
"Bagaimana bisa menyebar secepat ini?! Apa yang Jessie lakukan!"
Sejak bangun Rachel memang sudah tidak tenang. Perasaannya selalu berlarian pada menantunya itu. Benar saja, saat menemukan secarik kertas berisi pemeriksaan, Rachel menjadi syok.
Ia ingin mendengar penjelasan wanita itu langsung, tapi ternyata Jessie sudah keluar dari kediaman sejak subuh berdasarkan kesaksian penjaga gerbang.
Nomor ponselnya pun tidak bisa dihubungi sama sekali yang ternyata ponsel milik Jessie berada di kamar. Artinya Jessie pergi tanpa membawa ponselnya. Entah terlupa atau sengaja ditinggalkan.
"Sebaiknya susul Jessie secepatnya. Seluruh media sudah menyiarkan tentang Lawrence!" hardik Rachel.
Wajah Jessie telah muncul di pencarian teratas. Berita mengejutkan sekaligus menggemparkan dalam dunia bisnis dan media massa. Tidak menyangka jika orang yang selalu berhadapan dengan mereka adalah wanita yang selama ini menjadi pencarian terpanas.
"Tuan besar pasti ikut andil. Beritanya sudah menyebar kemana-mana. Identitas Jessie tidak lagi ditutupi, kecuali tentang pernikahannya," ujar Argus.
"Xavier!" bentak Rachel kemudian pada putranya yang ia anggap bodoh.
"Aku sedang mencarinya!" Xavier sibuk mengutak-atik laptopnya.
"Perusahaan! Dia pasti disana."
"Dia sudah pergi. Tidak ada disana."
"Bagaimana ini?" Air mata Rachel tak berhenti mengalir.
Ia kembali teringat kejadian lima tahun lalu saat Jessica mulai muncul ke media dan hari itu adalah hari terakhirnya ia melihat dunia. Ia takut hal yang sama terjadi pada menantunya itu.
"Tenanglah, Rachel!" kata Argus.
"Tenang bagaimana?! Kau lupa apa yang terjadi pada Jessica!"
"Aku akan membunuh mereka semua jika itu terjadi," sahut Xavier dingin.
"Kau dimana, Jess. Mom tidak peduli dengan riwayatmu. Aku hanya ingin kau pulang!" Rachel terus berdoa.
"Mom!" Xavier meninggikan suaranya, "berhenti membuatku khawatir!"
"Kertas sialan!" umpat Xavier.
Semua sebab kertas lembaran itu. Jessie pasti berpikiran yang tidak-tidak karena sikapnya. Ia syok dan butuh waktu untuk menerima kenyataan tersebut. Saat bangun ia tidak lagi melihat istrinya dan Felix memberinya berita mengejutkan.
"LAWRENCE! KAU MASIH SAJA KERAS KEPALA!" bentaknya, membuat Rachel dan Argus tersentak heran.
"Kau panggil dia apa?" tanya Rachel.
"Kau berani meninggalkanku lagi kali ini, habis kau!" desisnya, mengabaikan pertanyaan Rachel.
Seringaian Xavier muncul setelah beberapa saat dengan matanya menyorot tajam pada laptop di depannya.
"Ketemu kau!"
Meski meninggalkan ponsel beserta cincin yang dipasang alat pelacak, Jessie tidak mungkin melepas kalung pemberian ibunya, kan? Xavier sudah memperhitungkan semuanya. Jessie terlalu licik untuk dianggap sepele. Xavier harus menyiapkan banyak hal untuk menjerat wanitanya. Termasuk memasang banyak alat pelacak lain pada tempat yang tidak diduga istrinya.
"Ayo!" Felix segera mengekori tuannya.
-
-
-
-
Mereka terus saja mencoba bicara meski tenggorokan terasa begitu mencekat keduanya.
"Seperti apa rasanya ... Berbaring disana dengan akhir menyedihkan," dinginnya.
Jessie mendekat perlahan. Tangannya mulai menyentuh selang-selang medis dan mengelusnya dengan kilatan amarah di matanya.
"Besok adalah hari ulang tahunku. Kalian tidak ingin memberi hadiah?"
Dua orang yang terbaring itu berusaha bergerak meski tidak bisa. Kelumpuhan otot membuatnya keduanya lumpuh total. Keduanya di riwayatkan dengan gangguan bicara dan saraf yang bermasalah. Secara sekilas, mereka seperti penderita stroke dengan bibir melengkung ke samping.
Melihat wajah cantik yang satu tahun ini membuat mereka menderita, keduanya menjadi tidak tenang.
"Bersyukurlah putri kalian hanya kubiarkan hidup dalam penjara! Seharusnya dia juga ikut berbaring dengan kalian, kan. Sayangnya, dia sendiri tidak peduli dengan orang tuanya."
Jessie mulai duduk bertompang dagu dengan sandaran kursi sebagai penompangnya.
Pasangan paruh baya itu menggeleng dengan air mata yang mengalir.
"Why? Aku tidak kejam. Ini namanya membalas budi!"
"Aku iri padanya." Jessie memasang wajah iba, "satu keluarga yang saling mencintai ... bahkan menjadi pembunuh bersama-sama!"
"Orang tuaku dibunuh oleh orang tuanya, lalu kakak tersayangku dibunuh olehnya. Itu sangat manis! Kerja sama keluarga yang luar biasa." Jessie tertawa sambil bertepuk tangan.
"Empphhh! Emphhh ...."
"Bicaralah yang jelas! Aku tidak dengar." Jessie meninggikan suaranya seraya bangkit dari duduknya. Ia mendekatkan telinganya pada wajah mereka.
"Apa? Kalian ingin mati?" Jessie pura-pura terkejut.
"Menangis saja. Aku suka melihatnya." Jessie menyeka wajah sayu dengan tatapan memohon
Itu.
"Emphhh ...." Mereka menggeleng.
Melihat itu, Jessie menjatuhkan tubuhnya kembali pada kursi dan menatap kosong kedepan.
"Aku hampir salah paham dengan keluargaku. Aku tidak menyangka jika pelakunya adalah orang yang sangat dekat denganku."
"Bibi, Paman, Valerie sudah seperti keluargaku. Itu sebabnya aku mengundangnya di hari pernikahan sebagai satu-satunya keluarga yang ku punya."
"Emphh." Air mata terus mengalir di wajah sayu itu.
"Mereka semua akan membenciku setelah ini, kan?" Jessie menatap keduanya.
"Aku berjanji akan kembali pada suamiku, tapi jika dia masih bersedia menerimaku."
Mendekat sekali lagi, keduanya kembali memberontak tertahan.
"Selamat tinggal, Paman dan Bibi. Bersujudlah pada orang tuaku di atas sana," bisik Jessie.
Ia menarik selang-selang yang terpasang di monitor. Tidak lupa selang pernapasan yang membantu pasangan itu tetap hidup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...