
Jessie memperhatikan gadis kecil yang sedang makan itu dengan seksama. Sudah hampir setengah jam berlalu setelah kejadian tadi. Gadis itu tiba-tiba meminta makan karena lapar. Untunglah ada pelayan di sekitar sini.
Sesekali Jessie mengecek jam tangannya juga karena tuan besar belum juga datang. Bisa saja la menyusul keluar, tapi anak ini tidak mau melepaskannya sama sekali. Saat bertanya dimana orang tuanya, anak tu menggeleng tidak tahu.
Hal ini membuat Jessie sedikit kebingungan. Sebenarnya apa saja yang ditanyakan Jessie selalu dijawab tidak tahu olehnya. Apa anak ini sengaja?
"Sudah kenyang?" Anak itu mengangguk, lalu meneguk airnya.
"Siapa namamu?"
"Naomi."
"Baiklah, Naomi. Sekarang jujur padaku siapa orang tuamu?"
"Tidak tahu."
"Bagaimana mungkin tidak tahu. Kau tidak boleh berbohong padaku, Girl."
"Mengapa tidak boleh. Aku juga berbohong pada papa," katanya polos.
Oh God! Jessie terperangah.
"See! Kau punya papa!"
Naomi memalingkan wajah
"Naomi punya mama, tentu juga punya papa," cicitnya.
"Aku bukan mamamu." Sesi ini seharusnya telah berakhir.
"Kau mamaku!" Naomi langsung berteriak," Mama jahat!"
Ya Tuhan! Jessie menutup wajahnya dengan kedua tangan, sedang menyiapkan kata kata yang bisa membuat anak ini mengerti. Namun baru akan membuka mulut, tiba-tiba Naomi sudah memeluknya.
"Jangan pergi lagi, Mama. Naomi ingin Mama."
Suara itu terdengar sendu, membuat Jessie menghela nafas pelan. "Mengapa kau berpikir aku mamamu." Jessie melembutkan suaranya sambil mengelus lembut punggung kecil itu.
"Papa bilang Mama di surga. Sekarang Mama sudah datang. Naomi tidak ingin Mama pergi lagi." Tubuh Jessie membeku sesaat. Ternyata seorang anak yang kehilangan ibunya. Tanpa sadar Jessie ikut memeluknya.
Ia tahu rasanya. Pasti sangat menyakitkan bagi gadis kecil ini saat tahu arti perkataan ayahnya. Dirinya masih beruntung tumbuh dengan kasih sayang ayah dan ibunya, tapi gadis ini bahkan belum pernah bertemu dan merasakan kasih sayang seorang ibu.
"Naomi!" Suara itu mengagetkan keduanya.
Seorang pria datang dan langsung mengambil Naomi dari pelukannya.
"Mama! Aku Ingin Mama" Naomi memekik sambil meronta-ronta setelah berpindah tangan.
"Jangan seperti itu, Naomi." Pria itu menenangkan Naomi.
"Dia putrimu?" Jessie belum sadar sepenuhnya.
"Benar."
"Mamaa!" Naomi masih memberontak.
"Dia bukan mama, Naomi!"
"Dia mama! Naomi ingin mama." Gadis itu sudah menangis.
Melihat itu, Jessie dengan tidak sabar kembali meraih Naomi dari gendongan ayahnya. Sakit sekali rasanya mendengar seorang gadis kecil yang menangis karena ingin ibunya.
Sontak saja Naomi langsung menghentikan tangisnya dan memeluk wanita itu kuat dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jessie.
"Jess— Maafkan aku, Jes.”
"Jangan terlalu kasar pada putrimu, Alroy. Dia masih kecil."
Pria itu Alroy Brendan. Pria yang tadi bersamanya di pesta. Jessie tahu jika Alroy memang seorang duda, namun tidak menyangka jika ia juga memiliki putri. Tidak ada berita atau informasi mengenal hal ini.
"Jangan terlalu mempercayainya, Jess. Dia bisa saja menipumu."
Alroy tahu betul seperti apa Naomi. Bisa saja tingkahnya sekarang hanya berakting demi mengambil hati Jessie.
"Begitu?" Seperti benar karena sekarang Jessie merasakan pegangan Naomi mengerat. Gadis ini sedang menutupi kebohongan ya?
"Ada apa ini." Suara berat itu menginterupsi. Keduanya sama-sama menghadap asal suara.
Tuan besar diikuti Edgar mendekati keduanya dengan tenang.
"Sepertinya seseorang telah menemukan ibunya," ucap tuan besar begitu melihat Naomi digendongan Jessie, "dan seseorang tidak perlu mengurusinya sendirian lagi." Beralih menatap Alroy.
"Anda salah paham, Tuan besar. Jessie menatap tajam kakeknya. Belum menyerah rupanya.
"Benarkah? Sir. Alroy nampaknya setuju." Tuan besar tersenyum.
Tatapan Jessie langsung berpindah pada Alroy yang hanya diam.
"Sir. Alroy hanya terkejut, Tuan besar. Benarkan, Sir. Alroy?"
"Iya, benar." Alroy sedikit linglung.
"Anda dengar sendiri, Tuan besar? Jangan berburuk sangka. Lagipula Sir. Alroy telah bertunangan dan Naomi akan segera mempunyai ibunya sendiri." Tuan besar mencibir mendengarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...