
"Kau bilang pria itu melupakan wanitanya. Bagaimana bisa bahagia?!" Xavier tidak terima.
Wanita itu seharusnya bersedih, kan? Apalagi Xavier sempat mendengar jika keduanya saling mencintai sampai pria itu melupakannya.
"Bahagia tidak harus bersama, kan!" Jessie kesal.
"Oh iya? Kau yakin? Cih! Cinta macam apa itu!" cibirnya membuat Jessie semakin kesal.
"Kau sendiri yang ingin dengar!" Jessie membangunkan Xavier agar turun dari pangkuannya.
Jessie langsung merebahkan tubuhnya. Menarik selimut dan berbaring membelakangi Xavier.
"Kenapa kau jadi marah?"
Hell! Memangnya siapa yang mulai?
"Ceritakan lagi," pintanya tanpa rasa bersalah, "kau belum selesai!" Xavier merapatkan tubuhnya dan memeluk Jessie.
"Tidak akan!"
"Tidak boleh membantah suami, Jess."
Ck! Ucapkan saja terus! Jika ku bilang tidak boleh menyelingkuhi istri, bagaimana?
"Jessie ..." Tidak ada jawaban.
Keadaan hening sesaat. Xavier mengangkat kepalanya, memastikan apakah istrinya tertidur. Rupanya belum. Jessie hanya menatap keluar jendela dengan pandangan menerawang.
Xavier melayangkan kecupan singkat di pipinya karena gemas. "Baiklah, tidur saja." Menaikkan selimut istrinya dan memeluknya kembali. Baru akan memenjamkan mata, suara Jessie menahannya.
"Dia hanya gadis manja dan keras kepala. Dia suka mengeluh dan cengeng." Jessie tiba-tiba bicara, "dan aku tidak menyukainya!" Tangan Jessie mengepal. Suaranya seperti menahan sesuatu. Semua terlihat oleh Xavier.
Pria menggenggam tangan Jessie yang mengepal, memasukkan jarinya di sela-sela jari Jessie.
"Aku tidak ingin mendengarnya lagi." Xavier menyembunyikan wajahnya di tengkuk Jessie.
"Meski begitu, pria itu memilihnya. Dia bilang cinta artinya menerima. Entah itu baik atau buruk. Itu membuat sifat manja dan kekanakan gadis itu semakin menjadi." Jessie tetap melanjutkan ceritanya. Entah apa yang membuat pria itu tertarik dengan gadis seperti itu.
"Jika dia lebih dewasa, dia mungkin tidak perlu kehilangan prianya."
"Apa yang terjadi?" Tanpa sadar Xavier bertanya.
"Pria itu hampir mati karenanya. Demi keinginan bodoh gadis itu!"
Pria itu kecelakaan. Gadis itu hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, menatap kekasihnya dari pintu ruang operasi dengan tangan menggenggam berharap Tuhan masih memberinya kesempatan.
Operasi berjalan lancar, namun sang pria telah melupakan sebagian ingatannya termasuk gadisnya akibat cedera otak yang ia alami.
"Gadis itu menyerah?" tanya Xavier lagi. Xavier tidak berharap cerita selanjutnya mengatakan jika gadis itu meninggalkan pria itu karena kondisinya atau karena rasa bersalah.
"Itu bukan salahnya. Pria itu mencintainya. Sudah seharusnya dia melindungi gadis itu." Xavier menjawab sendiri pertanyaannya seperti sudah mengetahui cerita selanjutnya, namun Jessie tersenyum mendengar ucapan Xavier.
Entahlah. Mungkin Jessie hanya bisa menyebutnya dengan menyerah.
"Hanya segitu perjuangannya? Pria itu hampir mati untuknya, tapi gadis itu malah pergi." Xavier kesal.
Benar, gadis itu memang payah! Tapi juga tidak ada gunanya gadis itu disana.
"Xavier, bagaimana perasaanmu ketika bertemu pertama kali denganku?" Jessie membalikkan tubuhnya menghadap Xavier.
"Untuk apa menanyakan itu?!" Entah mengapa Xavier tidak ingin mengingatnya. Sifatnya sangat buruk saat itu.
"Kau membenciku, kan. Kau menatapku tidak suka seperti menatap kotoran. Belum lagi aku yang akan menjadi istrimu," kata Jessie terdengar mengejek.
"Apa yang kau katakan!" Xavier tidak suka mendengarnya.
"Mungkin seperti itu reaksi pria itu, Xav. Sekarang gadis itu adalah orang asing baginya, bukan kekasih yang pernah ditatapnya dengan cinta."
Sekarang di mata pria itu, keberadaannya tidak lagi diinginkan.
Xavier terdiam. Dalam hati ia juga membenarkan.
"Pria itu sangat dingin saat pertama kali. Dia tidak suka di dekati wanita selain ibunya. Dia keras kepala dan kasar. Ucapannya juga sering melukai orang," jelas Jessie.
"Menurutmu bagaimana reaksinya jika gadis itu datang dan mengaku sebagai kekasih yang di lupakan?"
Meski gadis itu pernah mencoba, berharap keajaiban muncul. Tapi dirinya bagaikan orang asing yang ditatap tidak suka.
Namun bukan itu yang membuat gadis itu menyerah. Pria itu mungkin akan lebih baik tanpa bersamanya. Wanita yang akan cocok dengan pria sepertinya. Bukan wanita yang hanya bisa merepotkan dan membahayakannya.
Dia butuh seseorang yang lebih baik.
"Itu yang kau bilang akhir bahagia?" Xavier tersenyum sinis.
"Iya."
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu." Xavier menggeleng heran. Jika itu terjadi padanya, apa Jessie juga akan berbuat sama? Mengapa rasa takut itu tiba-tiba muncul.
"Pria itu sudah baik-baik saja sebelum bertemu gadis itu. Lagipula dia kehilangan ingatannya, tidak ada yang perlu ia pikirkan."
"Lalu si wanita?" cerca Xavier.
"Dia juga baik-baik saja. Gadis itu selalu mengawasi kekasihnya. Sudah cukup membuatnya bahagia."
Mungkin.
Dan menjadi bayangan, batin Jessie.
"Terdengar naif!"