
Notifikasi pesan masuk di ponsel Xavier.
Felix
"Tuan! Saya menemukan fakta baru! Anda ternyata pernah satu kampus di Finlandia dengan nona Jessie dan nona Valerie. Ada juga nona Laura yang sekarang menjabat sebagai kepala departemen keuangan."
Laura wanita tadi, kan? Xavier sempat melihat name tag nya.
Felix juga mengirim beberapa file berupa informasi ketiga orang itu dan langsung dibaca oleh Xavier.
Really?
Xavier lantas menatap istrinya memincing.
"Why? Masih kurang?" tanya Jessie saat menyadari tatapan suaminya. Tanpa menunggu jawaban, Jessie mengambil beberapa lauk dan diletakkan di mangkok Xavier.
"Aku tahu siapa Lawrence," ucap Xavier tiba-tiba.
Jessie dan Rachel yang sama-sama hendak menyuap makanannya langsung terhenti dan saling menatap.
"Siapa?" tanya keduanya serentak sambil menatap Xavier.
"Mrs. Laura!"
Jessie dan Rachel kembali bertatapan. Saling bicara lewat mata yang hanya keduanya ketahui.
"Mengapa dia?" Lagi-lagi Rachel dan Jessie serempak.
"Dia satu-satunya wanita yang berani bergerak bebas di perusahaan. Jabatannya pas dan tidak mencolok. Yang utama, kalian sangat dekat!" kata Xavier yakin.
Belum lagi ketiganya berasal dari kampus yang sama. Sedangkan Jessie dan Valerie adalah kaki tangannya. Dan Laura? Apa peran wanita itu. Identitasnya sedikit mencurigakan.
Jessie hanya menghela nafas. Tidak tahu mengapa Xavier tiba-tiba membahas tentang Lawrence.
"Soal siapa Lawrence itu bukan hal penting, Xav."
"Benar, lagipula tidak ada hubungannya denganmu." Rachel ikut menimpali.
"Aku sudah bilang ingin bicara dengannya, kan? Kau lupa?"
Jessie menggigit sendoknya seraya berpikir.
"Tidak usah sok berpikir! Aku tahu kau ingat," hardiknya, membuat Jessie berdecak.
Brak! Jessie meletakkan sendoknya dengan kasar di atas meja hingga Rachel dan Xavier tersentak.
"Lalu kenapa?! Kau ingin protes padanya mengapa aku yang menikah denganmu dan bukan dia! Begitu?" Suara Jessie meninggi.
"Je— Jes?" Rachel tidak percaya apa yang dilihatnya. Wanita ini sedang meledak?!
"Jangan menyela, Mom! Aku hanya seperti balon yang memiliki permukaan tipis dan sensitif terhadap benda tajam."
"Aku tidak bilang begitu!" bantah Xavier. "Sebenarnya kau yang sedang datang bulan, bukan aku."
Tidak seperti biasanya Jessie meledak-ledak seperti ini. Apa ia kerasukan?
"Baik! Tunggu disini. Biar aku seret Lawrence ke hadapanmu." Jessie hendak berdiri, namun Xavier menahannya.
"Kau gila! Kau tidak takut dia mendengar ucapanmu?" Bukan berarti Xavier takut pada wanita bernama Lawrence itu. Ia hanya tak ingin Jessie terkena masalah karena melawan atasannya.
"Ish!" Rachel menendang kaki Xavier dibawah meja, "kau juga untuk apa mengurusi orang lain! Urus saja istrimu!"
"Iya! Maafkan aku, ok?" Xavier memilih menyerah saja karena ia sedang bersama dua wanita yang memiliki slogan tak terbantahkan.
Wanita selalu benar!
"Sebaiknya simpan saja yang kau ketahui, Xav. Tidak baik jika ada seseorang yang tahu." Rachel memperingati pelan.
"Mom juga tahu?"
"Tahu atau tidak, itu bukan urusanku!" Secara tidak langsung mengatakan iya.
Sebenarnya Xavier juga tidak peduli. Hanya saja ia ingin memastikan jika wanita yang bernama Lawrence itu tidak ada hubungannya dengannya.
"Aku hanya kepikiran tentang gadis itu," gumam Xavier menyandarkan tubuhnya di sofa makanannya tandas. Jessie menoleh mendengarnya.
"Gadis apa?" tanya Rachel.
"Bukan apa-apa, Mom." Jessie menjawab.
"Sudahlah. Kalian lanjutkan saja. Aku mau pergi berbelanja. Jika ada waktu, ayo pergi bersama."
"Of course!"
Setelah membereskan tempat makan mereka, Rachel pamit pergi. Jessie ikut mengantar hingga lobby.
"Hati-hati, Mom."
"Hmm. Jaga kesehatanmu. Jangan pikirkan apapun yang membebanimu." Menepuk pelan lengan menantunya.
Jessie tersenyum tipis. Rachel memang selalu tahu keadaannya.
-
-
-
-
-