
"Mom hanya ingat kau hampir mati," jawab Rachel santai. Xavier berdecak kesal.
"Aku serius, Mom!"
"Baiklah. Apa?" Rachel memperbaiki posisinya.
"Ceritakan tentang kecelakaan itu," pinta Xavier.
Rachel mengerjit heran. "Mengapa bertanya padaku. Seharusnya kau lebih tahu."
"Aku tidak begitu ingat lagi."
Ya, ia memang tidak ingat bagian itu.
"Apa lagi yang tidak kau ingat?" tanya Rachel penasaran. Bukankah dokter bilang semua normal? Hanya cedera otak pasca kecelakaan. Setelah beberapa waktu akan baik-baik saja.
"Hanya itu."
Mungkin, batinnya ragu.
"Ceritakan saja, Mom!" desak Xavier.
"Iya! Aku sedang mengingat."
"Mom tidak tahu detailnya karena Mom tidak menyaksikan sendiri, tapi seorang gadis yang memberitahuku dan dia juga yang membawamu ke rumah sakit."
Tubuh Xavier menegang. Gadis?
"Apa dia— dia kekasihku?" gugupnya.
Rachel spontan tertawa. "Tentu saja bukan! Gadis itu hanya kebetulan ada disana dan membantu." Rachel ingat betul kejadian itu. "Kau bahkan tidak menyukai wanita," lanjutnya masih tertawa.
"Syukurlah." Xavier menghela nafas lega.
"Memangnya kenapa?"
"Bukan apa-apa," jawab Xavier. Rachel mengangguk.
"Tapi Mom penasaran. Sejak kapan kau menyukai es krim?"
"Es krim?" Apalagi ini? Xavier menjadi kalut kembali.
"Iya, ada sekantong plastik es krim di temukan dalam mobilmu. Kebetulan kecelakaan mu di dekat swalayan. Mungkin kau dari sana dan tidak melihat mobil lain saat menyeberang," jelas Rachel.
Jantung Xavier berdetak kencang. Cerita tak masuk akal dari sang ibu membuat kepalanya berdenyut sakit. Mengapa bisa ada es krim di mobilnya? Dan sejak kapan dia pergi ke swalayan sendiri?
Jujur saja Xavier tidak pernah menginjakkan kaki di tempat seperti itu karena semua kebutuhannya sudah diurus oleh kepala pelayan.
Mungkinkah ....
Tidak, tidak! Cerita Jessie bahkan tidak ada hubungannya dengannya. Untuk apa ia takut. Semua hanya kebetulan mirip saja.
"Mom ..."
"Hmm?"
"Mom ingat siapa yang menolongku?" Satu pertanyaan saja.
"Tentu. Mom tidak mungkin lupa."
"Siapa?" Xavier bersiap memantapkan diri.
"La—"
Xavier memejamkan mata sabar saat ucapan Rachel terpaksa terpotong karena kedatangan seseorang.
"Jessie!" Rachel berdiri senang dan langsung memeluk menantunya itu.
"Sejak kapan Mom disini?" tanya Jessie, "kau juga?" Menatap suaminya.
"Sejak tadi. Valerie bilang kau ada rapat, itu sebabnya aku menunggu disini. Kebetulan kita bertiga disini. Mom memasak makan siang untukmu." Membawa Jessie duduk di sampingnya.
Xavier terperangah melihat tingkah ibunya.
"Mom! Aku saja tidak pernah kau bawakan makan siang. Dan apa-apaan ini? Sebenarnya siapa anakmu!" kesalnya.
"Diamlah. Kau sudah dewasa, tidak usah manja! Jika lapar, pergi makan."
"Ck!" Xavier berdecak, lalu melihat istrinya yang menahan tawa.
"Tertawa saja! Tidak perlu ditahan," ketusnya.
"Kau sedang datang bulan? Sensi sekali." Tapi tak urung tangannya menyiapkan makan untuk Xavier.
Jessie lupa jika ia tidak datang sendiri. Ada wanita lain yang masih berdiri menyaksikan keharmonisan keluarga itu. Ya begitulah yang ada dipikirannya.
"Ekhem!" Ketiganya menoleh serempak.
"Oh God! Laura. I'm sorry." Jessie berdiri dari duduknya mendekati Laura.
"Maaf, aku tidak melihatmu," sesal Rachel.
"No, I'm okay! Santai saja."
"Makanlah bersama kami," ajak Jessie.
"Thanks, Jess. Aku akan makan dengan Valerie saja." Laura menepuk-nepuk pelan pundak Jessie dan pergi.
Sebenarnya Laura tidak nyaman saat pandangannya bertemu dengan Xavier. Pria itu menatapnya seperti ingin mengulitinya, tajam seperti ingin membongkar isi kepalanya.
Jessie mengikuti Laura keluar, tidak lupa menutup pintu.
"Dia lebih menakutkan dari yang kubayangkan."
Sial! Laura menciut.
Jessie terkekeh. "Itu pria yang pernah kau suka."
"Tidak perlu dibahas!" Laura tidak ingin mengingatnya.
"Terserah, aku juga tidak peduli, asal kau tidak menggangu saja." Jessie pergi begitu saja meninggalkan Laura yang ingin menjawab lagi.
"Aku tidak sejahat itu!"
-
-
-
-
-