De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Bodoh!


Note: Bonus chapter


Di hari yang sama ....


Brakk!


Keributan hari itu tidak terhindarkan. Laura yang berdiri disana hanya menundukkan kepala berdasarkan isyarat yang diberikan Felix.


Pasalnya Xavier tengah mengamuk dan melempar serta menendang barang-baramg yang ada di ruang tengah apartemen Jessie.


Tempat itu sudah tidak sebaik awalnya. Meja yang terbalik serta pecahan yang sudah berserakan. Untungnya tidak ada barang berharga milik Jessie di tempat itu.


"Mengapa dia melepasnya?" tekan Xavier tajam.


"Jessie selalu melakukannya menjelang hari kematian, seperti menyimpan atau melepas apa saja yang berhubungan dengan keluarganya."


Itu benar. Jessie kembali ke apartemen untuk meletakkan barang yang diberikan ibunya termasuk kalung yang selalu ia gunakan.


Benar, Xavier juga meletakkan alat pelacak di kalung pemberian Sophia. Itu sebabnya Xavier salah mengira keberadaan istrinya.


Jarak apartemen dengan mansion cukup jauh sehingga memakan waktu lama karena berada di luar kota Manhattan sendiri.


"Tuan, anda mungkin tidak akan menemukannya sampai hari besok terlewatkan."


"Dia bersembunyi, heh?" Xavier menyeringai dengan sinis, "memang berani!" Aura dingin dan mencengkram sudah menyebar, membuat Laura dan Felix hanya mampu menghirup udara dingin.


Berdiam cukup lama, Xavier akhirnya bangkit dan berjalan menuju lantai atas.


"Berikan akses masuknya." Mengadahkan tangan pada Laura.


"Tapi, Tuan ..." Laura ragu. Xavier mengangkat sebelah alisnya membuat Laura bergerak cepat memberikan sebuah kartu padanya. Tanpa banyak berpikir, pria itu sudah meninggalkannya bersama Felix.


"Sebenarnya dimana, Nona Jessie?"


Laura dengan wajah jengahnya menahan kesal. "Sudah kukatakan aku tidak tahu!"


Wanita itu duduk di sofa dan menatap sekeliling dengan pusing. Jessie pasti menyadari jika barang-barangnya rusak saat datang nanti meski sudah mengganti dengan yang baru.


Ia mulai mengutak-atik ponselnya untuk memanggil petugas kebersihan dan memesan beberapa furniture baru.


Felix mengela nafas dan ikut duduk di sofa yang sama. Ia sama lelahnya dengan Laura karena kemarahan tuannya.


-


-


Hatinya seperti diremas melihat kehidupan Jessie sebelum menikah. Mengapa Jessie tidak memperbaiki kamar ini seperti wanita itu membuat kamar mereka tampak hidup kembali.


Xavier tersenyum kecut setelah memperhatikan banyak hal dalam kamar itu. Semua yang dilihatnya bertolak belakang dengan apa yang disukai Jessie.


Apa Jessie kesepian?


Xavier terkekeh. Pemikiran apa itu!


Sampai pandangannya menangkap sebuah pintu di sudut ruangan. Bukan pintu walk in closet atau kamar mandi karena pintu itu sudah ada di sisi berlainan. Saat Xavier hendak membukanya ....


Terkunci!


Pintu itu dilengkapi dengan pin. Sudah jelas jika di dalamnya terdapat hal penting. Xavier menatap cukup lama deretan angka di gagangnya. Hingga sesuatu tidak sengaja terlintas dalam pikirannya.


Tangannya terulur, kemudian memasukkan beberapa angka dan ... Ceklek, pintu terbuka.


Dasar ceroboh! Sangat mudah ditebak.


Namun begitu memasuki ruangan itu, Xavier dibuat membeku melihatnya. Ada banyak foto di dinding, bahkan hampir memenuhi ruang yang tidak terlalu besar itu.


Di lantainya terdapat sebuah karpet berbulu dengan satu bantal dan selimut yang terlipat rapi di ujung karpet. Ada jendela besar yang langsung menghadap laut serta tirai tebal yang membuat ruangan menjadi sangat gelap, namun begitu dibuka, cahaya bulan langsung memantul dari luar jendela.


Dengan jantung berdebar kencang, tangan Xavier mengepal kuat dengan gejolak yang tidak bisa digambarkan.


"Kalau kau begitu merindukanku, kenapa tidak datang sejak dulu? Mengapa baru sekarang, hm?"


Ia mengelus salah satu foto yang terjejer rapi di lantai setelah duduk di atas karpet berbulu.


"Lawrence ... Jika kau tinggal sebentar lagi, aku mungkin akan mengingatmu. Tapi kau langsung pergi begitu mendengar penolakanku."


Ia sadar jika ini bukan sepenuhnya kesalahan Jessie. Sifat kerasnya lah yang membuat wanita itu terkadang merasa takut.


Tapi lihatlah banyaknya foto ini. Semua diisi dengan gambar mereka sebagai kekasih. Foto kebersamaan mereka yang membuat Xavier semakin merindukan wanita itu. Wajah ceria dan gembiranya, hanya Jessie yang berhasil menarik perhatian dahulu.


Seharusnya ia kesal dan membenci wanita yang menyebalkan baginya. Wanita itu terlalu cerewet, kekanakan dan cengeng! Namun entah mengapa ia bisa tertarik.


Ia terkekeh miris sambil memeluk figura tersebut. Ia ingin segera menemukan istrinya dan memeluk wanita itu sangat erat sehingga yang Jessie rasakan hanyalah cinta dan rasa sayangnya.


Tidak! Seharusnya ia melakukannya sejak melihat surat pemeriksaan itu. Bukan hanya dirinya, istrinya juga pasti terpukul dengan kenyataan tersebut.


Bodoh!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...