De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Sebagai Orang Ketiga


"Kapan kau akan mendapatkan semua warisan itu?" tanya Jessie sambil melepaskan pelukan Xavier perlahan.


Entahlah, Xavier tidak pernah memikirkannya lagi.


"Kau harus memintanya, itu sudah kesepakatan kalian. Dad tidak bisa menahannya lagi." Jessie duduk di sofa dengan pandangan lurus ke depan.


Xavier mengerjit heran. Setelah bersikap bar-bar, sekarang seperti seseorang yang sedang merenung. Cara bicaranya juga aneh. Xavier merasa tidak enak.


"Xav ...," ujarnya pelan.


"Hmm, ada apa?" Xavier tidak tahan untuk tidak mendekat. Ia duduk bersebelahan dengan istrinya ambil menghadap wanita itu.


"Aku bertemu kekasihmu." Jessie menunduk, raut wajahnya terlihat sendu.


Sorot mata Xavier berubah tajam. "Kenapa? Dia mengganggumu," tanya Xavier cepat namun hanya dijawab dengan gelengan olehnya.


"Ada apa? Katakan padaku." Suara Xavier melembut. Belum pernah Jessie memasang wajah sedih seperti ini padanya. Xavier jadi tidak tenang, ingin mengembalikan wajah menyebalkan istrinya.


"Bukan apa-apa." Jessie terus menatap lantai.


Tiba-tiba saja Jessie memeluk Xavier, membuat pria itu dilanda kekhawatiran. Meski begitu, ia membalas pelukan itu.


"Jessie?"


"Dia mengganggumu, kan? Katakan padaku!"


"Tidak. Aku hanya ingin memelukmu. Maaf sudah kasar padamu tadi."


"Jessiee! Aku tidak suka kau seperti ini."


"Kau kan memang tidak menyukaiku."


"Aku serius."


"Aku tahu."


"Jess—"


"Aku sadar diri jika aku hanya orang ketiga. Seharusnya aku memang tidak pernah masuk dalam kehidupanmu," potong Jessie.


"Kau bilang apa?" desisnya. Rahang Xavier mengeras.


"Maafkan aku, Xav. Kau tidak perlu lagi memperlakukan seperti biasa. Aku tidak akan mengganggumu sehingga kau tidak perlu meladeniku."


"Katakan lagi," desis Xavier lagi, menahan diri agar tidak meledak.


Apa yang dilakukan Miranda pada Jessie! Ia akan mengurusnya setelah ini.


Jessie malah mengeratkan pelukannya dan memejamkan mata.


"Aku ingin tidur sebentar. Aku suka saat kau memelukku," gumam Jessie.


Aku ingin tidur sebentar. Aku suka saat kau memelukku ....


Deg!


Apa itu? Jantung Xavier berdetak kencang ketika ucapan yang sama terlintas dipikirannya.


"Jess?"


Wanita ini benar-benar tertidur? Xavier melihat jelas wajah lelah itu tertidur nyaman di sandarannya. Ia tersenyum, mengelus lembut pipi mulus sang istri.


Xavier tidak bisa marah lagi.


Diangkatnya tubuh Jessie dan membawanya menuju kamar istirahat yang disediakan khusus di ruangannya.


"Istirahatlah," bisiknya meski tidak mungkin di dengar Jessie.


Xavier duduk di sisi ranjang, mulai menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Pindahkan Miranda ke tempat lain dan jangan sampai aku melihatnya lagi!" Bangkit dari duduknya setelah meninggalkan kecupan singkat.


Xavier menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menggangu Jessie.


Setelah pria itu pergi, sudut bibir Jessie terangkat disertai matanya yang terbuka.


"Mudah sekali mengelabuinya."


Sejak awal semua hanya drama semata. Wajah sendu? Jessie terkekeh mengingat hal itu.


Konyol!


Miranda hanya wanita yang terobsesi oleh uang. Mudah saja menyingkirkan wanita itu dari kehidupan rumah tangganya. Namun Jessie tidak perlu bersusah payah untuk melakukannya karena ada tangan yang bersedia mengurusnya.


Meski kenyataan wanita itu telah berkencan dengan Xavier, Jessie tidak takut. Bagaimanapun pria itu telah menjadi miliknya, maka orang lain tidak bisa merebutnya kecuali Jessie yang melepasnya sendiri.


"Ada atau tidaknya Miranda, memang sudah seharusnya kau memilihku, Xav. Asal kau tahu aku tidak merasa bersalah sama sekali."


"Sorry ...."


-


-


-