
Setelah rapat panjang tanpa kehadiran Jessie, Valerie menelungkupkan kepalanya di atas meja, berniat tidur sebentar. Tapi ketukan pintu membuatnya mau tak mau kembali mengangkat kepala dengan senyum terpaksa.
"Masuk!" katanya.
Wanita dengan senyum menawan dengan postur tubuh anggun masuk dan berdiri di depan Valerie.
"Miss. Morgan, ini laporan bulanannya." Valerie merasa terpesona melihat senyuman itu, namun tak lama ia menggeleng.
Sadar, bodoh!
"Thank, Mrs. Laura." Valerie membalas senyum, "duduklah sebentar, sudah lama kita tidak mengobrol," ajaknya.
Laura tersenyum mendengarnya, lalu duduk menghadap Valerie. "Dimana Jessie? Aku tidak melihatnya seharian ini," tanyanya.
"Dia bilang tidak enak badan," jawab Valerie seadanya, "ada apa?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin bicara sebentar, seperti biasa."
Valerie terdiam menatapnya. "Bukan masalah pernikahan, kan?" Sedikit gugup.
Laura terkekeh pelan. "Kau terlihat gugup, Val. Tidak bisakah kau tutupi sedikit." Mendekatkan wajahnya, "kau tidak berpikir aku akan mengacaukan pernikahannya, kan?"
"Tentu tidak." Valerie berdehem menetralkan ekspresinya, "aku lebih mengkhawatirkan pernikahanmu."
"Ada apa dengan pernikahanku?" Laura tertawa.
"Jangan tertawa! Kau membuatku takut."
Laura adalah wanita perfeksionis, menjabat sebagai kepala divisi bagian keuangan. Wanita ini bisa menjadi menyeramkan di situasi tertentu.
"Kau berlebihan, Val."
"Aku ini sangat setia. Berhenti berpikir aku akan merebutnya! Lagipula aku akan bertahan dengan suamiku."
"Buktikan saja ucapanmu itu," ucapnya. Laura langsung menatapnya tajam.
"Kau berani mengucapakan itu padaku?!" desisnya. Valerie menggeleng kuat seraya tertawa pelan.
"Aku bercanda, Mrs. Kau jangan menganggap serius."
"Baguslah. Lebih baik kau usir Austin diluar. Wajahnya membuatku kesal." Mengibaskan rambutnya, kemudian beranjak keluar.
Raut wajah Valerie langsung berubah.
"Posisiku sekarang benar-benar tidak berguna!" Setelah Laura menghilang.
Diantara Jessie dan Laura, dirinya memiliki posisi kedua di perusahaan setelah Presdir dan CEO. Tapi lihat sekarang? Tidak berguna di depan kedua orang itu.
"Kembalilah ke posisi kalian! Jangan libatkan aku terus!" teriaknya, "tenang Val. Selesaikan sir. Austin dulu." Mengatur nafasnya naik turun.
Jessie berdiri di depan jendela kamar. Di depannya terdapat sebuah vas bunga pemberian Rachel beberapa saat lalu.
Jessie menyentuh sebiji bunga Baby's Breath tersebut tanpa emosi di wajahnya. Bunga itu sama persis dengan milik ibunya yang dirawat baik hingga saat ini di mansion mereka.
Sampai hari ini Jessie tidak mengerti mengapa sang ibu begitu konyol memelihara bunga bermakna cinta sejati dan tulus tersebut padahal hubungan dengan sang ayah tidak seperti yang digambarkan.
"Jika kau bisa menjadi penawar kutukan keluargaku. Aku akan mengakuimu," ucapnya pada bunga itu. Terdengar aneh memang berbicara pada sebuah tanaman.
"Cinta dan ketulusan saja tidak berguna saat seseorang sudah melupakan kau tahu?"
Jessie memetik setangkai kecil, membawanya menuju ruang kerja miliknya di sebelah kamar mereka. Tentu saja ruang kerja pribadi. Xavier memiliki ruangannya sendiri.
Begitu sampai, Jessie mengambil sebuah buku yang masih terawat di laci meja kerjanya. Ia meletakkan setangkai bunga itu disana, menempelnya dengan rapi di samping sebuah foto di dalam buku.
"Disini tempat paling cocok untukmu di rumah ini. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Dulu ... jauh sebelum pria itu melupakan wanitanya."
Seiring berjalannya waktu, bunga itu akan mengering, kemudian mati. Lalu hanya tersisa serpihan-serpihan yang akan menjadi debu dan terbawa angin. Setelah itu bekasnya tidak akan terlihat lagi.
"Tidak ada yang abadi, termasuk cinta. Meskipun aku melihat banyak cinta pada orang lain, nyatanya mereka akan berpisah. Entah karena perasaan itu hilang atau karena kematian," ucapnya lagi.
Pada akhirnya semua hanya akan menjadi cerita, kenangan dan masa lalu, sama seperti yang ada di buku ini.
Jessie menutup perlahan buku tersebut, di iringi dengan seulas senyum tipis dan meletakkan kembali pada tempatnya. Menatap cukup lama buku yang tersimpan rapi itu, perhatiannya perlahan tertuju pada dua amplop kecil yang juga tersusun rapi disana.
Dua amplop itu masih tersegel tanpa pernah dibuka. Benda itu juga merupakan salah satu hadiah ulang tahun terakhir dari orang tuanya selain liontin miliknya.
"Sebenarnya apa yang kalian tulis disana? Kenapa aku merasa takut untuk membukanya, seolah itu akan membuatku menyesal seumur hidup."
Tak ingin memikirkan lagi, Jessie segera menutup laci dan menguncinya.
-
-
-
-
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada orang?