bagaimana dengan keluarga yang lain? Tuan besar tidak pernah mempercayai mereka. Tak terbayang bagaimana hancurnya reputasi mereka nantinya.
"Aku setuju." Mendengar itu, harapan timbul dihatinya.
"Menikahimu."
Senyum itu lenyap. Harapan dan impian yang ia bangun hancur begitu saja dalam bayangannya.
"Aku tidak bisa melakukannya, Xavier," lirihnya.
"Kalau begitu berikan saja pada yang lain," acuhnya.
Perusahaan itu adalah hasil kerja keras kakeknya selama bertahun-tahun. Jessica tidak bisa menyerahkannya pada orang lain yang berakibat kehancuran dan keserakahan.
Jessica menggeleng, "aku tidak bisa menyerahkannya, tapi aku juga tidak bisa menikahimu." Harapannya hanya pria itu agar bersedia unjuk suara.
"Itu sudah kesempatan dua keluarga! Kakekku tidak bisa dibantah. Sudah pasti akan diberikan pada orang lain jika kita menolak," ungkap Xavier.
"Aku— aku." Jessica dilanda kebingungan, "kita akan menyesal, Xav," lirihnya lagi nyaris berbisik.
Ia yang menyesal karena menyakiti adiknya dan Xavier yang juga akan menyesal karena mengkhianati kekasihnya.
Pria itu menatap sinis. "Mengapa harus menyesal? Kita bisa bercerai setelah itu."
"Kau benar-benar sudah lupa?"
"What?" Xavier mulai jengah.
Sungguh tidak ada satupun wanita yang membuatnya tertarik meski itu Jessica yang terkenal sekalipun di kampus mereka dengan kecantikan dan kepintarannya.
Jika dengan menikah ia bisa memiliki kekuasaan sang kakek, maka Xavier tidak keberatan.
"Dengan Law—" Belum selesai Jessica bicara, seseorang menyebutnya.
"Jessica ..."
Jessica langsung membeku melihat kehadiran adiknya di hadapan mereka. Lawrence mendengar semuanya? No, Jessica tidak mengharapkan itu.
Xavier sendiri menaikkan sebelah alisnya. Gadis ini lagi?
"Membosankan!" cibir Xavier mulai melangkah pergi.
"Wait!" tahan Jessie.
"Apalagi sekarang?" Xavier benar-benar jengah. Berurusan dengan wanita membuatnya lelah!
Jessica sendiri memilih diam di antara mereka.
"Aku tidak bisa mengubahmu lagi, kan?" tanya Jessie dengan wajah sendu pada Xavier, lalu menatap sang kakak, "aku berjanji akan membuatmu menikah, kan?" tanyanya lagi.
"Law—" hendak menyela.
"Kalian pasangan yang cocok! Ku doakan yang terbaik untuk kalian."
"Kau bicara apa?!" Jessica menarik lengan Lawrence.
Xavier mengerjit melihat situasinya. Sangat aneh menurutnya saat ini.
"Maafkan aku. Belakangan ini aku terlalu impulsif padamu. Anggap saja kita tidak pernah bertemu," ujarnya pada Xavier yang menatapnya intens.
"Sudah?" tanya Xavier kemudian, menaikkan sebelah alisnya.
Jessie tersenyum sambil mengangguk.
"Kau akan baik-baik saja setelah ini. Jaga pola makanmu dan kurangi mengonsumsi alkohol. Satu lagi, kau tidak menyukai makanan manis, jadi jangan memakannya."
Pria itu selalu mengikuti apa yang dirinya makan, meski itu sesuatu yang dibenci. Demi memiliki kesamaan dengan gadisnya, ia rela. Namun keadaan sudah berbeda. Jessie hanya mengingatkan untuk berjaga-jaga jika pria itu lepas kendali tanpa sadar.
Sedangkan Xavier sendiri tertegun sesaat. Ini bukan pertama kali gadis dihadapannya ini bersikap sok tahu tentangnya, tapi semua hal itu memang tidak pernah meleset. Hanya masalah makanan manis yang membuatnya yakin jika gadis itu hanya melantur.
Sejak dulu ia memang tidak menyukainya, jadi untuk apa memakannya!
Tak ingin berurusan lagi, Xavier segera pergi dari sana tanpa melihat gadis itu menangis lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...